Alvaro Morata Yang Tak Perlu Dirindukan

Chelsea beruntung bisa mendapatkan striker top sekelas Morata, tapi bukan berarti Real Madrid akan meratapi kepergian sang striker.

Malang betul nasib Alvaro Morata. Dua kali dipanggil tim senior Real Madrid, dua kali pula ia dilempar keluar. “Pembuangan” yang pertama kiranya patut dimaklumi karena striker Spanyol itu masih terlalu hijau untuk Los Blancos. Lagipula, Carlo Ancelotti tidak menjual Morata ke sembarang klub, melainkan ke raksasa Italia Juventus yang punya reputasi wahid. Cerdiknya lagi, jajaran direksi Madrid menyelipkan klausul pembelian kembali.

Ketika Morata membawa Juventus ke final Liga Champions 2015, di mana El Real jadi batu lompatan di semi-final, ketertarikan terhadap Morata muncul kembali. Bintang muda tersebut memang tidak terlalu klinis di depan gawang, namun golnya kerap kali krusial dan kreativitasnya mulai terbentuk. Walau begitu, Real Madrid tidak langsung memulangkannya – entah karena kurang yakin atau Rafael Benitez menolak kedatangannya.

Baru setahun kemudian Zinedine Zidane, yang diberi kepercayaan untuk beraksi di bursa transfer untuk pertama kalinya, membulatkan tekadnya untuk memboyong Morata. Tujuh gol, tujuh assist, dan 21 umpan kunci adalah statistik yang membuat Zidane tertarik memulangkannya. Media Spanyol pun berlomba-lomba meramalkan karier Morata dan memprediksi bintang 23 tahun itu bakal jadi penerus sahih trio BBC (Gareth Bale, Karim Benzema, Cristiano Ronaldo) yang menua.

Kepulangan Morata ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Kariernya memang sampai pada titik tertinggi dengan koleksi 15 gol dalam 26 laga di La Liga Spanyol, namun pencapaian itu tidak diraih sebagai pemain reguler. Dari total laga tersebut, hanya lima kali Morata bermain 90 menit penuh dan 14 kali sebagai starter. Di satu sisi, statistik itu menunjukkan hal luar biasa (Morata hanya kalah dari Lionel Messi dalam rata-rata gol per menit), tetapi sekaligus menyiratkan keprihatinan.

Bagaimana mungkin seorang striker yang mencapai performa puncaknya justru lebih sering jadi penghangat bangku cadangan? Banyak orang mempertanyakan keputusan Zidane, namun legenda Prancis itu membungkan kritik dengan mengawinkan gelar La Liga dan trofi Liga Champions. Kritikus bungkam dan Morata kembali ragu akan masa depannya di ibu kota Spanyol. Mantan didikan Atletico Madrid itu akhirnya hengkang ke Chelsea dengan tebusan £70 juta.

Komentar-komentar nyinyir terkait pembuangan kedua Morata tak terhindarkan. Tidak sedikit dari publik sepakbola yang berpikir Morata adalah aset yang sangat berharga untuk El Real. Ada yang mengklaim striker tajam itu saying dibuang, ada pula yang menilai seharusnya Zidane melepas Benzema. Namun perlu disadari, preferensi Zidane terhadap Benzema tidak berakar pada primordialisme.

Harmoni BBC dan Peran Benzema

Masih ingat ketika BBC selalu ditandingkan dengan MNC (Lionel Messi, Neymar Luis Suarez)? Trio penyerang Real Madrid itu mencapai era puncaknya di musim 2015/16. Walau Madrid hanya mencetak 110 gol (musim sebelumnya 118), tiga megabintang itu menjalin kerja sama terbaik di tangan Zidane. Total 78 gol dicetak oleh trio tersebut hanya di La Liga, nyaris 75 persen gol El Real merupakan sumbangsih ketiganya.

Dalam hal kerja sama tim, kombinasi tiga pemain itu turut berperan besar. Total 142 peluang diciptakan dari keseluruhan 561 yang dibuat oleh Madrid. Trisula Zidane tidak hanya pandai mencetak gol, tetapi membuka ruang untuk setiap anggota tim. Tak heran, Madrid yang sempat diprediksi jauh dari gelar La Liga (karena buruknya era Benitez), tiba-tiba menekan Barca di sepertiga akhir musim, kemudian menggendong Si Kuping Besar tak lama setelah Zidane ditunjuk.

Mantan pelatih Castilla itu memprioritaskan kombinasi ketiga pemain supernya pada musim selanjutnya. Tidak heran, Alvaro Morata lebih sering dicadangkan di paruh pertama musim. Trio BBC tampil impresif dan harmoni ketiganya tak bisa diganggu gugat. Masalah – atau kesempatan dari perspektif Morata – baru tiba ketika Bale mengalami cedera. Keseimbangan trio BBC mulai terganggu pada tahap ini.

Karim Benzema Gareth Bale Cristiano Ronaldo Isco Real Madrid

Ronaldo Benzema

Benzema, komplementer utama Ronaldo

Benzema mampu mencetak enam gol dan satu assist dari sepuluh penampilan starter sebelum Bale absen, tapi produktivitasnya mengalami penurunan pada selanjutnya. Layaknya sebuah tenda kaki tiga yang kehilangan satu rusuknya, trio BBC turut hilang pijakan. Morata diharapkan mampu mengisi ruang kosong tersebut, namun siapa sangka, nasib bintang Spanyol itu tak mengalami perubahan.

Zidane lebih cenderung memainkan Isco sebagai sayap atau menduetkan Benzema dengan Ronaldo sebagai striker. Ketajaman di depan gawang sedikit melorot, namun absennya pasokan dari Bale bisa dipertimbangkan sebagai salah satu faktor utama. Toh, peran Benzema bagi El Real masih sangat penting, terutama untuk menjaga keseimbangan tim. Hal ini terbukti dari total 38 peluang yang mampu dibuat oleh Benzema dan kerja sama Ronaldo dengannya masih terjalin dengan sangat baik.

Alasan di balik preferensi Zidane mulai terlihat dari sini. Mata tajam yang mampu menyadari ruang sempit untuk mencetak gol memang penting, tapi akan lebih bermanfaat jika mata striker tak cuma mengarah ke gawang. Seandainya tak ada sedikit pun ruang untuk menembak, striker harus awas pada pergerakan rekan setimnya dan menyajikan peluang dari ruang yang lain. Benzema adalah tipe striker semacam ini dan kiranya senada dengan filosofi Zidane, yang berusaha membangun tim di mana semua aspek berfungsi secara sinergis.

Morata memang lebih andal soal membobol gawang, namun kurang berkontribusi dalam penciptaan peluang. Rata-rata 0,87 kesempatan per laga diciptakan oleh Morata, sementara Benzema mampu membuat nyaris dua kali lipat (1,57). Pengambilan keputusan Benzema dalam mengoper juga unggul jauh dari Morata, bandingkan dalam statistik lengkap di bawah ini. Build-up yang dilakukan striker Prancis itu sangat menonjol, walau end product-nya tak lagi sementereng musim 15/16.

Akhir Era Los Galacticos?

Morata adalah striker hebat, tidak diperlukan debat panjang lebar untuk membuktikan ini. Rasio golnya sudah cukup berbicara dan Chelsea beruntung bisa mendapatkan striker Spanyol ini di puncaknya. Antonio Conte mungkin sudah melakukan simulasi taktik dengan Morata sebagai penyerang tengah dalam pikirannya, tinggal menunggu bagaimana simulasi itu bekerja di lapangan hijau.

Kendati begitu, fans Madrid tidak perlu meratapi kepergian sang striker. Seandainya BBC mampu pulih dan bugar musim depan, Los Blancos punya kesempatan besar untuk mencatatkan sejarah. Lagipula, klub asuhan Zidane itu masih dianggap sebagai kekuatan besar di sepakbola (finansial dan historis) dan takkan sulit untuk mendatangkan pemain top yang seirama dengan filosofi saat ini.

Soal pemain yang akan menggantikan Morata? Kombinasi trio BBC sudah pasti jadi prioritas musim depan, tapi ada beberapa alternative yang sudah dikaitkan dengan Madrid. Kylian Mbappe dari AS Monaco disebut sebagai kandidat terkuat, disusul oleh Timo Werner-nya RB Leipzig, dan Paulo Dybala milik Juventus. Nama ketiga sedikit sulit diwujudkan, mengingat Juventus bersikeras mempertahankannya.

Tinggal menunggu langkah nyata presiden Florentino Perez, namun sepertinya takkan ada transfer megabintang lagi musim ini. Suara Zidane tampaknya berpengaruh besar dalam kebijakan Real Madrid dan sang pelatih tak terlalu tergoda dengan hingar-bingar bursa transfer musim ini.  Sejatinya, kepergian Morata itu sendiri menegaskan satu hal penting di era Zidane: berakhirnya era Los Galacticos.