Alokasi Tuan Rumah Piala Dunia 2018 & 2022 Diinvestigasi

Diduga terjadi criminal mismanagement dan pencucian uang selama proses bidding untuk tuan rumah putaran final dua Piala Dunia yang akhirnya dimenangkan Rusia dan Qatar.

Kantor Kejaksaan Agung Swiss (OAG) telah membuka penyelidikan kriminal terkait alokasi Piala Dunia 2018 dan 2022.

Tak kurang dari sepuluh orang akan diinterogasi menyangkut criminal mismanagement dan pencucian uang selama proses bidding untuk tuan rumah putaran final yang akhirnya dimenangkan Rusia dan Qatar.

Data elektronik dan dokumen dari sistem IT FIFA telah diserahkan kepada OAG sebagai bagian dari "pengumpulan bukti pada basis kooperatif", sementara dokumen-dokumen bank yang terkait juga disita terkait potensi aktivitas ilegal jelang pemungutan suara pada Desember 2010 silam.

"Dalam penyelidikan kriminal Swiss, yang dibuka oleh OAG pada 10 Maret 2015, diduga bahwa terjadi kejanggalan dalam alokasi Piala Dunia 2018 dan 2022," demikian rilis resmi OAG.

"Pertambahan kekayaan yang tidak seusai ini diduga mengambil tempat, paling tidak sebagian, di Swiss. Lebih lanjut, kantor pusat dari pihak yang tertuduh, FIFA, berada di Swiss. Untuk alasan-alasan ini, dilakukan investigasi atas dasar kecurigaan criminal mismanagement (Pasal 158 ayat 1, Seksi 3 Kode Kriminal Swiss / SCC)."

"Terdapat juga kecurigaan pencucian uang melalui rekening bank Swiss (Pasal 305bis, SCC). Adapun menyangkut penyitaan data-data hari ini, OAG dan Kepolisian Kriminal Federal Swiss akan menginterogasi sepuluh orang yang ambil bagian dalam voting untuk alokasi Piala Dunia 2018 dan 2022 sebagai anggota dari Komite Eksekutif pada 2010."

"Orang-orang ini akan diinterogasi sebagai orang yang menyediakan informasi."

Investigasi ini terpisah dari penyelidikan Kejaksaan Agung AS menyangkut aktivitas kriminal dalam tubuh FIFA yang berujung pada penangkapan enam ofisial senior di Zurich, Rabu (27/5) pagi waktu setempat.

 

 

Topics