ANALISIS - David Moyes Vs. Pep Guardiola: Dua Manajer Pewaris Tim Juara Beda Warisan

Moyes dan Guardiola mewarisi tim juara dari manajer sebelumnya, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok...

ANALISIS ADHE MAKAYASA Ikuti di twitter
Akhir musim 2012/13 boleh dibilang sebagai awalan baru bagi dua tim raksasa Eropa. Seperti diketahui, di akhir musim kemarin merupakan titik puncak dari perjalanan seorang manajer Manchester United Sir Alex Ferguson dan Bayern Munich Jupp Heynckes.

Kedua manajer hebat itu sama-sama memutuskan pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya. Dalam hal ini, Ferguson mengakhiri petualangannya di Old Trafford setelah berkuasa hampir selama 27 tahun, sedangkan Heynckes memilih pensiun usai mencapai fase terhebat dalam karirnya di Bavaria, dengan membimbing timnya meraih treble winners.

Mengetahui timnya tidak akan ditangani oleh sosok yang sama, baik United dan Bayern sama-sama bergerak mencari figur baru. Bayern selaku penguasa di Jerman bahkan telah membidik mantan pelatih Barcelona Pep Guardiola jauh-jauh hari. Dan pada awal tahun 2013, Die Roten pun secara resmi mengonfirmasi bahwa pria Spanyol tersebut akan menjadi penerus rezim Heynckes di musim berikutnya.

Juni, Pep Guardiola secara resmi diperkenalkan oleh Bayern.
Sementara itu, Ferguson selaku sang penguasa sesungguhnya di Old Trafford menjatuhkan pilihan pada David Moyes, manajer Everton, yang berkebangsaan sama dengannya, Skotlandia. Dan tepat pada 9 Mei tahun kemarin, Fergie memberitahu kepada dunia bahwa Moyes-lah yang akan mengurusi United setelah ia pergi.

“Kami sepakat dengan David Moyes,” ujar Ferguson kala itu. “David adalah seorang pria dengan integritas dan etos kerja yang hebat. Saya mengagumi kerjanya dan pendekatannya untuk sekian lama sebagaimana pada 1998 saya sempat menawarinya posisi sebagai asisten manajer di sini. Tidak perlu diragukan lagi, dia memiliki segala kualitas yang kami harapkan untuk menjadi manajer di klub ini,” papar Fergie.

The Chosen One, David Moyes dipilih langsung oleh Sir Alex Ferguson.
Adapun, tim United yang di musim kemarin meraih gelar Liga Primer sejatinya merupakan skuat yang mulai terlihat pori-pori kelemahannya. Dimulai pada 1 April 2013, di ajang Piala FA, The Red Devils ditumbangkan Chelsea dengan skor 1-0 di Stamford Bridge berkat lesakan Demba Ba. Dan setelah kekecewaan tersebut, mereka yang sedang berjuang memastikan gelar ke-20 harus menyerah 2-1 dari Manchester City di kandang sendiri.

Meski kemudian berhasil menang 2-0 di markas Stoke City via gol Michael Carrick dan Robin van Persie, United harus kembali tertatih mengejar impiannya lantaran ditahan imbang West Ham 2-2, yang sekaligus memutus rekor kemenangannya atas The Hammers di delapan partai liga sebelumnya.

Dengan mengetahui bahwa kemenangan di partai berikutnya melawan Aston Villa akan menghadirkan trofi juara, United pun tampil kesetanan dengan menghancurkan gawang Brad Guzan tiga gol tanpa balas, semuanya berkat andil Van Persie.

Sepakan voli Van Persie memastikan trofi Liga Primer ke-20 di lemari.
Namun sesungguhnya, kepastian gelar ke-20 itulah yang pada akhirnya menjadi titik balik dari United. Dalam empat pertandingan liga terakhir mereka, tim Setan Merah hanya mampu meraih satu kemenangan, itu pun dengan susah payah saat menjamu Swansea City, dan dua hasil seri. Bahkan di sela-sela itu, Chelsea kembali mampu mengalahkan mereka dengan skor sama 1-0.

Skuat United di awal musim 2012/13 memang terlihat istimewa, lantaran mereka kedatangan top skor Liga Primer musim sebelumnya, Robin van Persie, yang didatangkan dari Arsenal. Akan tetapi, di pertandingan terakhir di musim lalu mereka justru menunjukkan kerapuahnnya di laga final Sir Alex Ferguson sebagai manajer.

Sempat unggul 3-1 di markas West Bromwich Albion, Ferguson pada akhirnya harus menerima fakta bahwa laga perpisahannya harus berakhir imbang 5-5, dengan The Baggies yang sukses mencetak tiga gol hanya dalam rentang waktu lima menit di 10 menit terakhir - Romelu Lukaku bahkan mencatat hat-trick di partai ini.

Lukaku berselebrasi dengan background skuat United yang kecewa.
United jelas mulai menunjukkan penurunannya, disertai fakta bahwa para pemainnya di partai itu memasuki usia yang tidak lagi muda. Michael Carrick, Van Persie, Ryan Giggs, Paul Scholes dan Rio Ferdinand merupakan lima pemain yang berusia 30 tahun atau di atasnya, dengan rata-rata usia adalah 29 tahun.

Berbeda dengan tim Munich arahan Heynckes yang menggengam trofi Liga Champions di Wembley, rataan usia skuatnya saat menjadi juara ada di angka 26. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa Heynckes bakal mewariskan tim yang memiliki masa depan lebih panjang ketimbang Ferguson.

Heynckes pergi dengan supremasi tertinggi dan tinggalan pemain mumpuni.
Di musim ini, Moyes selaku sang penerus harus berurusan dengan tinggalan Fergie yang tidak lagi muda namun masih diandalkan seperti Patrice Evra (32), Nemanja Vidic (32), Rio Ferdinand (35), Ryan Giggs (40) dan Van Persie (30), serta pemain lainnya yang sebentar lagi akan memasuki usia 30 tahun seperti Anders Lindegaard (29), Darren Fletcher (29), Ashley Young (28), Antonio Valencia (28) hingga Wayne Rooney (28).

Celakanya, para pemain seperti di atas hampir dikatakan belum ada yang mampu menggantikan. Duet lini belakang United yang sebelum ini konsisten diisi Rio dan Vida bahkan belum bisa disamai level konsistensinya oleh duet macam Jonny Evans, Phil Jones atau Chris Smalling sekalipun.

Berkebalikan dengan Moyes, Guardiola yang menjadi pewaris di Allianz Arena hanya memiliki sedikit pemain yang akan ‘expired’. Tercatat, hanya kiper Tom Starke, bek Daniel van Buyten dan striker Claudio Pizarro lah yang sudah menginjak usia di atas 30 tahun. Dalam hal ini, peran ketiga pemain itu tidak terlalu banyak karena Bayern memiliki stok yang lebih baik di posisi tersebut.

Pizarro, salah satu pemain Bayern yang akan kedaluwarsa.
Sementara itu, Heynckes juga meninggalkan pemain yang kiranya mampu meregenerasi para penggawa yang sudah atau akan mencapai usia 30 tahun macam Philipp Lahm (30), Dante (30), Franck Ribery (30), Bastian Schweinsteiger (29) dan Arjen Robben (29), dengan mempercayakan Holger Badstuber (24), Diego Contento (23), Xherdan Shaqiri (22), Thomas Muller (24), Toni Kroos (24), hingga Javi Martinez (25).

Dengan fakta seperti demikian, maka terseok-seoknya Moyes di musim ini bukan lagi kejutan. Satu kesalahannya di musim panas kemarin mungkin adalah gagalnya ia mendatangkan para pemain incaran, yang kemungkinan besar akan membuat United gagal mempertahankan gelar.

Robbie Savage, mantan pemain akademi United yang pernah membela Blackburn Rovers hingga Derby County, di awal musim bahkan sudah memperingkatkan bahwa Old Trafford tidak akan disambangi trofi di gelaran kali ini, mengingat apa yang terjadi pada Manchester City setelah gagal mendaratkan Van Persie.

“City kehilangan gelar musim lalu bahkan ketika musimnya belum dimulai lantaran mereka gagal di bursa transfer musim panas dengan melewatkan Robin van Persie,” demikian Savage.

“12 bulan kemudian, saya khawatir bahwa Manchester United akan menyesal dengan mereka yang gagal di deadline day – dan saya rasa mereka bisa mengucapakan selamat tinggal untuk menjadi yang nomor satu di Liga Primer.”

Savage menilai United harus membayar mahal kegagalannya di musim panas.
Savage tentu memiliki pendapatnya sendiri setelah melihat United yang hanya mendatangkan satu pemain saja, yakni Marouane Fellaini seharga 27 juta poundsterling, yang mana ia nilai tidak layak dihargai semahal itu.

“Mari kita coba bersikap adil kepada David Moyes: Tidak ada yang tahu Fellaini lebih baik ketimbang manajer United itu, dan jika Moyes berpikir bahwa transfernya itu akan menjadi pemain andalan di Old Trafford, mungkin hanya waktu yang akan membuktikan bahwa dia benar.”

Benarkah Moyes dengan transfernya itu? Sejauh ini salah, lantaran Fellaini lebih banyak gagal ketimbang berhasil dalam aspek permainannya. Dari delapan penampilannya di Liga Primer musim ini, Fellaini hanya mampu melancarkan 11 tekel sukses dari 25 kesempatan, dengan ia yang tampil penuh sebanyak tiga kali, diganti sekali dan dimasukkan sebagai pemain pengganti di empat laga.

Fellaini terlihat menutup muka saat duduk di bangku cadangan.
Akan tetapi, pria Skotlandia itu memiliki sisi positif: berani menurunkan penggawa muda. Satu pemain yang mengorbit di bawah arahan Moyes adalah Adnan Januzaj, yang masih berusia 18 tahun.

Sementara ia sibuk meroketkan Januzaj, Moyes memberi kesempatan pada youngster lainnya seperti Nick Powell, Jesse Lingard hingga dua bersaudara William Keane dan Michael Keane untuk menimba ilmu di klub lainnya.

Januzaj, salah satu youngster yang ditunjukkan jalur orbitnya oleh Moyes di musim ini.
Dari 20 pertandingan yang telah dilakoni di ajang Liga Primer sejauh ini, United terlempar di urutan ketujuh dengan raihan 34 poin. Performa mereka bisa dikatakan tidak biasa karena telah kalah enam kali, empat di kandang dan dua di tandang.

Berbeda dari United, Bayern justru tampil sebagai kuda pacu utama di kancah Bundesliga. Di 16 laga pertama, Die Bayern menggenggam 14 kemenangan dan dua kali seri, dengan rekor gol mencapai 42 dan hanya kebobolan delapan, statistik terbaik diantara klub-klub lainnya yang ikut berpartisipasi.

Setelah ditangani Guardiola, penampilan Bayern boleh dikata lebih rapi dan terorganisir. Sama seperti saat di Barca, gaya tiki-taka pun ia bawa ke dalam permainan timnya hingga membuat siapa saja terkeseima.

“Saya kira tiki-taka sudah sampai di Bavaria,” ujar Lotthar Matthaus kepada Sky Deutschalnd beberapa waktu lalu. “Ini adalah sepakbola yang telah kita saksikan di masa lalu di Spanyol, dan ini adalah invoasi baru di Bayern.”

Bayern di bawah Guardiola berinovasi dengan tiki-taka.
Ya benar, inovasi. Guardiola setidaknya mampu berimprovisasi demi membuat timnya lebih baik. Bukan maksud membandingkannya dengan Moyes yang sama-sama mewarisi tim juara, namun Pep jelas memiliki keunggulan visi yang kiranya belum terlihat pada diri manajer United tersebut.

Kini, United bagaikan tim pesakitan dan tengah menjadi pemberitaan utama lantaran mereka telah kalah di tiga pertandingan secara beruntun di semua kompetisi, hal yang sebelum ini pernah terjadi pada Mei 2001.

Dengan tekanan yang jauh berbeda ketimbang Guardiola di Jerman, Moyes kiranya tengah menghadapi tantangan tersulit dalam karir manajerialnya. Dan sekiranya ia ingin sukses, maka paling tidak ia harus melakukan hal radikal yang diperlukan jika tidak ingin terus di-hairdryer para simpatisan.

Topics