ANALISIS: Argentina Harus Berani Katakan Tidak Pada "Messi-Dependencia"

Argentina harus menemukan resep jitu untuk mengatasi ketergantungan pada pemain terbaik mereka.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Apa yang Anda harapkan dari Argentina jika mereka tak diperkuat Lionel Messi? Seandainya hal tersebut terjadi saat ini juga, ketika Belanda menanti mereka di semi-final Piala Dunia 2014 pada Kamis (10/7) dini hari WIB, mungkin Argentina hanya punya peluang menang seujung kuku.

Untungnya tidak. Sejauh ini, Messi tak punya beban cedera atau beban kartu sehingga ia dipastikan bisa tampil melawan Belanda di Sao Paulo. Peluang Argentina untuk menang sangat terbuka lebar dengan Messi, namun dengan Messi pula ditemukan kelemahan Albiceleste.

“Messi-dependencia”. Demikian pers Spanyol menjuluki ketergantungan Barcelona akan pemain bintangnya itu dalam beberapa musim terakhir. Di laga-laga tertentu, Barca bak kehilangan roh permainan jika sang peraih Ballon d’Or empat kali itu absen. Dan kondisi ini sudah tertular ke tubuh Argentina.

Kondisinya begitu kentara di seluruh laga yang dimainkan Argentina di Piala Dunia 2014. Memang, mereka mengantungi 100 persen kemenangan dalam seluruh laga yang mereka mainkan hingga akhirnya lolos ke semi-final untuk pertama kali dalam 24 tahun terakhir, tapi di situ terselip kekhawatiran.

Ya, Messi sudah menyumbang empat gol dan satu assist dari delapan gol Argentina yang dicetak di Brasil, alias 62,5 persen gol tercipta melalui dirinya. Persentase itu seharusnya bisa lebih tinggi lagi, karena belum termasuk gol bunuh diri Sead Kolasinac (Bosnia-Herzegovina) yang berawal dari tendangan bebas Messi. Praktis, Messi menjadi tumpuan nomor satu dari permainan Argentina.

Beban penyerang berusia 27 tahun itu terasa kian besar karena Angel Di Maria, sang winger yang kerap membantu Messi membongkar pertahanan lawan lewat pergerakan bebasnya, harus absen akibat cedera paha. Enzo Perez, yang lebih tampil defensif ketimbang Di Maria, diharapkan bisa mengisi kekosongan ini. Selain itu, performa partner Messi di lini depan sejak awal turnamen tak banyak membantu.

Beban Lionel Messi semakin berat sepeninggal Angel Di Maria yang cedera.

Namun, terselip satu kekhawatiran lagi karena lima kemenangan yang diraih Argentina tersebut hanya diraih dengan margin satu gol dan tiga di antaranya berakhir dengan skor 1-0 (versus Iran, Swiss, dan Belgia). Tak ada kemenangan meyakinkan seperti yang diperoleh Jerman, calon lawan yang menanti Argentina-Belanda di partai puncak.

Dengan demikian, Alejandro Sabella punya pekerjaan rumah yang tak sedikit. Ada beberapa formula yang kiranya bisa menjadi acuan bagi Sabella untuk bisa bereksperimen ketimbang hanya mengandalkan Messi.

Pertama, maksimalkan para pendamping Messi di lini depan seperti Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Ezequiel Lavezzi, atau Rodrigo Palacio yang sejauh ini masih kurang terlihat. Setidaknya hal ini sudah bisa dibuktikan di partai perempat-final kontra Belgia pekan lalu. Ketika itu, Higuain mencetak gol penentu dan menjadikankannya sebagai penyerang Argentina pertama selain Messi yang mampu membobol gawang lawan.

Kedua, absennya Nigel De Jong di kubu lawan harus bisa dimanfaatkan secara bersama-sama oleh Argentina. Lubang di lini tengah ini harusnya bisa leluasa diobrak-abrik tak hanya oleh Messi saja. Memanfaatkan gelandang berteknik tinggi seperti Ricky Alvarez, Maxi Rodriguez, atau Enzo Perez bisa menjadi solusi untuk mendominasi lini tengah.

Pemain berpengalaman seperti Javier Mascherano dan Pablo Zabaleta bisa jadi pembeda.

Ketiga, adalah faktor pengalaman. Usia rata-rata pemain Argentina (28,92 tahun) yang lebih tinggi ketimbang Belanda (26,46 tahun) bisa menjadi acuannya. Selain itu, Belanda juga menurunkan lebih banyak debutan Piala Dunia ketimbang Argentina.

Baru-baru ini, keberhasilan Jerman menghancurkan Brasil 7-1 pada semi-final, Rabu (9/7) dini hari WIB tadi, juga tak lepas dari faktor pengalaman. Jerman yang bermaterikan banyak pemain yang diambil dari Piala Dunia sebelumnya, terbukti kelewat matang ketimbang Brasil yang menurunkan banyak sekali pemain debutan.

Inilah beberapa jawaban yang kiranya dibuktikan Argentina seandainya Messi berhasil dimatikan oleh lini belakang Oranje. Messi tetap boleh diandalkan, sebagaimana perannya di Argentina saat ini tak terbantahakan dan memang performanya lebih baik ketimbang beberapa tahun sebelumnya.

Tapi sekali lagi, Messi tak boleh terlalu jadi tumpuan utama. Jika beban puncak Messi sudah melewati limitnya, Argentina harus rela siap-siap menantang tuan rumah Brasil di tempat perebutan juara ketiga pada 12 Juli mendatang di Brasilia.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics