ANALISIS: Ketika Kematangan Jerman Ungguli Prancis

Prancis tak mampu memanfaatkan keunggulan kualitas pemain untuk melewati Jerman pada perempat-final Piala Dunia 2014.

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter

Di tengah deraan kritik atas penampilan yang tak meyakinkan dan serangan flu yang menjangkiti sejumlah pemain, Jerman mampu mematahkan perlawanan Prancis 1-0 pada perempat-final Piala Dunia 2014 di Estadio Maracana, Jumat (4/7).

Berkat keberhasilan itu, Jerman mencetak sejarah baru. Untuk kali pertama dalam sejarah ada tim yang sukses menembus babak semi-final dalam empat Piala Dunia berturut-turut. Sukses yang diraih Jerman bukan sebuah kebetulan.

Dikritik karena menerapkan garis pertahanan yang terlalu tinggi, barisan pemain belakang yang tak punya kecepatan, dan lini tengah yang minim melancarkan pressing, Joachim Low mengejutkan Prancis melalui permainan taktik yang cemerlang.

Pergantian penting dilakukan Low di lini belakang. Philipp Lahm menjadi bek kanan dan Jerome Boateng mengisi posisi Per Mertesacker sebagai duet Mats Hummels. Otomatis, duet gelandang jangkar ditempati Bastian Schweinsteiger dan Sami Khedira. Low juga menugaskan Thomas Muller bergerak dari sayap kanan, sedangkan pos ujung tombak ditempati Miroslav Klose.

Taktik Didier Deschamps justru mengundang tanda tanya. Prancis sukses menggulung Swiss, yang bermain dengan lini belakang yang statis, dengan memainkan duet striker Karim Benzema dan Olivier Giroud, tapi taktik serupa tak kembali diterapkan sang pelatih untuk menghadapi Jerman. Formasi 4-3-3 dimainkan Prancis dengan Antoine Griezmann dan Mathieu Valbuena diharapkan membuka pertahanan lawan melalui sektor sayap.

Valbuena menjadi andalan Prancis di sektor sayap.

Jerman mengejutkan Prancis dengan disiplin lini tengah mengunci pergerakan trio Paul Pogba, Blaise Matuidi, dan Yohan Cabaye. Tidak hanya Schweinsteiger dan Khedira yang melakukan pressing secara aktif, tetapi juga Muller dan Kroos. Hasilnya, pemain Prancis sulit mendapat keleluasaan di sepertiga akhir lapangan sehingga banyak melepaskan umpan-umpan diagonal ke sektor sayap.

Low sudah mengantisipasinya. Tak ada celah yang dibiarkan ketika Prancis hendak melepas umpan silang, baik di depan gawang Manuel Neuer maupun di lini kedua. Prancis justru menyulitkan diri sendiri karena hanya memainkan Benzema sebagai striker tunggal sehingga pergerakannya kerap dihentikan bek Jerman.

Pada menit ke-12, Jerman mencuri gol. Diawali pelanggaran tak perlu Pogba terhadap Kroos, Jerman mendapat tendangan bebas di sektor kanan pertahanan Prancis. Umpan tendangan bebas Kroos berhasil disambut sundulan Mats Hummels. Bola meluncur tanpa dapat dihalau Hugo Lloris. Inilah satu-satunya tembakan tepat sasaran yang dilancarkan Jerman di babak pertama dan langsung menghasilkan gol.

Sungguh disayangkan Prancis kehilangan kesabaran dan konsentrasi saat tertinggal. Les Bleus tak pernah kebobolan lebih dahulu dalam empat pertandingan yang mereka jalani di turnamen ini sehingga butuh kekuatan mental untuk bangkit usai dibobol Hummels. Bukan perkara ringan karena lawan mereka adalah Jerman.

Deschamps tak banyak mengubah taktik selepas jeda. Griezmann dan Valbuena tetap mendapat kepercayaan sang pelatih. Pergantian pertama yang dilakukan Deschamps justru bersifat defensif. Itu terjadi pada menit ke-71 setelah Mamadou Sakho tampak mengalami cedera dan digantikan oleh Laurent Koscielny.

Dua menit berselang, Loic Remy menyusul dan Yohan Cabaye ditarik keluar. Jelas, sasaran Deschamps belum berubah. Sektor bek kiri Jerman yang ditempati Benedikt Howedes, sejatinya bek tengah, dipandang sebagai titik lemah. Masuknya Remy menandakan niat Deschamps untuk lebih mempertajam serangan Prancis.

Taktik dan pergantian pemain yang dilakukan Deschamps gagal total.

Taktik Deschamps tidak berhasil. Jerman justru setidaknya dua kali mendapatkan peluang menggandakan keunggulan memanfaatkan lemahnya sektor bek kiri Prancis yang dikuasai Patrice Evra. Kalau saja Muller dan Andre Schurrle lebih klinis dalam penyelesaian akhir, bukan tidak mungkin gawang Lloris kembali bobol.

Sangat aneh Deschamps tidak memaksimalkan pasokan umpan untuk Benzema. Penyerang yang telah mencetak tiga gol di Piala Dunia itu sebenarnya terlihat lebih nyaman bermain dengan umpan-umpan kombinasi. Bisa dilihat dari sejumlah pergerakan serta peluang yang didapat di akhir laga, Benzema menjadi lebih berbahaya ketika memperoleh ruang tembak. Sayangnya, ketika ruang itu terbuka, Manuel Neuer tampil prima mematahkannya.

Pergantian terakhir Deschamps dengan memasukkan Giroud pada menit ke-85 menjadi upaya menyambung asa yang sia-sia. Sangat terlambat memasukkan striker pendamping hanya dengan sisa lima menit di waktu normal. Apalagi, yang digantikan adalah Valbuena, pemain yang tercatat melakukan 31 kali operan, sepuluh kali melepas umpan silang, serta akurasi umpan mencapai 84 persen.

Pemain seperti Griezmann, yang hanya melakukan 22 kali operan sepanjang 90 menit penuh dan hanya 59 persen di antaranya akurat, tetap dipertahankan Deschamps. Pengaruh Pogba selama 30 menit terakhir laga juga pantas dipertanyakan. Belum lagi Matuidi tak memberikan sokongan berarti dari lini kedua Prancis.

Selain menang pengalaman, penampilan Neuer menjadi kunci kemenangan Jerman.

Apa yang menjadi keunggulan Jerman dalam pertandingan ini? Prancis dapat berkaca pada perjalanan mereka di Piala Dunia 2006 ketika menaklukkan Spanyol di babak 16 besar. Ketika itu Spanyol diperkuat materi pemain yang kelak bersinar merebut berbagai gelar di kejuaraan besar, tetapi kematangan Prancis yang dipimpin Zinedine Zidane berhasil mengatasinya.

Jerman tidak memiliki seorang Zidane, tapi materi pemain yang mereka miliki adalah para pemain berpengalaman yang mampu mengatasi tekanan bermain di babak gugur sebuah turnamen besar. Mulai 2006, Jerman selalu mampu mencapai minimal babak semi-final, baik di Piala Dunia maupun Euro. Selain itu, jangan abaikan pula penampilan hebat Neuer yang beberapa kali mampu mementahkan ancaman yang menuju gawangnya.

Deschamps pun mengakuinya usai laga. "Tidak banyak perbedaan yang dimiliki kedua tim. Tapi salah satu tim lebih terbiasa menghadapi laga seperti ini dan punya pengalaman lebih banyak. Kami tidak klinis di depan gawang dan Neuer mampu melakukan penyelamatan penting terhadap peluang Benzema di akhir laga," ujar pelatih 45 tahun itu.

Jalan Prancis mencapai kejayaan di Piala Dunia tahun ini telah tertutup, tapi mereka berpeluang menjadi kandidat terdepan saat tampil di Euro 2016 yang digelar di kandang sendiri.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics