ANALISA: Atletico Madrid Di Tangan Diego Simeone, Atraktif Atau Konservatif?

Simeone melakukan perubahan permainan Atletico menjadi tim yang mengusung keseimbangan.

OLEH HAPPY SUSANTO Ikuti di twitter
Publik sepakbola kini sedang terpukau dengan kehebatan pelatih asal Argentina yang mampu membawa Atletico Madrid melaju ke final Liga Champions untuk pertama kali sejak 1974 (ketika itu masih bernama Piala Champions). Diego Simeone, sang pelatih muda itu, berpeluang mencatatkan sejarah buat klub kalau mampu membawa Los Rojiblancos menjadi penguasa Eropa untuk pertama kali kala bertemu dengan rival satu kota, Real Madrid, di final yang berlangsung di Estadio da Luiz, Lisbon, Minggu (25/5) dinihari WIB.

Simeone baru saja berjasa membawa klubnya meraih gelar Primera Liga Spanyol yang kesepuluh usai bermain imbang 1-1 kontra tuan rumah Barcelona di laga pamungkas di Camp Nou, akhir pekan lalu. Ya, pelatih berusia 44 tahun itu mampu membawa klub menguasai sepakbola Spanyol setelah sembilan tahun lamanya hanya dikuasai Barcelona dan Real Madrid. Terakhir kali timnya menjuarai La Liga sebelum musim 2013/14 ini adalah ketika ia berstatus sebagai pemain, yakni musim 1995/96.

Sejak menangani Atletico pada 23 Desemeber 2011 atau dua setengah tahun, Simeone sudah menghadirkan empat gelar, yakni La Liga (2013/14), Copa del Rey (2012/13), Piala Super Eropa (2012), dan Liga Europa (2011/12). Jadi, sebenarnya pelatih yang pernah membela Atletico selama lima musim (1994-1997 dan 2003-2005) dengan menghadirkan satu gelar La Liga (1995/96) dan satu Copa del Rey (1995/96) itu membutuhkan Liga Champions untuk melengkapi koleksi trofinya di lemari klub.

Sejak Simeone bergabung ke Vicente Calderon sebagai arsitek tim, banyak perubahan yang dilakukannya.

Kerja kerja dan kesabaran yang dilakukan Simeone selama ini membuahkan hasil yang membanggakan. Atletico menjadi tim yang cukup mengejutkan musim ini. Tanpa memiliki pemain-pemain berlabel top dunia, sang pelatih mampu menyulap mereka menjadi tim yang "menakutkan" di musim ini.

Barcelona sudah menjadi korban keganasan Atletico di musim ini. Mampu menahan tim tamu di pertemuan pertama di La Liga di Calderon dengan skor 0-0, dan menahan imbang 1-1 di Camp Nou sekaligus memastikan gelar di pekan terakhir. Demikian pula di ajang Liga Champions. Di leg pertama babak perempat-final, Diego Costa dkk mampu mencuri satu gol di markas lawan dengan skor 1-1, dan memastikan diri lolos ke semi-final berkat gol tunggal Koke di kandang sendiri.

Head-to-head Atletico dengan Real Madrid di La Liga juga cukup baik musim ini. Mereka mampu mencuri kemenangan 1-0 di Santiago Bernabeu dan menahan imbang 2-2 tim tamu di Calderon. Namun, performa apik di liga itu tidak berbanding lurus dengan pertemuan kedua tim di Copa del Rey. Los Blancos menang agregat 5-0.

FORMASI 4-4-2

PENJAGA GAWANG

Thibaut Courtois

Atletico memiliki organisasi permainan yang cukup kuat di sektor pertahanan dan mereka punya keahlian team work yang bagus. Mereka biasanya tidak memberi ruang kepada lawan untuk melakukan penetrasi, dan ini kenapa mereka bisa mengatasi tim-tim yang punya naluri menyerang cukup tinggi, seperti Barcelona dan Real Madrid, khususnya di liga domestik.

Kebugaran dan kemampuan teknik dari para pemain Atletico juga sangat mengagumkan. Mereka mampu menjaga penguasaan bola dan bekerja keras untuk meraih kembali penguasaan bola, seperti yang ditunjukkan di perempat-final Liga Champions kontra Azulgrana.

Sepakbola modern sekarang ini disuguhkan gaya permainan fenomenal dengan ciri khas penguasaan bola, seperti yang dilakukan Pep Guardiola ketika masih di Barcelona dan sekarang bersama Bayern Munich. Namun, orang lupa salah satu kesulitan dalam sepakbola profesional adalah bagaimana meutup pertahanan atau ruang antara bek-bek atau pemain-pemain untuk menghentikan lawan mendapat peluang berpenetrasi.

Kita bisa lihat bagaimana Atletico bisa sukses di dalam aspek ini sepanjang musim. Mereka bisa menjaga pergerakan pemain-pemain hebat seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan striker-striker atau gelandang-gelandang lain yang berpotensi mencetak gol lawan mereka.

Banyak pelatih saat ini perlu belajar dari Simeone, termasuk Guardiola sekalipun. Kedua pelatih ini sebenarnya sama-sama bagus, namun Pep masih lemah di sisi pertahanan dan ia masih perlu mengembangkan pemain tim untuk masa mendatang.

Dari sisi pertahanan, Opta mencatat Atletico mampu melakukan enam kali clean sheet dari 12 pertandingan di ajang Liga Champions dengan kebobolan enam gol atau rata-rata 0,5 per laga. Thibaut Courtois terbilang cukup penting perannya sebagai penjaga gawang. Posisi empat bek sejajar, yang ditempati Juanfran, Miranda, Diego Godin, dan Felipe Luis juga cukup sigap dalam mengawal pertahanan tim.

Atletico memiliki akurasi umpan sebesar 78,1 persen dan umpan silang sebanyak 179 kali dengan suskesnya 45 kali. Di lini tengah, Gabi dan Tiago berperan sentral dalam distribusi bola dan menjaga tim ketika sedang diserang. Arda Turan di sisi kiri dan Koke di sisi kanan membuat sayap tim menjadi hidup. Sayang, sayap kiri diragukan bisa tampil karena mengalami cedera ketika lawan Barcelona akhir pekan lalu.

David Villa dan Diego Costa cukup efektif sebagai duet penyerang di depan. Sayang, pemain kedua yang mencetak delapan gol dari delapan pertandingan di Liga Champions musim ini diragukan bisa tampil di final. Secara keseluruhan, Atletico mampu mencetak 25 gol dari 12 pertandingan dengan rata-rata 2,08 gol per laga. Finishing touch mereka terbilang sangat bagus karena 23 dari total gol itu dilakukan dari dalam kotak penalti. Tidak ada gol dari situasi bola mati, dan hanya dua lewat titik putih.

Atletico belum terkalahkan di Liga Champions musim ini. Menarik disaksikan laga final kontra klub satu kota untuk membuktikan siapa klub terbaik, tidak hanya di satu kota, tapi juga di level Eropa. Anda dukung siapa?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics