ANALISIS: Jalanan Jadi Surganya Pesepakbola Latin

Mengapa dalam daftar Transfer List 2014 banyak ditempati pemain dari Amerika Latin? Jawabannya mungkin ada di jalanan di Amerika Selatan.

ANALISIS PETER STAUNTON PENYUSUN MOHAMMAD YANUAR

Anda tahu alasan mengapa Arsene Wenger sangat menginginkan Luis Suarez di bursa transfer musim panas lalu? Jika Anda tak tahu, manajer Arsenal itu dengan senang hati menjelaskannya, dan dari penjelasannya, jalanan di Amerika Selatan mendapat atensi khusus darinya.
"Ketika semua hal bisa dibentuk sedemikian rupa, maka berkurang pula perkembangan kemampuan individu pemain, sikap bertarung Anda," jelas Wenger.

"Kami sudah kehilangan sedikit hal tersebut di sepakbola. Komunitas sudah berubah. Kami jadi lebih terlindungi ketimbang 30 tahun lalu. Semua sudah berubah. Kita semua menjadi sedikit lembek."

"Bila kita melihat seluruh Eropa dan dunia sepakbola, maka hanya di Amerika Selatan menjadi satu-satunya benua untuk mengembangkan striker sekarang ini. Anda akan melihat hal itu setidaknya 80 persen datang dari Amerika Selatan."

"Eropa sangat sedikit saat ini. Jerman menjuarai Piala Dunia dengan Miroslav Klose, yang berusia 35. Mungkin dalam sejarah sepakbola kita, sepakbola jalanan sudah hilang. Di sepakbola jalanan, ketika Anda berusia sepuluh tahun, Anda harus menghadapi pemain berusia 15, jadi Anda harus tahan banting. Anda harus menunjukkan bahwa Anda pemain bagus, Anda harus berjuang memerebutkan bola."

"Jadi kita harus menanyakan kepada diri sendiri, apa yang bisa kita tambahkan pada akademi kita untuk mengembangkan penyerang lagi?"

Arsenal akhirnya gagal mendapatkan Luis Suarez, yang lebih memilih pindah ke Barcelona. Sebagai gantinya, Alexis Sanchez ditarik ke Emirates Stadium. Bukan rekrutan yang buruk.

Marcelo Bielsa, yang menangani Cili pada 2007, membentuk satu tim berbakat, termasuk Alexis di dalamnya. Bielsa memainkan sepakbola menyerang, yang kemudian diadopsi oleh seluruh level kompetisi di Cili. Lewat skema bermain seperti ini, Alexis terus meningkat kemampuannya. Penampilan istimewa di Piala Dunia membuat Wenger yakin dia bisa menjadi elemen penting yang dibutuhkan Arsenal.

Dari pernyataan singkat Wenger tersebut, mungkin bisa diambil kesimpulan secara kasar. Sepakbola jalanan di Amerika Selatan ikut membentuk pemain Latin menjadi seperti sekarang ini. Bahkan tim teknis UEFA memiliki kesimpulan sendiri mengenai hal ini, bila dibandingkan dengan kondisi di sepakbola Eropa, yang lebih banyak memainkan pemain yang bukan produk mereka sendiri.

"Di lini serang klub papan atas Eropa, pemain lokal biasanya mendapat peran yang sangat sedikit dan kontribusi mereka sangat minim," demikian laporan tim teknis UEFA, menilik pada peran pemain di kompetisi Liga Champions 2013/14.

Klub super Eropa tak bisa dibilang memiliki kesabaran untuk melihat pemain muda mereka berkembang sedemikian rupa. Merupakan hal yang jarang penyerang muda diberikan waktu untuk berkembang dan masuk tim utama. Raul Gonzalez menjadi topskor Liga Champions terakhir yang bermain untuk klub dari negaranya sendiri. Itu pun terjadi pada 2001.

Bagaimana setelahnya? Striker lokal yang dikembangkan dan diturunkan tim besar Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Borussia Dortmund, Bayern Munich, Chelsea, Arsenal, Manchester United dan Paris St Germain bisa dihitung dengan jari di satu tangan saja. Tak ada waktu buat pemain muda berkembang menjadi matang.

Sebagai gantinya, pemain-pemain yang sudah matang dan dibentuk oleh sepakbola jalanan lebih menjadi pilihan. Lihat saja empat teratas Goal Transfer List 2014, yang dihuni oleh Luis Suarez, Angel Di Maria, James Rodriguez dan Alexis Sanchez.

Keempatnya memiliki masa lalu yang kurang lebih sama. Mereka sudah masuk tim utama di usia yang masih sangat muda, mengambil sebanyak mungkin pengalaman bagaimana menghadapi pemain yang lebih matang. Hasilnya, mereka memiliki kemampuan, pengalaman, skill dan kematangan mental yang lebih baik dibanding rival mereka asal Eropa.

Pengakuan Alexis Sanchez di bawah ini mungkin bisa menjadi pencerahan tersendiri.

"Saya bermain selama berjam-jam di kampung halaman saya, Tocopilla, di jalanan," kata Alexis Sanchez kepada AS.

"Saya tak pernah merasakan bagaimana dilatih, tak ada yang menunjukkan bagaimana caranya menendang bola. Saya mempelajari segalanya dengan hanya bermain di jalanan dan masih ada bagian dalam diri dari saya seperti anak-anak kecil itu, dengan terus bermain di jalanan, dan saya masih memiliki hasrat yang sama dan keinginan bermain sepakbola."

James Rodriguez masuk dalam tim utama di usia 14 bersama Envigado setelah keluarganya mengizinkannya mengejar mimpi di Medellin. Dia kemudian pindah ke Argentina. James sudah masuk ke kompetisi besar Eropa dalam satu dekade kemudian.

Bagaimana dengan Di Maria? Di usia 15, Di Maria masih menambang batu bara bersama ayahnya. Sangat sulit membayangkan salah satu pemain akademi dari Real Madrid melakukan hal yang sama.

Diego Costa bahkan mengakui bahwa jalanan di Amerika Selatan menjadikannya sebagai pemain seperti sekarang ini.

"Saya bermain di jalanan kota saya dengan orang yang lebih besar," ceritanya kepada El Pais.

"Sampai akhirnya saya pindah ke Sao Paulo. Saya tak langsung bermain dengan tim profesional. Saya tak pernah terlibat dengan sepakbola level grassroots dan latihan itu sangat penting, jadi saya sudah melakukan hal yang salah," candanya.

Dalam laporan teknis termutakhir yang dirilis FIFA usai Piala Dunia 2014, ada dua laporan mengenai tipe pemain depan. Yang pertama adalah pemain depan dengan gaya Eropa, seperti Miroslav Klose dan Olivier Giroud atas Karim Benzema. Sementara laporan lain menyoroti pemain dengan improvisasi tersendiri seperti Neymar, Alexis Sanchez, Lionel Messi dan James Rodriguez.

Dari laporan tersebut bisa diambil kesimpulan, begitu hebatnya sistem akademi di La Masia milik Barcelona atau akademi bergengsi di Jerman yang digagas DFB, satu hal yang pasti adalah tidak memungkinkannya membentuk striker yang memiliki kemampuan improvisasi tersendiri.

Thomas Tuchel, mantan pelatih Mainz, menjelaskan bahwa teknik pelatihan untuk pemain muda di Jerman lebih pada orientasi pada bola.

"Latihan bertahan sangat terorientasi pada bola, dengan banyak sekali berlari dan bagaimana harus bersikap agresif merebut bola. Gayanya sangat enerjik, fokus pada aksi, bukan reaksi, meski saat lawan melakukan penguasaan bola," paparnya.

Dari situ saja bisa dilihat bahwa budaya sepakbola dibentuk sedemikian rupa untuk para pemain muda, yang meminimalkan pemain menunjukkan kejeniusan mereka sendiri. Dan bila melihat Goal Transfer List 2014, jalanan di Amerika Selatan yang begitu kejam telah menjadikan pemain matang dengan sendiri karena lingkungan yang tepat buat mereka berkembang dengan baik.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics