87 Tahun Persija Jakarta: Kembali Robohnya Stadion Bersejarah Hingga Berakhirnya Periode Oranye

Di tengah seretnya prestasi, pada ulang tahun kali ini Persija mengusung tema "Spirit To Basic" dengan harapan bisa mengembalikan kejayaan mereka.

Hari ini, Persija Jakarta genap berusia 87 tahun. Namun, di usianya yang sudah semakin menua ini prestasi yang ditorehkan justru semakin menurun. Mengapa bisa demikian? Terlalu banyak permasalahan di internal tim tampaknya menjadi jawaban yang cukup pas untuk pertanyaan tersebut.

Sepanjang 2015, berbagai permasalahan memang menghinggapi tim ibu kota. Yang paling mencolok adalah adanya tunggakan gaji pemain dan ofisial tim. Ini membuktikan bahwa manajemen Persija masih belum bisa mengelola tim dengan baik.

Cukup menjadi pertanyaan bila klub sebesar Persija, yang bermarkas di ibu kota, kemudian didukung dengan basis suporter yang besar kesulitan dalam menggamit sponsor. Direktur Bisnis, Marketing Komunikasi PT Persija Jaya Jakarta, badan hukum resmi pengelola klub Persija, Budiman Dalimunthe, memiliki penjelasan tersendiri terkait hal itu.

"Sebenarnya banyak yang mau menanamkan uangnya di Persija. Tapi, apa yang mau dijual di situasi sekarang. Kompetisinya tak jalan. Investor kan maunya kompetisi jalan," jelas Budiman, belum lama ini di sela-sela jumpa pers terkait pemilihan ketua umum baru Persija.

Sebenarnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sempat berminat untuk membeli saham Persija, melalui PT Jakarta Propertindo. Tapi, rencana tersebut urung terlaksana.

"Proses negosiasi dengan Pemda, saya sempat ikut. Tapi, tak ada kemajuan yang ditemukan hingga sekarang. Sampai akhirnya, kami sempat membuka pembicaraan dengan pihak lain," tambahnya,

Di samping itu, faktor infrastruktur juga menjadi masalah lainnya yang dihadapi klub yang berdiri pada 28 November 1928 itu. Terakhir, mereka kembali harus kehilangan stadion bersejarah, setelah Stadion Lebak Bulus dirobohkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Stadion tersebut resmi dirobohkan pada 8 September 2015. Menyusul, proyek pembangunan Pemprov DKI Jakarta yang ingin membangun terminal transportasi massal Mass Rapid Transit (MRT) di Lebak Bulus. Memang, sebelum dirobohkan, Stadion Lebak Bulus juga telah dinilai tidak layak untuk dijadikan sebagai kandang Persija di kompetisi ISL.

Dengan demikian, ini untuk kedua kalinya Persija harus mengalah dari Pemprov DKI Jakarta, setelah sebelumnya juga merobohkan Stadion Menteng pada 26 Juli 2006. Imbasnya, Persija hanya bisa memakai Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, sebagai markas mereka. 

Itu pun masih sering terusir lantaran kerap terbentur izin keramaian dari pihak kepolisian. Sehingga membuat mereka kadang menjadi tim musafir. Jangankan untuk bertanding, untuk berlatih pun skuat Persija harus berpindah-pindah tempat.

Sebenarnya, Persija dijanjikan stadion pengganti yakni Stadion BMW (Bersih Manusiawi dan Berwibawa) di daerah Jakarta Utara. Tapi, hingga saat ini pembangunan stadion itu masih belum terealisasi. 

Terkait stadion ini, klub-klub internal Persija pun angkat bicara. Karena jika bicara prestasi, sebuah klub harus ditopang dengan infrastruktur yang cukup memadai. Salah satunya, stadion yang layak untuk digunakan bertanding maupun berlatih.

"Kami berharap segera dibangun stadion untuk Persija. Selain itu, stadion itu juga bisa digunakan untuk memutar kompetisi internal Persija. Karena yang kami gunakan saat ini bisa dibilang tidak layak," kata Elbiner Tobing, pengurus dari klub PS Mahasiswa.

Menurutnya, Lapangan Banteng yang digunakan untuk memutar kompetisi internal kurang memadai. Belum lagi, masalah biaya juga kerap menjadi penghambat bergulirnya kompetisi secara rutin. "Seharusnya pertandingan di kompetisi internal bisa diputar secara rutin setiap pekan. Tapi, ini bisa saja sebulan atau dua bulan sekali baru diputar," bebernya.

Maka itu, pria yang juga menjabat sebagai ketua Komite Pemilihan ketua umum Persija periode 2015-2019 ini, mengimbau agar pengurus Persija yang baru nantinya bisa bersinergi dengan Pemprov DKI Jakarta.

"Intinya, kedua pihak harus saling ketemu agar permasalahannya bisa dipecahkan bersama," jelasnya. 

Di sisi lain, pada ulang tahunnya kali ini Persija mengusung tema "Spirit To Basic". Tema itu sendiri dipilih dengan harapan bisa kembali membawa kejayaan bagi Persija seperti era kompetisi Perserikatan. Di mana kala itu tim Macan Kemayoran berhasil meraih sembilan kali juara. Gelar juara terakhir di kompetisi kasta tertinggi dirasakan Persija saat menjuarai Liga Indonesia 2001.

Salah satu yang paling mencolok untuk mendukung tema tersebut adalah dengan mengembalikan warna jersey tim ke merah, mulai tahun depan. Seperti diketahui, saat ini Persija masih mengenakan jersey berwarna oranye.

"Oranye itu kan pas zamannya Gubernur Sutiyoso. Aslinya Persija itu merah. Sekarang pun oranye-nya sudah mulai kelihatan agak kemerah-merahan. Tapi nanti akan merah sepenuhnya," kata Isran Naamin, salah satu pengurus klub internal Persija.

Semoga dengan semangat tersebut benar-benar bisa mengembalikan kejayaan Persija dengan pengelolaan klub yang lebih profesional. Sehingga tidak lagi hanya menjadi "Macan Ompong". Selamat ulang tahun Persija! Sajete!

Topics