Aksi Instan RB Leipzig Wujudkan Mimpi Eropa

Tim yang disebut-sebut paling dibenci di Jerman ini memastikan diri lolos ke Liga Champions hanya berselang kurang dari delapan tahun sejak didirkan.

Sekitar sebulan menjelang hari ulang tahunnya yang kedelapan, RB Leipzig sudah lebih dulu mendapat kado istimewa. Kombinasi hasil di pekan ke-29 Bundesliga Jerman, Sabtu (15/4) lalu, membuat Leipzig dipastikan menyegel satu tempat di Liga Champions musim depan.

Kemenangan telak 4-0 atas SC Freiburg plus kekalahan tim peringkat kelima Hertha Berlin dari Mainz memastikan Leipzig tidak mungkin lagi terlempar dari empat besar klasemen. Leipzig pun sukses mewujudkan mimpi Eropa dalam kampanye debut mereka di kasta teratas sepakbola Jerman atau hanya berselang kurang dari delapan tahun sejak klub ini didirkan pada 19 Mei 2009.

Meski terkesan sebagai sebuah lompatan yang luar biasa, tidak semua pihak senang dengan pencapaian tim berjuluk Die Rotten Bullen (Sang Banteng Merah) itu. Banyak media menyebut Leipzig sebagai klub yang paling dibenci di Jerman. Sokongan modal kuat dari perusahaan minuman energi asal Austria, Red Bull, baru awal cerita.

Torcida RB Leipzig Bundesliga 06 04 2017

Kehadiran Red Bull dianggap merusak tradisi sepakbola Jerman yang dikenal protektif dalam kebijakan kepemilikan klub. Investor asing sebetulnya diperkenankan masuk, namun jangan harap ada dominasi penuh semacam Qatar Sports Investments di Paris Saint-Germain, Grup Abu Dhabi di Manchester City atau Rossoneri Sport Investment Luxembourg di AC Milan baru-baru ini.

Sepakbola Jerman punya aturan sakral dalam kepemilikan klub yang disebut "50+1" di mana saham mayoritas harus dimiliki oleh anggota klub – biasanya fans. Leipzig secara de jure memang tidak melanggar aturan tersebut, akan tetapi mereka memanipulasi aturan tersebut sehingga menimbulkan kontroversi dan kemarahan di seantero Jerman.

Leipzig diketahui tetap memiliki anggota klub yang menguasai 51 persen saham klub, namun cuma berisikan 17 orang yang seluruhnya merupakan pegawai Red Bull. Tiap anggota diharuskan membayar €800 per tahun. Jumlah tersebut sepuluh kali lipat lebih mahal dari iuran anggota klub di Bayern yang hanya €80 euro per tahun.

Sejumlah pihak, mulai dari fans hingga petinggi klub lain, sepakat menyebut Leipzig sebagai sebuah alat marketing dari Red Bull. "Mereka [RB Leipzig] melakukan hal yang sangat bagus dari aspek olahraga. Tapi klub itu dibangun untuk meningkatkan pendapatan Red Bull, tidak lebih dari itu," ujar CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke kepada BBC.

Dietrich Mateschitz, founder Leipzig dan Red Bull, punya pembelaannya sendiri. Menurutnya, kebencian terhadap Leipzig dilakukan oleh minoritas fans di Jerman. “Mereka [para haters Leipzig] adalah fans garis keras, hooligan atau ultras, yang ingin menyalahgunakan sepakbola demi kekerasan. Mereka cuma ingin mabuk dan menyalakan kembang api,” kecam Mateschitz seperti dikutip ESPN.

Terlepas dari kontroversi di atas, apa yang dilakukan Leipzig di dalam lapangan memang layak diapresiasi. Dengan koleksi 61 poin dan rataan gol hampir menyentuh dua gol per partai, pasukan Ralph Hasenhuttl sejauh ini adalah satu-satunya tim yang mampu menyaingi Bayern.

Kendati target menjadi juara Bundesliga musim ini rasanya mustahil, Die Rotten Bullen setidaknya sudah menunjukkan potensi untuk menjadi rival utama Bayern di musim-musim mendatang. Yang lebih istimewa, Leipzig melakukan semuanya itu dengan skuat termuda di Bundesliga 2016/17 (rata-rata 23,3 tahun).

Timnas Jerman patut berterima kasih kepada Leipzig karena mampu mengorbitkan Timo Werner sebagai ujung tombak masa depan Der Panzer. Belum lagi dengan melesatnya performa playmaker Emil Forsberg, penguasa assist Bundesliga, dan Naby Keita, sang jenderal lapangan tengah. Whoscored bahkan memasukkan keduanya ke dalam daftar empat besar pemain dengan rating tertinggi di Bundesliga musim ini.  

Empat kali promosi sejak 2009 tentu tidak akan diraih tanpa SDM mumpuni di belakang layar. Ralf Rangnick, yang bertindak sebagai direktur olahraga sejak 2012 dan sempat menjadi pelatih di musim lalu, adalah salah satu orang yang punya andil besar dalam lesatan instan Leipzig ini.

Di bawah visi dan kepemimpinan Rangnick, Leipzig kini punya Red Bull Arena yang tiketnya selalu sold out setiap pekan, sebuah tim yang fokus pada pengembangan usia muda, hingga fasilitas latihan ultramodern. Berawal dari akuisisi sebuah klub divisi lima bernama SSV Markranstadt, kini Leipzig berkembang menjadi salah satu klub modern yang siap memberikan lanskap baru di sepakbola Eropa.

Red Bull, 03192017Gara-gara Salzburg, partisipasi Leipzig di UCL 2017/18 masih abu-abu.

Tinggal satu pertanyaan tersisa, yakni soal potensi dicoretnya Leipzig dari Liga Champions musim depan lantaran klub sister mereka asal Austria, Red Bull Salzburg, hampir pasti lolos ke kompetisi elite antarklub Eropa itu. Keterlibatan dua klub yang berafiliasi dengan Red Bull itu bakal melanggar aturan UEFA yang melarang adanya dua klub yang dimiliki oleh satu sponsor, organisasi, atau orang yang sama untuk terlibat dalam kompetisi yang sama.

Namun, pihak Red Bull bersikeras bahwa Red Bull Salzburg dan RasenBallsport Leipzig adalah organisasi yang terpisah dan bersifat independen. CEO Leipzig Oliver Mintzlaff pada Februari lalu menyatakan, “Kami sama sekali tidak khawatir. Selain itu, belum ada sinyal larangan dari UEFA.”

Secara teori, Leipzig dan Salzburg bisa saja bertemu di fase grup Liga Champions 2017/18 dan jika terjadi hal itu tentu bakal terasa janggal. Seperti apa langkah yang ditempuh Leipzig mengatasi problem ini. Apakah aturan UEFA juga bakal mampu diakali sebagaimana aturan “50+1” di Bundesliga? Menarik untuk dinanti.

Topics