Zalnando: Bintang Muda Sriwijaya yang Ingin Mengikuti Jejak M. Nasuha

Inilah salah satu bintang muda yang melejit di ISC A 2016. Renalto Setiawan membahas pemain yang menyukai film dan musik India ini...

Cerita 60 detik...

Pada Piala Dunia 2002 lalu, secara sadar Ronaldo telah mengatur seisi dunia. Potongan rambutnya diinginkan oleh anak-anak kecil dari benua mana pun termasuk Neymar, juniornya, yang saat ini menjadi penghibur hebat melalui trik-trik "kurang ajarnya" yang selalu dia pertontonkan saat mengenakan seragam Barcelona. Oliver Khan, kiper Jerman yang sekokoh tembok Berlin itu, harus rela diperdaya Ronaldo dua kali di partai puncak. Dan beberapa saat setelah Ronaldo membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya, Real Madrid, salah satu klub terkaya di dunia, terlihat bangga ketika harus menguras brangkas uangnya guna mendatangkan top skorer Piala Dunia 2002 tersebut ke Santiago Bernabeu.

Berada satu benua dengan berlangsungnya final Piala Dunia 2002, Zalnando yang masih berusia lima tahun tak paham dengan kenyataan seperti itu. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti konspirasi dunia. Tetapi ada satu keinginan kuat yang tertanam di hatinya setelah menyaksikan kemenangan Brasil di partai final tersebut: Zalnando kecil ingin menjadi pemain sepakbola, bukan dokter, astronot, atau presiden seperti cita-cita kebanyakan anak kecil seusianya.

“Karena menonton final Piala Dunia 2002 bersama ibu,” kata Zalnando,”saya kemudian mempunyai cita-cita untuk menjadi pemain sepakbola.”

Beberapa tahun kemudian, tepatnya saat berada di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, Zalnando masuk ke Asian Soccer Academy, salah satu sekolah sepakbola di kota Bandung. Dirinya mulai melangkahkan kedua kakinya untuk meraih cita-citanya - cita-cita tidak akan pernah bekerja jika kita tidak melakukan apa-apa, bukan?

Setelah sekitar empat tahun mendapatkan pendidikan sepakbola di Asian Soccer Academy, Zalnando kemudian pindah ke Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal pada tahun 2009, dan setahun kemudian dia mencari pendidikan baru di Indonesia Football Academy.

Zalnando vs PSM

Zalnando di laga vs PSM Makassar

Pada tahun yang sama dengan kepindahan Zalnado ke Indonesia Football Academy, timnas  Indonesia sedang berjuang di Piala AFF 2010. Saat itu Indonesia menjadi tuan rumah, dan tak sedikit orang yang lupa waktu ketika menonton perjuangan anak asuh Alferd Riedl di atas rumput Stadion Utama Gelora Utama Bung Karno, Jakarta. Zalnando termasuk di antaranya.

Ketika banyak orang tergila-gila dengan penampilan menawan Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, atau Ahmad Bustomi, mata Zalnando tak pernah berkedip saat melihat seorang pemain yang sering mengisi sisi kiri pertahanan Indonesia. Jersey palsu Gonzales, Bachdim, atu Bustomi boleh laris manis di Tanah Abang, tetapi Zalnando memilih untuk mengidolakan Muhammad Nasuha.

Ketika banyak orang tergila-gila dengan penampilan menawan Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, atau Ahmad Bustomi, mata Zalnando tak pernah berkedip saat melihat seorang pemain yang sering mengisi sisi kiri pertahanan Indonesia

Muhammad Nasuha pada saat itu memang kalah tenar jika dibandingkan bintang-bintang timnas lainnya. Namun, penampilan apiknya juga berhasil membuat banyak orang angkat topi. Seolah jika dunia akan dihantam meteor pada esok hari, dirinya ingin melakukan sesuatu yang berguna sebelum hal tersebut benar-benar terjadi, Nasuha tak pernah berhenti berlari menyisir sisi kiri Indonesia. Selama 90 menit penuh, Nasuha selalu menyerang dan bertahan sekuat tenaga. Penampilan Nasuha yang seperti itulah yang membuat Zalnando jatuh hati kepadanya.

"Penampilan Muhammad Nasuha di Piala AFF 2010 membuat saya mengidolakannya," kata Zalnando.

Untuk mengikuti jejak idolanya, pemain yang saat ini berusia 19 tahun itu pun kemudian terus berlari. Timnas U-16, SAD Uruguay, Sriwijaya U-21, dan Pon Sumatera Selatan berhasil dilewati. Dan, Zalando kini sudah menjadi andalan tim senior Sriwijaya FC, sebuah tempat yang sangat penting sebelum dirinya berlari lebih jauh lagi. 

Mengapa Anda harus mengenalnya...

Sewaktu saya mendapatkan topik mingguan untuk menulis feature tentang Zalnando, saya tak tahu banyak tentang pemain ini. Saya belum sekali pun menyaksikan penampilannya, namanya jarang beredar di media online, dan YouTube juga tak banyak menyimpan aksi-aksinya. Saya kemudian berpikir bahwa menyelesaikan tulisan ini tak akan semudah menukarkan kupon menang undian dengan sejumlah uang tunai.

Mencoba mencari peruntungan, saya kemudian mencoba menghubunginya melalui Twitter, menanyakan kesediaannya untuk melakukan wawancara via email. Tak lama setelah itu, Zalnando memberi balasan bahwa dirinya bersedia melakukan hal tersebut. Bagus.  Keesokan harinya saya segera menyusun dan mengirimkan beberapa pertanyaan kepadanya, dan menariknya, Zalnando membalasnya dengan cepat. Timnas Garuda mempunyai calon full-back kiri yang sangat rendah hati, begitu isi pikiran saya setelah menerima respons dari dirinya.  

Ternyata, Zalnando memang seperti itu. Sifat rendah hatinya juga berjalan beriringan dengan karier sepakbolnya.

Pertandingan debut Zalnando bersama tim senior terjadi kala Sriwijaya FC menghancurkan Madura United, 5-0, di stadion Jakabaring, Palembang, Mei lalu – kemenangan Sriwijaya FC tersebut menjadi salah satu kemenangan dengan margin terbesar di ISC A sejauh ini. Saat itu Zalnando bermain 90 menit penuh, dan dia mendapatkan pujian dari banyak orang karena tenaganya di sisi kiri Sriwijaya FC menjadi salah satu mimpi buruk Madura United malam itu.

Sriwijaya FC

Zalnando (belakang, dua dari kanan) masuk line-up Sriwijaya untuk kali pertama di laga vs Madura United

Meski demikian, seperti apa yang diajarkan oleh Widodo Cahyono Putro, pelatihnya, di mana seorang pemain harus tetap rendah hati dan mau terus belajar, Zalnando memilih untuk tidak bersikap jemawa. Ia kemudian menyikapi pertandingan yang sejauh ini menjadi pertandingan yang paling berkesan bagi dirinya tersebut dengan cara bijak.

"Yang jelas tidak boleh puas dulu. Harus banyak belajar lagi, lagi, dan lagi. Ini baru awal, ke depan harus bisa lebih maksimal lagi," begitu kata Zalnando menyoal pujian yang diarahkan kepadanya pada pertandingan debutnya.

Dengan pendekatan seperti itu, Zalnando kemudian terus dipercaya untuk mengawal sisi kiri petahanan Sriwijaya FC. Wildansyah, full-back kiri senior Sriwijaya FC, harus puas berada di bangku cadangan. Sejauh ini, Zalnando sudah tampil sebanyak lima kali.  Dan jika dirinya mampu tampil konsisten, Alfred Riedl, pelatih timnas Indonesia saat ini sekaligus pelatih yang memperkenalkan dirinya kepada Muhammad Nasuha, seharusnya tidak akan ragu untuk menggunakan jasanya.

"Ya, tentu saja setiap pemain mempunyai cita-cita untuk bermain bersama timnas senior," kata Zalnando menyangkut peluangnya untuk bermain bersama timnas senior.

Baginya timnas memang bagian dari mimpinya, tetapi itu bukanlah motivasi utamanya untuk terus mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat berada di atas lapangan. Melalui sepakbola, Zalando ingin membahagiakan kedua orang tuanya, sosok yang sangat penting dalam perkembangan karier sepakbolanya.