Alex Meret, Kemilau Intan Yang Belum Terjamah

Potensi mengagumkan Alex Meret sebagai salah satu kiper paling menjanjikan di Italia, seakan belum terjamah lantaran tertutup popularitas sosok lain.

Pelatih Timnas Italia, Giampiero Ventura, menyertakan empat wajah baru dalam skuatnya yang dipersiapkan untuk jeda internasional akhir Maret ini. Mereka adalah Danilo D'Ambrosio (bek sayap/ Inter), Leonardo Spinazzola (bek sayap/ Atalanta), Andrea Petagna (penyerang/ Atalanta), dan Alex Meret (kiper/ SPAL).

D'Ambrosio wajar dipanggil, meski usianya sudah 28 tahun, dia merupakan salah satu pilar kebangkitan Inter musim ini di bawah komando Stefano Pioli. Pun halnya dengan Spinazzola dan Petagna. Mereka jadi tombak kejutan Atalanta yang musim ini konsisten bersaing di zona Eropa Serie A Italia.

Namun bagaimana dengan Meret? Apakah Anda mengetahui penjaga gawang satu ini? Atau apakah Anda mengenal klubnya, SPAL? Usianya bahkan baru menginjak 20 tahun, dua hari lalu. Jangan pula samakan Meret dengan Gianluigi Donnarumma (18 tahun), yang sudah jadi sensasi dengan jadi kiper utama AC Milan.

Lantas mengapa Ventura memanggil Meret untuk jadi pilihan ketiga di bawah kiper sekelas Gianluigi Buffon dan Donnarumma? Sebelum pertanyaan makin banyak mengemuka, mari kita mengenal lebih dalam sosok Alex Meret.

Anda yang gemar bermain gim Football Manager, pasti tahu benar Meret. Dia merupakan salah satu pemain muda paling menjanjikan di permainan ini dan penilaian itu sejatinya juga berlaku di dunia nyata.

Pertama kali Meret sanggup menyita perhatian khalayak sepakbola, terjadi saat membela Timnas Italia U-19 pada Euro U-19 tahun lalu. Alih-alih memusatkan perhatian pada Federico Dimarco yang mematikan dalam eksekusi bola mati, Meret sukses membuat penikmat turnamen terkagum-kagum dengan respons fantastisnya.

Terutama dalam duel melawan Inggris di babak semi-final. Melakukan hingga sembilan penyelamatan eksepsional, Italia dibawanya melenggang ke partai puncak. Sayang di final Gli Azzurrini dibantai Prancis 4-0.

Namun momen mulai disorotnya Meret hingga membuat 'ngeh' khalayak sepakbola itu, jadi ironi tersendiri. Kemilaunya yang sudah tampak sejak masuk ke akademi Udinese di usia 10 tahun, selalu redup karena tertutup popularitas sosok lain.

Meret yang merupakan talenta asli kota Udine, adalah salah satu lulusan terbaik akademi Udinese. Di akademi, dirinya mampu meraih predikat kiper utama dalam semua level umur. Bahkan dia selalu jadi kiper utama Timnas Italia junior sejak U-15 hingga U-19.

Tak heran bila kemudian warga Udine terheran-heran, mengapa Udinese lantas lebih memilih Simon Scuffet untuk dipormosikan ke tim utama lebih dahulu. Rekan satu angkatannya itu kemudian sempat jadi buah bibir seantero Italia ketika jadi kiper utama Le Zebrette di musim 2013/14. Meret? Nyaris tak ada yang tahu namanya.

Pamor Scuffet lambat laun meredup, tapi Meret juga tak lantas menjulang. Sensasi luar biasa Donnarumma dengan jadi kiper utama Milan di usia 16 tahun, menutup sorotan terhadap kiper muda Italia lainnya termasuk Meret.

Apalagi jika berbicara level Timnas. Italia masih punya Buffon yang tetap luar biasa di usia 39 tahun. Adapula Mattia Perin, kiper atraktif Genoa meski kerap cedera. Juga sosok senior macam Federico Marchetti, Antonio Mirante, hingga Andrea Consigli, yang bergantian jadi pelapis Buffon di laga-laga Gli Azzurri.

Tapi kualitas memang tak pernah bohong. Performa brilian Meret di Euro U-19 jadi pembuka jalan menarik minat klub-klub Serie B Italia, untuk menjadikannya kiper utama. Dia kemudian memilih hijrah dengan status pinjaman ke SPAL, di bursa musim panas 2016 lalu.

Meret tak salah memilih SPAL. Klub yang baru dibranding ulang pada 2013 itu miliki ambisi yang jelas untuk menembus Serie A Italia musim depan. Dibantu oleh sederet pemain berpengalaman seperti Cristiano Del Grosso, Mirco Antenucci, dan Sergio Floccari, performa Meret terangkat.

Dari total 20 penampilannya di Serie B musim ini, penggemar berat Buffon tersebut kebobolan 18 gol dan catatkan tujuh clean sheet. Statistik itu membuat SPAL sukses puncaki klasemen sementara, dengan status pertahanan kedua terbaik liga karena baru kebobolan 29 gol.

Patut diperhatikan pula bahwa Meret juga jadi kiper dengan rasio kebobolan paling sedikit di Serie B, di angka 0,9 gol per partai. 11 gol lain yang bersarang ke jala SPAL, terjadi ketika dirinya urung bermain akibat cedera.

Pemanggilan ke Timnas Italia senior pun jadi apresiasi tinggi atas performa dan potensi fantastis Meret. Dia juga cukup beruntung karena pelatih La Nazionale, Ventura, dikenal sebagai pemburu intan yang belum terjamah.

Seperti diungkapkan La Gazzetta dello Sport, eks nakhoda Torino itu disebut punya relasi yang sangat baik dan kental dengan banyak direktur akademi muda klub-klub Italia. Terbentang, dari Serie A hingga Lega Pro!

Tak heran bila sebelum pemanggilan final, Ventura pernah mengadakan pemusatan latihan untuk para pemain potensial Negeri Pizza di akhir Februari lalu. Mereka yang berasal dari Serie B bahkan Lega Pro juga disertakan. Meret kemudian jadi satu-satunya pemain non-Serie A yang masuk skuat final.

Walau sukses menembus Timnas senior, publik tetap pesimistis dengan kans Meret jadi kiper utama Italia di masa depan. Buffon masih perkasa, Donnarumma dipandang jadi suksesor paling potensial, sementara Perin diyakini akan kembali bersaing setelah pulih dari cedera.

Menanggapi situasi itu, pernyataan bijak pun dilontarkan Meret. "Keberadaan rival itu menyenangkan dan sangat membantu. Situasi tersebut memaksa kami untuk selalu hadirkan performa terbaik. Kami hanya harus membuktikan siapa yang terbaik. Setelahnya biar pelatih yang menentukan," ungkapnya, seperti dikutip Tuttosport.

Topics