25 Tahun J.League - Naik & Turunnya Liga Sepakbola No.1 Di Asia

Sejak peluncuran pada 1993, J.League akan merayakan hari jadi ke-25. Kami mengulas tentang sejarah dan peristiwa yang bergulir di seputar kompetisi.


OLEH   NAOTO FUJIE    PENYUSUN   ERIC NOVEANTO   


Melampaui batas rivalitas, para pria menangis, berpelukan satu sama lain. Stadion yang sekarang sudah dirobohkan punya kapasitas sekitar 60,000 penonton. Di antara pengunjung ada beberapa bintang band rock Tube di perayaan pembukaan stadion cahaya berwarna yang menghujani lapangan.

J.League lahir pada 15 Mei 1993 dan laga spesial dipilih sebagai pembuka yakni Verdy Kawasaki lawan Yokohama Marinos. Di antara 22 pemain yang berlaga ada sejumlah veteran yang sudah mendukung berjalannya liga sejak era kompetisi pendahulu Liga Jepang.

Penantian lama untuk bermain di era profesional datang kepada para pemain seperti Kato Hisashi dan Satoshi Tsunami dari Verdy Kawasaki, dan Kazushi Kimura dan Takashi Mizunuma dari Yokohama Marinos. Waktu kick-off pukul 7:30 malam, selaras dengan jadwal penayangan di FTA dalam saluran penyiaran nasional NHK.

19 menit laga berjalan, penyerang Verdy, Meijer mencetak gol dengan kaki kanannya dari sisi kiri, di luar kotak penalti. Ini merupakan tembakan luar biasa dari jarak 25 meter ke garis diagonal, membuatnya dikenang sebagai gol resmi pertama di J.League.

Marinos memulai serangan mereka di babak kedua permainan. Mereka menyamakan skor menit ke-48 dan bomber Marinos, Diaz mengemas gol kemenangan menit ke-59. Tambahan untuk kisah ini, Diaz sekarang menjadi pelatih klub Arab Saudi, Al Hilal dan kembali ke Jepang November tahun ini untuk melakoni leg kedua final Liga Champions Asia dan Urawa Reds menjadi juara Asia untuk pertama kali sejak 10 tahun terakhir.

National Olympic Stadium Tokyo - Verdy Kawasaki vs Yokohama Marinos - J.League

10 klub berkompetisi pada musim awal J.League 1993. Mereka yang dijuluki sebagai "10 Orisinil" kebanyakan berasal dari divisi 1 Liga Jepang lama. Di akhir 1980-an, dua tim kuat pada waktu itu yang populer adalah Yomuiri Club (Verdy) dan Nissan Motors (Marinos), yang keduanya dipilih saling berhadapan di laga pembuka.

Delapan klub lainnya adalah Urawa Red Diamonds (Mitsubishi Motors), JEF United Ichihara (Furukawa Electric), Yokohama Flugels (ANA), Nagoya Grampus (Toyota), Gamba Osaka (Matsushita Electric) Sanfrecce Hiroshima (Mazda) yang semuanya berasal dari divisi 1 Liga Jepang lama tapi hanya ada dua tim yang terlpilih.

Tim sepakbola Indurstri Metal Sumitomo bergabung dari divisi 2, dan Shimizi S-Pulse yang merupakan tim kota tanpa klub pendahulu. Sumitomo merupakan mantan tim yang sekarang dikenal dengan nama Kashima Antlers menjadi kekuatan besar dalam periode singkat berkat strategi reformasi dari eks penggawa tim nasional dan legenda Brasil, Zico, yang kembali sebagai pemain aktif.

Kandidat penantang titel seri Suntory (fase pertama) adalah Verdy dan Marinos. Hanya saja, Antlers memenangkan kompetisi dengan kekuatan strategi tak tertandingi sejak laga pembuka. Di sisi lain, Verdy melakukan comeback pada seri NICOS (fase kedua) menunjukkan kekuatan besar sekaligus memenangkan pertandingan lawan Antlers pada kejuaraan Januari 1994, membuat mereka menjadi juara J.League edisi pertama.

Seperti yang dituliskan di atas 'Seri Suntory' dan 'Seri NICOS', J.League mengadopsi format dua laga dua fase dalam bagan turnamen round-robin. Pada musim 1993, setiap tim masing-masing memiliki 36 pertandingan hanya untuk liga. Pada 1994, tahun ketika Jubilo Iwata dan Bellmare Hiratsuka promosi, jumlah laga bertambah menjadi 44 dan ketika Kashiwa Reysol dan Cerezo Osaka promosi pada 1995 maka ada 52 laga.

Hanya saja, untuk tujuan untuk membuat pertandingan menjadi sederhana, laga-laga tersebut dilanjutkan apabila hasil imbang terjadi selama 90 menit. Juga, sistem V-Goal diadopsi dan laga berakhir sesegera mungkin ketika ada gol yang tercipta. Dalam kasus ini, jika masih imbang selama 30 menit di babak tambahan, maka ada adu penalti. Baik secara fisik dan mental, para pemain mendapat tekanan luar biasa di awal era ini.

Tetap, motivasi para pemain untuk tampil di hadapan banyak pendukung tetap tinggi. Saat itu, pertandingan sering disiarkan langsung melalui FTA dan hasilnya ada sorotan dari media yang berkembang, ini berdampak pada apa yang dinamakan "Gelembung J.League". Deretan pemain bintang seperti Kazu (Kazuyoshi Miura) dan Rui Ramos menjadi figur sentral Verdy dan mencitpakan fenomena sosial di mana tiket pertandingan susah untuk diburu.

Kazuyoshi Miura - Verdy Kawasaki vs Yokohama Marinos - J.League

Namun, tren tersebut tak berlangsung lama. Episode ludesnya tiket laga berakhir mulai musim 1995 sebagai akibat dari dampak stagnasi ekonomi Jepang. Pada akhir musim 1998 ketika Jepang pertama kali lolos ke Piala Dunia, hal-hal yang tak terpkirkan mulai bermunculan.

Yomiuri Shimbun dari Verdy, Fujita dari Bellmare, masing-masing adalah sponsor utama tim yang mengumumkan mundur dari pendanaan. Juha Industri Sato mundur dari Flugels, dan ANA yang merupakan investor gabungan masuk ke garis merah hingga membuat mereka tak bisa melanjutkan operasi klub.

Flugels melakukan keputusan sulit untuk merger dengan Marinos, berbagi markas di kota Yokohama, perfektur Kanagawa. Banyak suporter dengan kuat menentang keputusan itu karena secara de facto menutup lembaran sejarah tim. Petisi beredar luar di seluruh wilayah negara, yang juga didukung semua pemain termasuk penggawa timnas Seigo Narazaki dan Yasuhiro Yamaguchi. Sebanyak 620,000 menandatangani petisi, namun proses merger tetap tak bisa dihindarkan.

Setelah proses merger, Flugel dikenang sebagai tim pemenang 4 laga liga dan 5 Piala Emperor, total 9 secara keseluruhan. Lawan mereka pada laga terakhir pada 1 Januari 1999 adalah pemenang laga pembuka J.League pada 16 Mei 1993, Shimizu S-Pulse. Proses hilangnya tim terjadi setelah kemenangan ajaib (2-1) dan setelah itu sejarah mereka akan dikenang, dengan tim baru dibentuk bernama Yokohama F.Marinos, hurif F di tengah mengacu pada Flugel.

Piala Dunia 2002 datang bersamaan dengan Korea Selatan sebagai tuan rumah pendamping, dan itu merupakan yang pertama digelar di benua Asia. Itu berlangsung saat J.League dalam krisis, pendiri sekaligus pimpinan J.League, tuan Saburo Kawabuchi mendorong klub untuk lebih menjalankan "manajemen klub realistis (membumi)".

Sejak 1993, Verdy telah mencapai rekor kemenangan beruntun tapi tim menjumpai pengunduran diri para pemain yang memiliki gaji tinggi. Kazu hengkang ke Zagreb Kroasia di awal 1999. Ini menjadi akhir dari era dan tim diharuskan untuk mengembangkan sikap manajemen yang lebih berbasis ke komunitas, memiliki filosofi dan nilai-nilai.

Hanya saja, ada peningkatan dari tim-tim yang membidik jadi bagian dari J.League dalam tempo yang singkat. Pada 1996, Kyoto Purple Sanga dan Avispa Fukuoka bergabung. Pada 1997, ada Vissel Kobe dan 1998 Consadole Sapporo promosi dari Liga Sepakbola Jepang (JFL) yang merupakan liga minor.

J.League melewati batas maksimal 16 tim yang sudah berjalan sebelumnya dan ingin menambah dua tim lagi dengan adanya tim-tim yang mencari jalan promosi. Dengan situasi ini, J.League memutuskan untuk mengimplementasi sistem J1 dan J2. Dalam rangka meningkatkan J1 menjadi 16 klub, mereka menggelar play-off promosi pada November 1998.

Tim yang berpartisipasi adalah JEF United, Consadole, Vissel, Avispa yang finis di papan bawah klasemen J.League musim 1998 dan juga ada Kawasaki Frontale yang merupakan tim dari JFL memenuhi syarat. Consadole dan Frontale yang berada di musim kedua penggantian nama dari Fujitsu Football Club kalah dan turun ke kasta baru yang dinamakan J2.

Verdy Kawasaki vs Yokohama Marinos - J.League

Pada musim 1999 yang merupakan awal musim J2, 10 tim terlibat. Di antaranya Consadole dan Frontale, ada Vegalta Sendai, Montedio Yamagata, Omiya Ardijya, FC Tokyo, Ventforet Kofu, Albirex Niigata, Sagan Tosu, Oita Trinita yang semuanya sudah pernah merasakan J1 hingga era sekarang. Dari seluruh tim yang berjuluk "10 Orisinil J2", Frontale menjadi tim pertama yang memenangkan J1 pada musim 2017.

Melihat kembali J1 ke belakang, dua tim yang punya filosofi tak tergoyahkan menjadi kekuatan besar liga. Selama tujuh musim dari musim 1996, Antlers dan Jubilo mendominasi kompetisi. Antlers mengoleksi empat titel sementara Jubilo tiga, pendekatan terhadap penguatan klub tampak kontras di antara kedua klub.

Antlers melanjutkan dominasi dengan pengaruh Zico di awal eranya yang membawa sistem mirip timnas Brasil dan membuat para pemain cocok dengan formasi 4-4-2. Mereka mampu mengembangkan era emas dengan memunculkan bek sayap Naoki Soma, Akira Narahashi dan juga striker Atshushi Yanagisawa serta beberapa pemain timnas Brasil Leonard, Jorginho yang mengidolakan Zico bersama dengan pemain asal seperti bek Yutaka Akita dan gelandang Yasuhito Honda.

Pendatang baru pada musim 1994, klub promosi Jubilo mengakuisisi kapten timnas Brasil, Dunga. Ia menghadirkan mentalitas pemenang pada tim bersama dengan beberapa pemain yang sudah terbentuk seperti penyerang Masashi Nakayama, gelandang Hiroshi Nanami, Toshiya Fujita, Toshihiro Hattori, Takashi Fukunishi, dan bek Makoto Tanaka. Mereka semua mampu bersaing dengan Kashima Antlers.

Mereka bersaing sepanjang kompetisi musim 1997, 1998, 2001 dan seluruhnya sangat seru hingga akhir. Bersamaan dengan pertarungan antara Akita dan Nakayama di depan gawang, laga-laga mereka terukir dalam sejarah J.League. Sebagaimana Antlers memasuki transisi generasi secara periodik, Jubilo kehilangan para pemain yang mengantarkan ke masa jaya dan memasuki masa paceklik prestasi.

Sejak musim 1999, sistem adu penalti dihapuskan dan poin untuk hasil imbang diimplementasikan sejak musim 2003, juga dengan babak tambahan dihilangkan. Hal itu berdampak pada klub-klub yang berdeteminasi menunjukkan kekuatan sejati di J1. Juga setelah musim 2004 ketika Yokohama F.Marinos menyegel juara bersama mantan pelatih timnas Jepang, Takeshi Okada, format dua fase kompetisi ditiadakan.

Mulai musim 2005, kompetisi berubah jadi persaingan satu tahun penuh dengan 18 tim bermain kandang & tandang yang berujung pada persaingan lebih sengit untuk jadi juara. Semuanya berjuang keras, akhir dari musim 2005 masih membekas di ingatan fans dan suporter.

Cerezo Osaka duduk di puncak ketika kick-off pada pukul 2 siang. Gamba Osaka mengikuti di belakang dengan selisih satu poin dan Reds juga demikian bersama Antlers dan JEF United. Dalam situasi di mana 5 tim masih bersaing di jalur juara, Cerezo saat itu unggul 2-1 atas FC Tokyo dan laga memasuki paruh kedua babak tambahan waktu.

Sekitar 44,000 suporter memadati kandang mereka, stadion Nagai dan semuanya menantikan gelar juara pertama. Tapi mimpi buruk datang ketika memasuki pengujung waktu kala Yasuyuki Konno mencetak gol penyeimbang untuk FC Tokyo.

Sorakan gembira pada akhirnya untuk Gamba yang mengalahkan Frontale 4-2. Gamba saat itu dipimpin oleh Akira Nishino, yang sekarang menjabat sebagai direktur teknik Federasi Sepakbola Jepang (JFA), mereka memainkan sepakbola menyerang untuk meraih gelar juara pertama. Ketika tiga tim mearih kemenangan, Cerezo yang hanya bermain imbang harus merosot ke posisi kelima akhir musim.

Hingga dua fase dalam semusim kembali diterapkan pada 2015, terdapat 5 tim yang sukses meraih gelar juara pertama mereka dalam 10 tahun. Selalu dipenuhi dengan suporter di kandang, Reds menyegel titel pertama pada 2006 dan diikuti dengan trofi Liga Champions Asia pada 2007. Mereka memulai petualangan sebagai klub besar yang mewakili J.League.

Gelandang Mitsuo Ogasawara dan kiper Hitoshi Sogahata, anggota generasi emas yang lahir pada 1979, memimpin skuat legendaris yang berlanjut bersama dengan munculnya youngster bek Atsuto Uchida dan striker Yuya Osako. Kebangkitan Antlers dimulai dari musim 2007 sebelum kemudian pada 2010 Nagoya Grampus yang dipimpin legenda Dragan Stojkovic sebagai manajer menghadirkan gaya ofensif untuk memenangkan trofi pertama mereka.

GFXID Sejarah J.League

Musim 2011, Reysol yang dipimpin manajer Nelsinho mencapai titel dalam musim pertama setelah promosi dari J2. Meski dari kasta lebih rendah, gaya bermain yang sama juga ditunjukkan Sanfrecce Hiroshima ketika juara pada 2012, sebelumnya juga pernah bertarung di J2 pada 2008.

Manajer Hajime Moriyasu yang mengambil tongat estafet dari manajer Mihailo Petrovic, memenangkan J1 sebanyak tiga kali dalam empat tahun mulai dari 2012. Pada Oktober, ia lantas menjadi pelatih Jepang untuk Olimpiade Tokyo dan menerima tantangan meraih medali sejak terakhir dicapai pada Olimpiade Meksiko 1968.

Juga Gamba yang dipimpin oleh manajer Kenta Hasegawa, yang sudah menjadi bagian tim sejak di J1, memenangkan persaingan dengan Urawa Reds pada musim 2014. Mereka juga memenangkan Piala Yamazaki Nabisco (sekarang Piala Levain J.League) dan Piala Emperor untuk menjadi tim pertama sejak Antlers pada 200 yang meraih tiga trofi domestik.

Sekarang, melihat ke J2, mulai dari musim 2012, kompetisi sudah diikuti sebanyak 22 tim yang merupakan jumlah maksimal. Dengan play-off promosi dan degradasi diimplementasikan dari kasta JFL, ide untuk menggelar kasta baru mulai diperbincangkan. Setelah beberapa perdebatan, J3 akhirnya mulai digelar sejak musim 2014 dengan 11 klub ambil bagian.

Untuk memecahkan masalah jangka panjang perkembangan sepakbola Jepang pada generasi berikutnya, sejumlah pemain dipilih untuk mengikuti skuat J.League U-22 yang berkompetisi di J3. Di antara pemain yang kebanyakan merupakan cadangan dari 40 klub di J1 dan J2 di bawah usia 22 tahun, mereka terpilih untuk bersaing di kasta ketiga.

Meski ada pro dan kontra, aktivitas skuat J.League U-22 mencapai titik akhir hanya dalam dua musim. Mulai 2016, FC Tokyo, Gamba, Cerezo membangun tim kedua dengan materi pemain di bawah usia 23 tahun untuk menjadi skuat U-23. Jumlah peserta J3 bertambah menjadi 14 tim, dan secara keseluruhan kompetisi profesional memiliki 54 tim lintas kasta.

Di J1, secara keseluruhan reduksi berlanjut di liga dalam rangka mengubah tonasi bisnis yang buruk, liga kembali menerapkan format dua fase mulai musim 2015 demi menciptakan persaingan agar meningkatkan eskpose dari media. Dengan banyak fans menentang ide itu, musim 2015 dimenangkan oleh dimenangkan oleh Sanfrecce dan Antlers semusim berselang dengan status underdog.

Mantan pimpinan Kazumi Ohigashi pernah berbicara tentang keputusan menerapkan dua fase pada musim gugur 2013 dan menyebut bahwa itu ingin mereka terapkan untuk lima tahun selanjutnya. Hanya saja, dengan kontrak 10 tahun senilai 210 milyar yen dengan perusahaan digital asal UK, Perform Group, yang menyediakan layanan streaming "DAZN" maka gagasan untuk menerapkan format tersebut tak lagi dilanjutkan.

"Kita bisa berdebat tanpa membatasi format turnamen dan penjadwalan dan berdiskusi sebagaimana mestinya."

Senada dengan pimpinan Mitsuru Murai, format kemali ke satu fase semusim penuh yang dimulai dari musim 2017. Antlers memimpin klasemen dengan delapan poin atas peringkat ketua pada suatu titik, tapi pada 2 Desember, Frontale mengejar dan menyegel gelar juara dengan keajaiban selisih gol.

Termasuk dengan final Piala Levain YBC J.League pada November, Frontale merupakan runner-up sebanyak 8 kali, tapi pada akhirnya sukses memenangkan gelar juara pertama. Gelandang Kengo Nakamura, yang sudah bersama tim selama 15 tahun, dan kapten Yu Kobayashi mengakhiri musim sebagai topskor dengan hat-tricknya di laga terakhir musim diwarnai dengan air mata kebahagiaan. Dihitung dari pencapaian Verdy, mereka merupakan klub kesepuluh yang memenangkan titel J1.