Adakah Remuntada Kedua Di Camp Nou?

Barcelona kembali dihadapkan pada misi melawan sejarah dan kemustahilan, untuk wujudkan kisah remuntada edisi kedua di Camp Nou.

Keajaiban selalu lekat dan jadi salah satu sisi paling menarik dalam sepakbola. Pernyataan; "Bola itu bundar, apapun bisa terjadi", tentu lazim kita dengar karena olahraga terpopuler di dunia itu tak pernah janjikan kepastian.

Tim dengan skuat berbanderol mahal belum tentu menang atas tim miskin. Tim yang sanggup menguasai bola hingga 60 sampai 70 persen, bisa kalah hanya dari satu. Atau tim dengan sejarah dan tradisi sepakbola hebat, bisa saja kalah dari tim yang dibangun secara instan.

Baru-baru ini dan yang jadi bahasan hangat di babak gugur Liga Champions adalah tim yang berpesta gol di leg pertama, tak punya jaminan lolos ke babak selanjutnya. Barcelona sudah membuktikan itu, ketika mereka melawan sejarah dan kemustahilan untuk singkirkan Paris Saint-Germain di 16 besar.

Barca jadi tim pertama yang sanggup lolos ke babak selanjutnya, setelah kalah empat gol di leg pertama. Dalam lima kejadian sebelumnya di turnamen prestise tersebut, tak satu pun dari mereka yang alami kejatuhan seperti itu mampu balikkan situasi.

"Remuntada" yang dalam bahasa Indonesia berarti "kemunculan kembali" mendadak jadi kata yang lebih populer ketimbang comeback. Tak sedikit yang menganggap Blaugrana telah ciptakan comeback terbaik dalam sejarah sepakbola. Stadion mereka, Camp Nou bahkan punya julukan baru sebagai "The Real Theatre of Dreams".

Sayang, yang namanya keajaiban tak bisa datang sering-sering apalagi secara beruntun. Namun faktanya, itulah yang dibutuhkan Barca pada Rabu (19/4) esok. Mereka diwajibkan menang minimal 4-0 atas Juventus di Camp Nou, setelah terkapar 3-0 pada leg pertama di J Stadium.

Sejarah berkata bahwa efek kekalahan 3-0 di leg pertama babak gugur Liga Champions, sama mematikannya dengan takluk 4-0 sebelum dilenyapkan mitosnya oleh Barca bulan lalu. Sudah delapan kejadian yang hadir dan keajaiban masih urung datang.

Lawatan terakhir Juve ke Camp Nou pun berujung derita publik Catalunya. Mereka sukses raih kemenangan 2-1 berkat gol Pavel Nedved dan Marcelo Zalayeta di babak perpanjangan waktu, yang singkirkan Barca dari fase yang sama, perempat-final, lewat agregat 3-2 pada 2003 silam.

Meski begitu Barca tetap layak optimistis, seturut rekor bagus mereka di Camp Nou ketika helat Liga Champions. Dari 15 partai kandang terakhir, Azulgrana selalu menang dengan rerata cetak 3,33 gol per partai.

Pada tujuh dari delapan laga kandang terakhirnya di Liga Champions, Barca juga cetak minimal tiga gol. Itu termasuk kemenangan 7-0 atas Celtic di fase grup dan remuntada kala hancurkan PSG 6-1.

Trio MSN pun bagai selalu temukan sentuhan terbaiknya kala pentaskan diri di Camp Nou. Total mereka gelontorkan 15 gol dan 11 assist dari empat partai kandang di Liga Champions musim ini. Artinya kombinasi ketiganya telah hasilkan rerata 3,7 gol per partai!

Namun patut diingat pula bahwa Juve merupakan pemilik pertahanan terbaik di Liga Champions musim ini, lantaran cuma kebobolan dua gol dari sembilan partai yang dijalani. Berbicara partai tandang, I Bianconeri juga jadi tim dengan rerata kebobolan terbaik dalam tiga musim terakhir turnamen dengan 0,71 gol per partai

Beralih ke ranah taktik, kedua tim disinyalir bisa menurunkan tim terbaiknya di partai besar ini. Walau begitu Barca punya situasi yang tak sebaik Juve, karena pelapis kompetitifnya masih terkapar di meja perawatan layaknya Aleix Vidal, Rafinha, sampai Arda Turan.

Untuk Juve, mereka dipercaya tetap mengandalkan formasi 4-2-3-1 dengan komposisi pemain yang sama layaknya pertemuan pertama. Skema bermain pun diprediksi takkan banyak berubah, dengan maksimalkan kerapatan di lini pertahanan guna menstimulasi serangan balik cepat.

Tapi permainan lebih pragmatis tampak bakal dipertontonkan Juve, karena mereka sudah punya bekal kemenangan 3-0. Satu hal yang wajib La Vecchia Signora benahi ada di faktor mental ketika bermain di Eropa. Sesuatu yang membuat mereka tak pernah puncaki Benua Biru dalam dua dekade terakhir. Sang pelatih, Massimiliano Allegri, tentu enggan drama hadapi Bayern Munich musim lalu terulang.

Sementara Barca? Banyak perubahan yang harus dilakukan sang juru taktik, Luis Enrique, agar tak kolaps layaknya leg pertama lalu. Utamanya adalah tak coba-coba lagi menurunkan pelapis kejutan, seperti Jeremy Mathieu misalnya. Meski dimaksudkan untuk hadirkan transisi formasi dari 4-3-3 ke 3-4-3, eks Valencia itu jadi bulan-bulan Juve di pertemuan pertama.

Akan seperti apa taktik Barca di laga ini, bisa terepresentasi dari duel kontra Real Sociedad akhir pekan lalu. Formasi lawas 4-3-3 diterapkan, dengan Jordi Alba kembali mengisi pos bek kiri. Keberadaannya akan menambah variasi serangan dari sayap, untuk membongkar pertahanan kukuh Juve.

Satu tambahan krusial juga hadir dengan kembalinya Sergio Busquets di posisi jangkar, setelah absen di leg pertama karena skorsing. Keberadaan pemain 28 tahun itu akan krusial dalam sirkulasi perpindahan Barca yang cepat, guna mengeksploitasi kelemahan pertahanan Juve dalam kecepatan.

Namun lini pertahanan Barca tetap layak jadi sorotan utama, karena kebobolan tujuh gol dalam tiga laga terakhirnya. Hingga bentrok hadapi Sociedad, Enrique seperti belum temukan solusi terbaik untuk atasi masalah ini. Duet Gerard Pique dan Samuel Umtiti tak kunjung padu, sementara Javier Mascherano kerap lakukan disposisi.

Nada optimistis jelang laga ini, didengungkan dengan kencang oleh masing-masing kubu. Barca percaya akan ada remuntada kedua di Camp Nou, sementara Juve teguh targetkan kelolosan dengan bekal keunggulan tiga gol.

Neymar, bintang utama Barca di remuntada pertama menyerukan keyakinan akan adanya pengulangan momentum. Namun tentu saja, dia berharap taktik yang dijalankan timnya berjalan sesuai rencana.

"Kami harus yakin bahwa kami bisa melakukannya. Kami telah melakukannya satu kali dan kami bisa melakukan untuk kali kedua. Kami harus memberikan segala yang kami punya. Jika semua berjalan lancar, bakal ada remuntada lain," serunya, seperti dikutip Canal Sporte Interativo.

Di sisi seberang, legenda hidup Barca yang kini membela panji Hitam Putih, Dani Alves, mengungkapkan keyakinan sebaliknya. Dia juga menegaskan La Vecchia Omcidi takkan terapkan taktik parkir bus. 

"Anda tidak bisa datang ke Camp Nou dengan taktik parkir bus, bertahan total. Karena Anda butuh untuk mencetak gol dan Anda harus pergi untuk benar-benar bermain. Kami punya keyakinan, tapi kami harus ambil risiko jika mau lolos," tukas sosok 33 tahun tersebut.

Ya, makin tidak sabar rasanya menanti bentrok besar ini. Adakah remuntada kedua di Camp Nou? Atau keajaiban tetap pada tradisinya untuk tak sering-sering muncul? Bagaimana menurut Anda?