ANALISIS: Gairah Olympique Lyon Mulai Gerogoti Dinasti Paris Saint-Germain

Situasi baku saing di pacuan juara kian memanas setelah Olympique Lyon pelan-pelan bangkit, Paris Saint-Germain pelan-pelan merosot. Le Championnat ditentukan pekan ini?

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Semua mata pecandu sepakbola Prancis dipastikan akan terfokus pada satu laga dahsyat yang mempertemukan sang jawara bertahan Paris Saint-Germain kontra Olympique Lyon, pemuncak klasemen sementara, akhir pekan ini.

Beda seperti beberapa musim ke belakang, di mana dominasi Les Parisiens kental terasa. Sekarang, hegemoni itu tak lagi terlihat. Lyon seakan kembali menemukan apa yang selama ini sirna dari tubuh mereka: barang tentu pencapaian spektakuler dan historis yang pernah diguratkan sejak era millenium dimulai - juara Ligue 1 secara berturut-turut dari edisi 2001-2007, yang hingga sekarang menjadi tujuh-tujuhnya trofi prestisius mereka.

Racikan tangan dingin Hubert Fournier menjadi kunci. Datang menghadap presiden klub Jean-Michel Aulas dengan status pelatih antahberantah pada Mei 2014, bersamanya Les Gones justru menjadi lebih bernyawa. Pengalaman menjadi pemain di klub ini dalam periode singkat dua tahun [1998-2000] sepetinya menjadi modal tersendiri bagi pria 47 tahun itu. Musim ini, Lyon bukan lagi jadi penggembira di lintasan perebutan tiket ke pentas Eropa, tapi menjadi ancaman riil anak-anak Laurent Blanc dalam usaha menjadi nomor wahid di belantika sepakbola Prancis.

Dengan keduanya yang berada di posisi tiga teratas tabel dan bertemu dalam kondisi terpisah dua poin, Stade de Gerland sebagai arena perduelan hari Minggu esok tampaknya akan mempertontonkan laga yang membara.

Tak salah bila banyak pihak yang menyebut partai ini bagaikan penentuan kampiun Ligue 1 2014/15, walau anggapan ini sepenuhnya tak bisa dijadikan tolak ukur. Yang jelas, siapa pun yang memenangi pertarungan ini berarti mereka telah mengambil momentum emas menuju supremasi.

Akhir pekan lalu Lyon sejenak mendingin kala dipaksa AS Monaco bermain kacamata. Akibatnya, keunggulan empat poin yang sempat terjaga di journee 23 menjadi terbelah dua. Pertandingan itu seolah mewakili keragu-raguan beberapa kalangan yang menilai Lyon in-form di musim ini karena impak besar dari striker Alexandre Lacazette. Maklum, sang topskor Ligue 1 itu absen saat OL berkunjung ke stade Louis II karena cedera hamstring. Celakanya, Lyon seperti tak punya pengganti yang sepadan.

Seperti Cristiano Ronaldo pada Real Madrid, Lionel Messi bagi Barcelona dan Zlatan Ibrahimovic untuk PSG, Lyon lagi dirundung Lacazette-sentris. Dari 22 laga berlalu, sudah 21 gol ditorehkan penyerang internasional Prancis itu. Lyon hanya dua kali gagal menang dari rangkaian gol demi gol yang dikemas Lacazette.

Fournier berhasil mengasah secara maksimal bakat besar Lacazette. Tak ayal, si bomber makin runcing di musim ini. Lebih dari menjadi motor serangan, Lacazette juga piawai dalam menyervis koleganya [lima assist di Ligue 1]. Pergerakan dan kecepatan bomber 23 tahun inilah yang membuat graifk peforma Nabil Fekir, partner-nya di lini serang, jadi makin kinclong. Kentara sekali terlihat begitu keduanya dipisahkan, Lyon tak mampu mengukir gol di markas klub kerajaan.

Trademark taktik 4-4-2 diamond ala Fournier dengan bertumpu pada duet maut Lacazette-Fekir di depan menjadi daya kekuatan yang spesial. Perlu diketahui, Fekir adalah gelandang serang, namun killer instinct-nya cukup tinggi. Dan ditangan Fournier, dia dipermak jadi striker untuk mengakomodasi rencana si pelatih dengan memasangkannya bersama Lacazette di depan. Hasilnya? Tokcer!

Lacazette-Fekir, duo darah muda nan penuh gariah jadi faktor pembeda di Lyon

Selain itu, Fournier, yang merupakan mantan defender semasa aktif bermain, dinilai sukses menempa barisan belakang tim menjadi solid. Bisa dilihat, Lyon menjadi tim yang paling sedikit kebobolan di musim ini - 17 gol. OL di enam laga terakhir liga mampu menyudahinya dengan raihan clean sheet. Bek veteran Milan Bisevac menjadi elemen penting di lini ini berkat pengalaman dan kepemimpinannya sebagai personel senior. Sayang, laga menghadapi Monaco pekan lalu harus dibayar mahal karena cedera yang didapati Bisevac dan dia diyakini akan absen bersama Lacazette.
Di tengah OL yang bergairah, tak bisa pula dipisahkan dari merosotnya peforma PSG. Ada banyak faktor. Beberapa di antaranya, yang pertama, padatnya agenda semusim yang dilalui klub ibu kota yang harus menghadapi sejumlah kompetisi major. Kedua isu-isu bakal adanya peralihan pelatih kepala membuat Zlatan Ibrahimovic cs jadi tidak konsen. Sementara Lyon, yang sudah tersingkir di dua ajang cup domestik, hanya fokus di liga.

Di paruh pertama musim lalu pemandangan langka tersaji. PSG tak mendapatkan kesempatan menduduki posisi habitatnya di puncak. 12 laga perdana dilewati dengan delapan di antaranya berakhir seri. Yang paling memalukan, kala digebuk pejuang degradasi Bastia 4-2 tiga pekan lalu.

Untungnya, sikap anak-anak asuh Blanc di lapangan selalu responsif dan cekatan dalam evaluasi penampilan. Spirit mereka tak pernah padam, dan mereka masih seperti sebuah tim kala diterpa inkonsistensi. Para pemain kunci seperti Ibrahimovic dan Thiago Silva juga sudah kembali ke bentuk terbaiknya. Memang rumor pemberhentian kerja bagi Blanc selalu menyeruak, tapi setidaknya sang manajer masih mampu mengelola kepecayaan diri para pemain.

Rekor laga kandang Lyon di musim ini cukup mentereng. 11 Kemenangan, satu kekalahan [ditumbangkan Lens Agustus silam], dengan 30 gol berhasil disarangkan dan lima gol kecolongan. Namun fakta ini mungkin tak bakal jadi berita buruk bagi PSG, mengingat catatan tandang mereka juga tak kalah bagusnya. Skuat Paris justru kerap tampil spartan saat bentrok dengan lawan besar dengan Marseille dan AS Saint-Etienne telah menjadi korban.

Harus diingat, di Gerland pada ajang final Coupe de Ligue musim lalu, PSG mampu berpesta juara di rumah rivalnya itu dengan mendulang kemenangan 2-1. Di perjumpaan paruh pertama tahun lalu, PSG juga nyaris mengamankan tiga angka di Parc des Princes [1-1].

Menyebut laga ini akan menjadi pertaruhan gelar juara rasanya terlalu didramatisir. Jangan lupakan, pacuan juara tak hanya milik Lyon-PSG seperti halnya musim lalu saat lanskap Ligue 1 dikuasai duo "el Cash-ico" PSG-Monaco. Di peringkat kedua ada Marseille yang punya poin yang sama dengan PSG dan barang tentu punya kans besar merangsek ke pucuk klasifika. Namun menyebut laga di Gerland Minggu nanti menentukan gambaran le championnat di pengujung musim, sah-sah saja.

Jika Lyon sanggup menoreh angka sempurna, boleh kita bernostalgia membayangkan episode mengejutkan Montpellier yang menjadi juara di edisi 2012. Sebaliknya kalau PSG yang menang, siap-siap para rival melihat klub ibu kota berdiri di podium juara untuk ketiga kalinya secara beruntun. Tapi bila imbang, Marseille bisa mengambil keuntungan.

Namun di atas hitung-hitungan ini semua, pertandingan terakhir di journee 24 ini bakal menggugah untuk ditonton!
activate javascript

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

activate javascript

Topics