Alvaro Morata, Pemimpin Baru Juventus

Lewat performa brilian, Alvaro Morata jadi bintang kemenangan kandang perdana Juventus di Serie A Italia musim ini.

Akhirnya momen itu tiba, momen di mana Juventini bisa kembali berpesta secara lebih pecah di Juventus Stadium. Ya, Minggu (4/10), Juventus akhirnya sukses memetik kemenangan perdana mereka di Serie A Italia 2015/16 dengan menekuk Bologna 3-1.

Kala pertandingan berjalan lima menit, publik J Stadium sempat dibuat terdiam. Mereka dikejutkan oleh gol cepat Bologna yang dicetak Anthony Mounier. Seketika ingatan buruk musim ini muncul manakala Si Nyonya Tua selalu gagal meraih kemenangan di Serie A karena kebobolan terlebih dahulu.

Namun Juve sanggup mementaskan kembali Lo Spirito Juve. Mereka konsisten menekan pertahanan lawan hingga akhirnya gelontoran gol pun lahir, lewat Alvaro Morata, Paulo Dybala, dan Sami Khedira. Tim Hitam Putih pun menang meyakinkan 3-1.

Hasil itu mengatrol posisi tim asuhan Massimiliano Allegri ke peringkat 12 klasemen sementara, lewat koleksi delapan poin. Mengesampingkan Fiorentina, belum konsistennya tren hasil para pesaing seperti FC Internazionale, AS Roma, Napoli, hingga AC Milan, membuat kemenangan Juve atas Bologna berarti krusial.

Tapi Juve tentu enggan terperosok ke lubang yang sama, pasca jeda internasional nanti. Situasi nyaris serupa kala menang melawan Genoa, yang sebelumnya dimulai dengan kemenangan di Liga Champions, haram terulang jika tak ingin semakin tertinggal di Serie A.

Pemain yang paling menyita perhatian dalam pertandingan melawan Bologna tentu saja sang man of the match, Alvaro Morata. Bomber internasional Spanyol itu melanjutkan performa gemilangnya di Liga Champions, dengan terlibat dalam semua gol Juve.

Morata memulai aksinya di menit 33, lewat gol tandukan yang menyetarakan keadaan 1-1. Gol tersebut merupakan torehan perdananya di Serie A musim ini.Juve pun kemudian dibawanya unggul 2-1, menyusul pergerakan membahayakannya yang membuat Bologna harus menjatuhkan striker 23 tahun itu di kotak terlarang. Paulo Dybala yang jadi eksekutor tembakan 12 pas, melaksanakan tugasnya dengan baik. Terakhir, umpan terukurnya pada Sami Khedira, membuat sang gelandang berhasil mencatatkan gol debutnya di Serie A, sekaligus menutup laga dengan kemenangan 3-1.

Aksi Morata dalam pertandingan itu makin menegaskan jika perannya bagi La Vecchia Signora musim ini semakin krusial. Hal itu bagus untuk tim, karena di lini depan Juve dirinyalah penggawa paling senior. Tiga penyerang Tim Hitam Putih lainnya, yakni Paulo Dybala, Simone Zaza, dan Mario Mandzukic, baru datang ke Vinovo musim ini. Dengan status dan peran besarnya tersebut, maka sederhana saja jika mantan penggawa Real Madrid itu kini bisa disebut sebagai pemimpin Tim Zebra di lini depan.

"Saya sudah mengenal Morata bahkan sebelum bergabung dengan Juve. Jelang kepindahan saya ke Turin, dia begitu rajin menghubungi saya dan mengatakan segala hal baik soal klub ini. Dia sosok yang sangat baik. Hubungan dan pengalamannya di Juve benar-benar membantu saya, Zaza, bahkan Mandzukic yang secara karier lebih senior untuk merasa nyaman di Juve," ujar Dybala pada Mediaset, mengungkap peran penting Morata.

Hal lain yang bisa dipelajari dalam partai ini adalah isyarat kuat, jika Allegri sudah menemukan formasi dan komposisi terbaik timnya musim ini. Ya, untuk kali pertama di musim ini Juve menggunakan formasi dan komposisi yang sama dalam dua partai beruntun. Dalam delapan partai sejak memulai musim, tak pernah sekalipun La Vecchia Omcidi mempertahankan formasinya. Entah karena cedera atau eksplorasi taktik sang allenatore. Namun kali ini Allegri mempertahankan formasi 3-5-2 plus komposisi pemainnya kala hadapi Sevilla di Liga Champions tengah pekan lalu. Sirkulasi permainannya pun sama persis, dengan skema tersebut bisa seketika berubah menjadi 4-4-2 tergantung kebutuhan.

Di lini belakang sorotannya ada pada Andrea Barzagli, yang dituntut bermain lebih melebar ketika formasi berubah menjadi empat bek. Kebijakan itu terpaksa dilakukan Allegri menyusul krisis di pos bek kanan. Hebatnya, bek gaek berusia 34 tahun itu sanggup menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Ia tak lelah berlari naik ke lini depan membantu serangan, tapi cepat kembali ke areanya di belakang. Pemenang Piala Dunia 2006 itu memang tak seeksplosif Stephan Lichtsteiner ataupun Martin Caceres, tapi hal itu mampu ditutupi dengan overlap Sami Khedira yang mulai kembali ke bentuk terbaik. Pergerakan keduanya jelas memudahkan Juan Cuadrado sebagai sayap kanan, sekaligus memberinya ruang lebih untuk mementaskan tariannya dengan bola.

Meski begitu masalah tetap hadir, menyangkut pengaturan tempo permainan. Tanggung jawab itu ada pada pemain yang menjalankan peran Andrea Pirlo musim lalu sebagai regista, yakni Hernanes. Gol dari Bologna seharusnya bisa dihindari, karena Juve memilih meladeni permainan terbuka Bologna selepas kick-off. Tempo permainan kemudian jadi semakin cepat dan terkesan terburu-buru ketika tertinggal hingga kedudukan berimbang 1-1. Peraih scudetto empat musim terakhir itu kemudian baru menemukan tempo terbaik dalam mengontrol laga, setelah menerima penalti yang membuat mereka unggul 2-1.

Masalah itu sepertinya akan segera berakhir seiring bertambahnya jam terbang Hernanes yang tak terbiasa sebagai regista, dan pulihnya Claudio Marchisio dari cedera. Dalam kacamata yang lebih besar, segalanya juga akan lebih baik dengan sudah hadirnya Kwadwo Asamoah, dan segera kembalinya Martin Caceres, Stefano Sturaro, dan Mario Mandzukic. Mumpung Serie A belum seperempat waktu berjalan, Allegri kini bisa benar-benar memulai musimnya dengan La Fidanzata d'Italia

 

Topics