Ajax Amsterdam Melangkah Di Antara Raksasa Eropa

Ajax Amsterdam melangkah ke babak 16 besar Liga Champions dengan penampilan yang impresif saat meladeni tantangan Bayern Munich.

Selama beberapa tahun terakhir Ajax Amsterdam seperti melawan gravitasi. Memang Frank de Boer sukses membawa De Godenzonen merebut empat titel Eredivisie Belanda beruntun pada kurun waktu 2011 hingga 2014, tetapi penampilan mereka di Eropa melempem. Ajax tak berdaya dan selama ditangani De Boer tak pernah mampu lolos lebih dari fase grup Liga Champions.

Padahal, jika kita menilik lagi sejarah klub, Ajax adalah tim kedua setelah Real Madrid yang mampu merebut tiga gelar juara Eropa secara beruntun. Itu terjadi di zaman keemasan Johan Cruyff. Gelar keempat diraih bersama Louis van Gaal dan pasukan mudanya pada 1995.

Ajax perlahan meredup setelah lolos ke final Liga Champions 1996. Bukan kebetulan jika pada saat bersamaan Dekrit Bosman diberlakukan. Setelahnya, prestasi terbaik Ajax adalah mencapai perempat-final Liga Champions 2002/03 di bawah kepelatihan Ronald Koeman.

Awal 2010-an, De Boer hanya mampu mengembalikan keperkasaan Ajax di kompetisi domestik. Padahal, seperti mendiang Cruyff pernah berujar, habitat Ajax sebenarnya adalah di Eropa. Seiring dengan itu, Cruyff memutuskan turun gunung dengan mengusung revolusi manajemen. Pada akhirnya, rencana itu tidak pernah berjalan lancar hingga akhirnya sang legenda mundur dan kemudian tutup usia.

Pengganti De Boer, Peter Bosz, memercikkan harapan ketika pada musim debutnya sukses mengantarkan Ajax ke final Liga Europa 2016/17. Itu merupakan pencapaian regional tertinggi sejak 1996. Namun, bulan madu mereka hanya berlangsung sebentar. Bosz ditengarai tidak cocok dengan CEO Edwin van der Sar dan direktur olahraga Marc Overmars, lalu pindah ke Borussia Dortmund musim panas berikutnya.

Sempat mempromosikan Marcel Keizer dari tim junior untuk menggantikan tugas Bosz, secara mengejutkan manajemen Ajax kembali melakukan pergantian pelatih sebelum tutup tahun 2017. Penggantinya adalah Erik ten Hag, mantan pelatih tim kedua Bayern Munich di era Pep Guardiola. 

Kemunculan Ten Hag adalah penyegaran total di jajaran kepelatihan. Selain Keizer, posisi Dennis Bergkamp dan Hennie Spijkerman sebagai asisten pelatih juga dicopot. Ten Hag membawa Alfred Schreuder, asisten Julian Nagelsmann di TSG Hoffenheim, serta didampingi pula oleh Aron Winter, yang naik jabatan dari tim junior.

Jelas sekali penunjukan Ten Hag ini sendiri merupakan sebuah inovasi. Pelatih 48 tahun itu dikenal menggunakan pendekatan taktik yang adaptif serta mendalami karakter para pemainnya. Tidak hanya di area kepelatihan. Jajaran manajemen klub ikut bekerja keras mempertahankan para pemain muda agar lebih lama bersama Ajax.

Ajax identik dengan program pengembangan pemain mudanya yang kesohor. Bisa dibilang, pabrik pemain untuk klub-klub kaya Eropa. Ajax sendiri sadar, tidak mungkin berlama-lama menahan para calon bintang yang mereka miliki. Namun, dengan visi yang baru, Ajax memperpanjang kontrak antara lain seperti Matthijs de Ligt, Kasper Dolberg, serta Frenkie de Jong, agar klub punya lebih banyak waktu memanfaatkan tenaga mereka.

Lalu, manajemen Ajax juga berhasil meyakinkan pemain kunci seperti Hakim Ziyech untuk tetap bertahan. Mereka juga tak segan mengucurkan dana untuk merekrut Klaas-Jan Huntelaar, Daley Blind, dan Dusan Tadic. Mereka para pemain senior yang sudah mengenali lingkungan Eredivisie. Harapannya, pengalaman mereka bisa memberikan keseimbangan di dalam tim yang dipenuhi banyak pemain muda.

Hingga selesainya fase grup Liga Champions musim ini, formula itu menampakkan hasil. Ajax tampil lebih kompetitif dari biasanya di ajang antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Mulai terjun sejak babak kedua kualifikasi, Ajax mampu melewati setiap babak sampai akhirnya berhasil memesan tiket 16 besar dengan masih menyisakan satu pertandingan.

Dua penampilan Ajax melawan Bayern dapat menjadi tolok ukur seberapa siap mereka berjalan di tengah kepungan klub raksasa Eropa yang selama beberapa tahun terakhir menghegemoni Liga Champions.

Ajax membawa pulang skor 1-1 dari markas Bayern pada pertemuan pertama, awal Oktober lalu. Banyak pengamat setuju, Ajax pantas memenangkan pertandingan karena lebih mendominasi dan hanya karena kecermelangan Manuel Neuer Bayern boleh lega dengan satu poin.

Kedua tim kembali bermain sama kuat 3-3 di Amsterdam, Rabu (12/12) malam. Situasi sedikit berbalik. Bayern lebih pantas membawa pulang kemenangan karena memiliki peluang lebih bagus untuk mencetak gol. Kali ini giliran Andre Onana yang tampil cemerlang dengan mematahkan dua peluang jarak dekat Robert Lewandowski.

Hasil imbang pada pertemuan kedua itu merupakan reality check buat Ajax. Memang mereka kembali mendominasi Bayern dengan rasio penguasaan bola 54 berbanding 46; unggul jumlah operan (555 berbanding 470); dan jumlah tembakan (17 berbanding 14). Namun, energi pemain Ajax terkuras pada sepuluh menit terakhir setiap babak.

Pendekatan Ajax berisiko tinggi. Mereka melancarkan tekanan garis tinggi, mengepung pemain lawan secara kolektif ketika kehilangan bola. Taktik ini menghabiskan tenaga, sekalipun pemain muda, dan rentan serangan balik. Ajax kerepotan menembus pertahanan ketat Bayern yang memasang duet bek jangkung, Jerome Boateng dan Niklas Sule. Bahkan beberapa kali pemain Bayern mampu melakukan turnover. Lagi-lagi, beruntung Onana tampil pada hari baiknya.

Ajax terlalu naif? Ten Hag tidak membantah.

"Idenya adalah menekan Bayern dengan sangat cepat dan sangat tinggi. Kami melakukannya. Tentu saja, ada beberapa momen ketika kami tampil begitu naif. Hal ini jelas tidak boleh terjadi di babak 16 besar nanti," ujar sang pelatih pada jumpa pers pascalaga.

"Kami baru saja menghadapi salah satu raksasa Eropa dan di babak selanjutnya kami akan menghadapi raksasa yang lain lagi. Kalau kami belajar dari kesalahan dan juga berlatih bagian-bagian dari permainan lebih sering, kami punya peluang."

Setidaknya keberanian itu mengembalikan nostalgia era keemasan Ajax. Kini, Ajax menanti hasil undian babak 16 besar, Senin mendatang. Klub besar dan kaya seperti Barcelona, Real Madrid, Juventus, Paris Saint-Germain, dan Manchester City sudah menunggu. Generasi De Ligt dan De Jong dipenuhi ambisi ingin merasakan lagi apa yang pernah dialami para pendahulu mereka: melangkah bersama para raksasa.

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Agenda Sepakbola Nasional 2019
2. Pemain Indonesia Jadi Starter Di Kompetisi Muda Spanyol
3. Cristiano Ronaldo: Datanglah Ke Serie A, Messi!
4. Laga Piala Indonesia PS TIRA Versus PSIM Rusuh
5. Peserta 16 Besar Liga Champions
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

 

GFXID Banner Liga Champions 2018/19

 

Topics