ANALISIS Manchester United: Kuat Di Depan, Lembek Di Tengah & Payah Di Belakang

United yang selama ini dikenal solid di segala lini seolah lupa akan cara untuk bermain baik.

OLEH ADHE MAKAYASA Ikuti di twitter
Pasca pensiunnya Sir Alex Ferguson pada akhir musim 2012/13, Manchester United praktis berubah total dan kini memulai era baru jilid II di bawah kepemimpinan manajer asal Belanda, Louis van Gaal.

Setelah mendapati musim yang buruk di gelaran sebelumnya di tangan David Moyes, klub penghuni Old Trafford itu mulai berbenah dan menjanjikan skuat ‘mewah’ dengan jaminan dana yang tak terbatas untuk suksesor berikutnya agar tidak mengulang kesalahan serupa.

Di awal musim panas tahun ini, United merelakan tiga bek senior seperti Rio Ferdinand, Nemanja Vidic dan Patrice Evra untuk pergi. Dalam hal ini, Ferdinand memilih bergabung dengan klub promosi Queens Park Rangers dan Vidic yang hengkang ke Inter Milan - keduanya secara gratis - selagi Evra yang mencoba peruntungannya di Juventus.

Untuk menggantikan trio yang selama ini menjadi tulang punggung Setan Merah di lini belakang, Van Gaal lantas menghadirkan Luke Shaw (Southampton), Marcos Rojo (Sporting Lisbon) dan mempromosikan Tyler Blackett dari tim akademi. Lebih dari itu, pria berusia 63 tahun itu juga melabuhkan Daley Blind, yang dianggap serba bisa, dari Ajax Amsterdam.

Menilai skuatnya belum lengkap, sang juru taktik tak lupa untuk menumpuk dayanya di lini tengah dan depan dengan mengakuisisi Ander Herrera (Athletic Bilbao), Angel di Maria (Real Madrid) dan meminjam Radamel Falcao selama semusim dari raksasa Ligue 1 Prancis AS Monaco. Jika ditotal, maka pelatih anyar tersebut sudah menghabiskan dana lebih dari 150 juta poundsterling, yang mana menjadi rekor terboros untuk klub.

Seketika kekuatan mereka dirasa cukup, United, yang gagal meraih kemenangan dari tiga laga awal Liga Primer Inggris musim ini, sempat memberikan harapan dengan melumat QPR empat gol tanpa balas. Akan tetapi, kelemahan mereka lantas terkuak saat The Red Devils menyambangi markas Leicester City di pekan kelima.

Di pertandingan yang dilangsungkan di King Power Stadium, Minggu (21/9) malam WIB, tim tamu, yang lebih diunggulkan ketimbang sang penjamu, sejatinya mampu memimpin 3-1 hingga menit ke-57 melalui sumbangan gol Robin van Persie, Di Maria dan Herrera. Dengan 33 menit tersisa, mereka justru tidak mampu menjaga ritme permainan hingga akhirnya takluk sebagaimana The Foxes yang menciptakan salah satu comeback paling brilian dalam sejarah sepakbola Inggris.

Tak Berdaya | United harus mengakui keunggulan Leicester meski sempat unggul 3-1 hingga menit ke-57.
Leicester mulai mendapatkan angin segar saat wasit Mark Clattenburg memberikan penalti kontroversial menyusul pelanggaran Rafael terhadap James Vardy di kotak terlarang – saat itu skor masih 3-1. Sebelum kejadian tersebut, full-back asal Brasil itu sejatinya dilanggar terlebih dahulu dan ia yang mengejar pemain lawan sebagai bentuk reaksi dianggap melakukan pelanggaran. Tak pelak, peristiwa itu merupakan titik balik untuk Leicester dan menjadi awal dari hancurnya rasa percaya diri pasukan Van Gaal.

Seketika penalti itu diserahkan, David Nugent lantas tak menyia-nyiakan peluang tersebut dan mengubahnya menjadi gol di menit ke-62 untuk memperkecil kedudukan menjadi 3-2. Dan mengetahui barisan belakang United mulai panik, kubu tuan rumah terus melancarkan serangan intens hingga akhirnya memaksakan hasil sama lewat sepakan Esteban Cambiasso dua menit berselang.

Terlepas itu semua, Vardy kiranya benar-benar menjadi mimpi buruk untuk tim lawan di pertandingan itu setelah ia mengemas gol yang menjadi pembalik keadaan di menit ke-79 selagi ia yang memprakarsai penalti lainnya setelah Blackett melakukan pelanggaran tepat tujuh menit jelang waktu normal berakhir. Atas tindakan tersebut, Clattenburg pun tak ragu untuk memberikan kartu merah kepada bek muda itu dan Ulloa melengkapi kesengsaraan United dengan ia yang sukses mengeksekusi sepakan 12 pas.

Momok | James Vardy menjadi mimpi buruk untuk tim Setan Merah.
Setelah pertandingan berakhir, Van Gaal selaku orang yang bertanggung jawab terhadap performa buruk timnya tak lupa untuk menyoroti kekalahan mengejutkan ini, dengan berkata: “Bagaimana mungkin kami melepas laga ini begitu saja? Kami sungguh menyia-nyiakan laga ini," ujarnya kepada Sky Sports News.

"Leicester telah membuktikannya dalam empat laga, mereka berkarakter kuat dan saat tertinggal 3-1, Anda bisa saja bermain dengan menguasai bola, tapi Anda tak bisa melakukan hal seperti ini."

Mengenai barisan belakangnya yang terlihat kepayahan dan tidak rapat, pria Belanda itu menambahkan: “Saya pikir ini bukan karena kelemahan pertahanan. Ini terjadi karena lemahnya organisasi pertahanan dari tim. Anda harus tahu kapan saat Anda perlu mengoper bola dan membuangnya.

"Dalam laga ini, ketika skor 3-1 saya merasa kami memainkan sepakbola hebat, tapi Anda tak bisa melakukan kesalahan seperti kami. Kami terus maju dan berkembang. Kami menciptakan banyak kesempatan, kami mencetak gol indah, jadi ini adalah nilai plus.

"Tapi kami kalah dan itulah yang terpenting," tandasnya.

Di sisi lain, legenda United seperti Gary Neville lebih menyoroti performa lini tengah yang ia anggap terlalu lembek hingga tidak mampu mengimbangi irama permainan Leicester yang dikomando gelandang senior Cambiasso.

“Di babak pertama, setiap bola yang mereka dapatkan bisa direbut pemain Leicester, entah itu bola pertama atau kedua. Di babak kedua, banyak yang tak berpihak kepada mereka, tapi itu karena lini tengah mereka yang lembek," demikian Neville.

"Tak diragukan Manchester United memiliki gelandang yang lembek. Mereka tak cukup tangguh. Saya pikir tiga gelandang United dan empat pemain belakang di-bully di laga ini.

"Pujian pantas diberikan kepada Leicester dan Jamie Vardy dan Leonardo Ulloa, mereka bermain bagus. Tak perlu menunjukkan permainan kelas dunia, kerja keras saja sudah cukup," tandasnya.

Poin penting dari ringkasan skuat United disampaikan oleh legenda Liverpool, Jamie Carragher. Dalam sebuah keterangan, ia menilai mantan rivalnya itu telah melakukan kesalahan di bursa transfer musim panas dengan melupakan kegentingan untuk menambal lini belakang.

“Yang menjadi sorotan di United adalah mereka menjadi klub paling boros di Eropa dan mereka tidak membeli pemain bertahan," ujar Carra.

"Mereka tak terkejut ketika Rio Ferdinand pergi, Vidic mengumumkan [kepergiannya] Januari lalu.

"Mereka klub paling boros - bagaimana mungkin mereka tak menyadarinya? Menghabiskan begitu banyak uang dan tidak mendatangkan satu bek kelas atas - itu merupakan mismanajemen," tandasnya.

Memang, musim baru saja dimulai dan musim masih panjang. Akan tetapi, Van Gaal harus segera belajar dari pengalaman dan memperbaiki sektor yang terlihat kurang, salah satunya adalah mendatangkan bek papan atas pada kesempatan berikutnya.

Percuma jika tim yang ia miliki kuat di depan namun meninggalkan lubang di lini lain. Sepakbola bukan hanya soal menyerang, tapi lebih ke bagaimana menciptakan organisasi permainan yang solid untuk kemudian menghadirkan kemenangan.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics