Yang Mungkin Anda Lewatkan dari Sepakbola Indonesia Sepekan Terakhir: Kongres PSSI & Awarding Night ISC

Pada Minggu (8/1) lalu bertepat di Hotel Aryaduta, Bandung, sebuah momen besar terjadi dalam sepak bola Indonesia. Momen itu adalah Kongres Tahunan PSSI 2016. Dan pada kongres itu pula kemudian muncul banyak momen serta hal penting bagi sepak bola ke depannya. Apa saja?

1. Persebaya dan 6 klub lain "dibebaskan"

Salah satu agenda penting pada Kongres PSSI kemarin adalah membahas pemulihan hak anggota tujuh klub yang selama enam tahun terakhir dicabut keanggotaanya oleh PSSI. Tujuh klub itu adalah Persebaya Surabaya, Arema Indonesia, Persema Malang, Persewangi Banyuwangi, Persibo Bojonegoro, Persepasi Bekasi, dan Lampung FC.

Dan pada Kongres minggu lalu, akhirnya status tujuh klub itu kembali dipulihkan. Yang paling spesial tentu adalah Persebaya. Seperti yang kita tahu, lepasnya hukuman yang diberi PSSI itu juga tak lepas dari perjuangan suporter mereka, Bonek. Bahkan ketika kongres itu diselengarakan, para Bonek juga turut serta ke Bandung untuk mengawal tim kesayangannya.

Perjuangan Bonek yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan hak-hak Persebaya akhirnya terbayar tuntas. Dan mereka memang layak mendapatkannya. Selain itu, yang lebih spesial lagi, pada kompetisi tahun 2017 nanti, Persebaya akan ditempatkan di kasta kedua Liga Indonesia atau yang biasa disebut dengan Divisi Utama.

PSSI sendiri menempatkan Persebaya di Divisi Utama dengan alasan, Bajul Ijo termasuk sebagai lima klub legenda Indonesia bersama Persib Bandung, Persija Jakarta, PSM Makassar, dan PSMS Medan. Sementara itu, enam klub lain yang statusnya telah dipulihkan pada kongres akan memulai kompetisi 2017 dari ajang Liga Nusantara.

2. Sanksi Djohar Arifin dan 6 orang lain dicabut

Tak hanya mencabut sanksi dan memulihkan hak keanggotaan klub, PSSI pada kongresnya kemarin juga mencabut sanksi atas tujuh orang mantan ketua umum dan komite eksekutif mereka. Ketujuh orang itu adalah Djohar Arifin, Bob Hippy, Sihar Sitorus, Tuty Daud, Mawardi Nurdin, Wdodo Santoso, dan Farid Rahman.

Seperti diketahui, Djohar Arifin dan enam eks anggota komite eksekutif di bawah kepemimpinannya pada dua periode PSSI lalu sempat disanksi larangan beraktivitas seumur hidup dalam dunia sepak bola. Ketujuh orang itu dihukum pada saat PSSI era La Nyalla Mattalitti karena dianggap melanggar kode etik.

3. ISL 2017, banyak wacana perubahan

Salah satu agenda penting lain dalam Kongres PSSI 2017 lalu adalah soal perencanaan kompetisi. Kompetisi pada tahun 2017 ini memang merupakan momen penting dalam sepak bola Indonesia karena kompetisi ini akan menjadi kompetisi resmi pertama bagi PSSI pasca-pencabutan sanksi dari FIFA.

Untuk kompetisi 2017 kelak, nama yang digunakan akan kembali sama seperti kompetisi resmi sebelumnya. Yakni Indonesia Super League (ISL) untuk kasta tertinggi, Divisi Utama untuk kasta kedua, dan Liga Nusantara untuk kasta ketiga. Untuk format, PSSI justru meniru format kompetisi tak resmi pada 2016 lalu, yakni kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC).

ISL 2017 akan berformat seperti ISC A 2016 yakni memakai format liga dengan berisikan 18 klub peserta. Sementara untuk Divisi Utama juga masih meniru sistem kompetisi ISC B. Yakni menggunakan format grup per wilayah. Tapi yang menjadi pembeda adalah kali ini peserta bertambah dari 59 menjadi 60, menyusul bergabungnya Persebaya Surabaya.

Sementara untuk Liga Nusantara juga masih akan berformat grup per wilayah seperti sebelumnya. Tambahan hanya dari enam klub yang statusnya telah dipulihkan. Yang menarik justru memang melihat regulasi dari ISL dan Divisi Utama, khususnya perihal pemain.

Pertama soal pemain asing, PSSI berencana menerapkan sistem 2+1. Itu artinya, dua pemain asing yang dikontrak setiap klub ISL boleh berasal dari benua mana saja. Namun satu pemain lagi dipastikan harus berasal dari Asia. Jumlah tiga pemain asing per klub ini berbeda dengan regulasi pada ISC A di mana setiap klub memiliki jatah empat pemain asing dengan catatan satu dari Asia.

Untuk ISL pula, setiap klub diwajibkan mengontrak lima pemain lokal di bawah 23 tahun dan pada setiap pertandingan harus memainkan tiga di antaranya. Selain itu klub juga harus memiliki pemain berusia di bawah 21 dan 19 tahun. Serta, setiap klub rencananya bakal dilarang menggunakan pemain di atas usia 35 tahun. Baik itu lokal maupun asing.

Sementara untuk kompetisi Divisi Utama, PSSI melarang klub-klub peserta menggunakan pemain asing. Pada kompetisi itu pun wacananya kelak setiap klub hanya diperbolehkan memiliki lima pemain yang usianya di atas 25 tahun. Itu artinya, klub-klub harus total menggunakan pemain-pemain muda. Memang pada kompetisi tahun ini, PSSI ingin fokus dalam perkembangan pemain-pemain muda.

Dan, pada sektor wasit, PSSI juga melakukan sebuah terobosan. Dijadwalkan akan ada dua wasit asing yang akan memimpin sekitar 10 sampai 15 persen dari total pertandingan setiap bulannya. Penggunaan wasit asing ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas wasit-wasit lokal dan tentunya kompetisi itu sendiri.