Zulfiandi: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?

Ia pernah menjadi partner terbaik Evan Dimas dan Hargianto di Piala AFF U-19 2013 lalu, namun setelah itu, performanya meredup. Renalto Setiawan membahas karier dan bakat Zulfiandi yang kini tertinggal dari Evan dan Hargi...

Evan Dimas berjuang sekuat tenaga memimpin lini tengah Indonesia di atas rumput Stadion Shah Alam, Malaysia. Seperti pasukan paspampres, Hanif Sjahbandi berdiri sedikit di belakangnya untuk melindungi garis pertahanan Indonesia. Sementara itu, Septian David Malauna yang sedikit berdiri di depannya terus mencari celah di tengah-tengah kepungan pemain-pemain Malaysia. Pertanyaan kemudian muncul ketika timnas Indonesia masih tampak kesulitan untuk menembus pertahanan Malaysia pada pertandingan itu: "Apa yang kurang dari penampilan timnas Indonesia?"

Absennya Hargianto, gelandang bertahan Indonesia, mungkin bisa menjadi jawaban masuk akal dari pertanyaan tersebut. Tetapi apabila pertanyaan tersebut ternyata selalu muncul dalam setiap penampilan timnas selama berlaga di SEA Games 2017, jawaban dari pertanyaan tersebut bisa saja seperti ini: timnas kurang cakap dalam memainkan bola di daerah sepertiga akhir.

Dalam pertandingan melawan Malaysia, kekurangan timnas tersebut memang cukup terlihat. Kemampuan bagus dalam meretensi bola di daerah sendiri untuk kemudian melepaskan bola direct ke daerah pertahanan Malaysia nyaris tak berguna. Selain karena Malaysia bertahan dengan lima orang pemain, postur tubuh mereka pun terlihat mumpuni untuk memenangkan duel-duel udara.

Sadar bahwa menguasai daerah sepertiga akhir menjadi salah satu cara ampuh untuk membongkar rapatnya pertahanan Malaysia, Evan Dimas kemudian mulai mengembangkan kreativitasnya. Sesaat setelah mendapatkan bola, dengan memanfaatkan aksi individunya, ia sering kali berhasil melewati dua-tiga orang pemain Malaysia yang berusaha mengganggu kinerjanya untuk menembus daerah sepertiga akhir. Namun saat memasuki daerah sepertiga akhir, ia ternyata banyak menemui kendala. Karena jarang mendapatkan dukungan berarti dari rekan-rekannya, opsi umpannya terbatas. Ia tidak mempunyai fasilitator untuk meretensi bola di daerah tersebut. Serangan Indonesia pun sering mentah begitu saja.

Evan Dimas kehilangan partnernya?

Pada akhirnya, usaha Evan untuk menerobos lini tengah Malaysia menjadi sia-sia. Parahnya, usaha tersebut juga berdampak pada permainan Evan Dimas secara keseluruhan. Tenaga Evan mulai habis di pertengahan babak kedua. Malaysia kemudian mendapatkan momentum untuk menguasai pertandingan. Sejak saat itu, layaknya pasukan udara Jerman kala menggempur London di Perang Dunia Kedua, pemain-pemain Malaysia mulai lancar mengirimkan umpan-umpan lambung berbahaya ke arah kotak penalti Indonesia. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah mimpi buruk: sundulan kepala Nadarajah Thanabalan berhasil memastikan kemenangan Malaysia.

Mundur empat tahun dari gelaran SEA Games 2017, tepatnya dalam gelaran Piala AFF U-19 pada tahun 2013 lalu, timnas Indonesia memiliki salah satu tim terbaik menyoal kinerja di daerah sepertiga akhir. Saat itu, lini tengah Indonesia terlihat seperti sedang bermain petak umpet setiap kali menguasai bola di daerah tersebut. Lawan-lawan Indonesia hampir selalu kesulitan untuk menebak dari arah mana Indonesia akan melancarkan serangan, sampai mereka mendapatkan hukuman karena gagal menebak dengan benar. Dan dari kehebatan timnas Indonesia dalam memainkan bola di daerah seperti akhir tersebut, Zulfiandi, gelandang timnas Indonesia U-19 saat itu, mempunyai peran yang sangat krusial.