ANALISIS: Lima Hal Yang Bisa Membuat Persib Bandung Taklukkan Arema Cronus

Ada lima hal yang bisa membuat Persib menaklukkan Arema. Apa saja?

LIPUTAN ANGGI RIWANTO DARI BANDUNG
Persib Bandung yang merupakan juara grup L akan bersua kembali dengan Arema Cronus yang menyandang status runner-up grup K pada semi-final Indonesia Super League (ISL) 2014 di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Selasa (4/11) mendatang.
Pertemuan kedua tim dipastikan akan berlangsung sengit. Pasalnya, Arema yang keluar sebagai pemuncak klasemen wilayah barat ingin menuntaskan rasa penasaran mereka. Mengingat, pada musim ini tim Singo Edan tidak bisa menang atas Maung Bandung.
Secara head-to-head pada musim ini, Persib mengungguli Arema. Pada pertemuan pertama di Bandung, Persib yang sempat tertinggal dua gol pada babak pertama, berhasil secara heroik membalikkan keadaan menjadi 3-2 di akhir pertandingan. Pada pertemuan kedua di Kanjuruhan, Persib unggul lebih dulu lewat dua gol yang dicetak oleh Ferdinand Sinaga, sebelum akhirnya dipaksa mengakhiri laga dengan skor imbang 2-2 berkat sepakan Gustavo Lopez beserta eksekusi penaltinya.
Goal Indonesia akan mencoba mengulas apa saja yang bisa membuat Persib menumbangkan Arema Cronus di semi-final. Berikut paparannya:

Sudah bukan rahasia lagi jika Persib selama beberapa musim terakhir ini selalu diisi oleh para pemain yang sering dipanggil oleh tim nasional Indonesia. Tengok saja nama-nama pemain mentereng yang menghuni susunan line-up setiap kali Persib bertanding.
Penghuni bawah mistar gawang diisi oleh I Made Wirawan. Kemudian lini pertahanan yang digalang oleh Ahmad Jufriyanto, Vladimir Vujovic dibantu Supardi, Tony Sucipto. Lini tengah diplot oleh gelandang gaek, Firman Utina yang akan menjadi motor serangan Maung Bandung dibantu pemain serbabisa Makan Konate, yang akan memberikan umpan manja pada Ferdinand Sinaga, Djibril Coulibaly dan Tantan di mulut gawang lawan.

Lini tengah Persib saat ini menjadi barisan pemain paling mewah yang ada di Indonesia. Firman Utina, M. Ridwan, Konate Makan menjadi momok yang menakutkan bagi lawan yang berhadapan dengan tim yang berdiri sejak 1933 itu. Ketiga pemain itu bisa menjadi pengumpan yang andal untuk rekan setimnya, sekaligus juru gedor jika lini serang mengalami kebuntuan.

Kemudian Hariono, Taufiq yang akan membuat pemain tengah Singo Edan mati kutu sekaligus memutus alur bola kepada Alberto Goncalves, Samsul Arif, dan Cristian Gonzales.

Rekor Persib jika bermain di luar Bandung bisa dibilang terbaik saat ini. Lihat saja perbandingannya dengan laga yang digelar di kota Bandung. Musim ini Persib mencatatkan 12 kemenangan, lima seri, dan tiga kali kalah dari 20 pertandingan. Dua kekalahan yang diderita Pangeran Biru didapatkan di Stadion Si Jalak Harupat dan satu lagi kala bertandang ke kandang Semen Padang.
Dari sepuluh pertandingan tandang Persib, tim kebanggaan Bobotoh itu mengemas hasil yang cukup menggembirakan. Lima kali menang, tiga kali imbang, dan dua laga berakhir dengan kekalahan. Namun kekalahan yang didapatkan oleh Maung Bandung adalah saat menghadapi Pelita Bandung Raya di kota Bandung, serta kalah dari Semen Padang baik kandang maupun tandang.

Pada pertandingan terakhir babak delapan besar ISL, Persib harus takluk 2-1 dari Pelita Bandung Raya. Satu gol yang didapat Maung Bandung pun melalui gol bunuh diri Bambang Pamungkas ke gawangnya sendiri. Ompongnya lini serang Persib tidak lepas dari absennya salah satu penggawa mereka yaitu Ferdinand Sinaga yang mendapatkan sanksi akumulasi kartu kuning.

Sosok Ferdinand yang militan, determinasi tinggi tak kenal menyerah akan menular kepada rekannya di lapangan. Meski tak mencetak gol, tak jarang Ferdinand membuka ruang atau bahkan memberikan umpan kepada kawannya untuk mencetak gol.

Prestasi Persib Bandung akan jeblok jika format kompetisinya menggunakan kompetisi penuh atau semua tim bertemu. Beda halnya ketika kompetisi dibuat dengan sistem turnamen yang ada babak semi-final dan final tentunya.
Data yang diperoleh, semua tropi yang digondol para pemain Persib ke tanah Pasundan adalah hasil dari pertarungan hidup mati di babak final. Terakhir adalah, ketika Persib menjadi kampiun Liga Indonesia pada 1995 setelah mengalahkan Petrokimia Putra di babak final melalui gol semata wayang yang dicetak oleh Sutiono Lamso ke gawang Darryl Sinerine pada menit ke-76. (gk-52)

//

>
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.