ANALISIS: Minim Koordinasi & Konsentrasi Buat 'Serigala' Roma Tercabik-Cabik

Sejak awal pertandingan, Roma sudah mendapat batu sandungan dan kemudian terguling hebat hingga tercerai-berai.

OLEH MOHAMMAD YANUAR Ikuti di twitter

Apa yang terjadi dengan Roma? Apakah klub ibu kota itu tampil seburuk itu? Atau Bayern Munich yang memang terlalu hebat?
Pastinya pertanyaan itu muncul setelah Roma dipecundangi Bayern di Olimpico dengan skor 7-1. Ya, tujuh gol bersarang ke gawang Morgan De Sanctis.

Bayern bahkan sudah memimpin 3-0 saat laga berjalan 25 menit, dan unggul 5-0 saat jeda pertandingan. Dari setengah laga saja, Roma sudah tahu kans mereka meraih angka penuh di kandang sendiri sudah habis.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Roma dan dihajar habis-habisan oleh Bayern Munich?

Pelatih Rudi Garcia berdalih kesalahan ada pada strategi yang dimainkannya sejak awal pertandingan.

"Pendekatan di babak pertama adalah kesalahan saya sepenuhnya. Strateginya salah," aku Rudi Garcia.

Memainkan formasi 4-3-3, di awal laga, Roma berani bermain terbuka. Permainan cepat dari kaki ke kaki masih menjadi andalan. Hanya saja, lini tengah yang dikawal Daniele De Rossi dan Radja Nainggolan terlihat keropos gagal mematikan serangan balik cepat yang dibangun pemain Bayern ketika berhasil merebut bola.

Melihat line-up, lini belakang Roma juga tak bisa dikatakan merupakan susunan terbaik mereka. Kuartet Cole, Yanga-Mbiwa, Torosidis dan Manolas biasanya beroperasi sebagai pemain cadangan. Tapi dengan absennya sejumlah pilar, opsi ini harus diambil.

Kurang padunya mereka terlihat dalam minimnya koordinasi bagus di sektor belakang. Cole, yang paling veteran di pertahanan, juga gagal mengatur rekan-rekannya. Juga tak terlihat pressure ketat untuk setidaknya menghambat laju pemain Bayern dan menutup ruang tembak mereka. Gol Mario Gotze dan Robert Lewandowski menunjukkan hal itu, di mana keduanya begitu leluasa bergerak untuk memaksimalkan bola di hadapan mereka.

"Yang salah strateginya. Kami seharusnya bermain lebih rapat dan berusaha menghantam mereka dengan serangan balik," tandas Rudi Garcia.

Dan tanda kepanikan juga mulai terlihat. Setelah gol dari Arjen Robben di menit delapan, Mario Gotze di menit 23 dan Robert Lewandowski di menit 25, Roma bermain tergesa-gesa dan berusaha untuk bisa cepat membalas. Sementara Bayern bermain lebih tenang dan tanpa beban, sehingga bisa leluasa mementahkan bola yang mengarah ke daerah pertahanan mereka.

Situasi ini membuat lini pertahanan Roma semakin terbuka. Bayern pun menambah dua gol lagi sebelum turun minum. Terbukti faktor mental dan pengalaman bermain di Liga Champions masih harus diasah penggawa 'Seringala ibu kota'.

"Kami tergesa-gesa untuk bisa kembali menyamakan kedudukan dan meningalkan ruang yang dimaksimalkan Bayern. Kami harusnya tetap merendah dan menunggu hingga saat yang tepat," curhat Rudi Garcia.

Tapi hingga 45 menit babak kedua rampung, tak ada yang namanya momen yang tepat buat Roma bangkit dan mengejar ketertinggalan. Bayern terlalu sempurna untuk bisa dihantam dengan enam gol balasan. Sementara Roma gagal bangkit.

Gaya bermain menekan dan permainan bola-bola cepat baru menuai hasil lewat tendangan Gervinho yang memaksimalkan umpan Nainggolan. Tapi gol itu sudah terlalu terlambat.

"Bayern lebih tagguh dari kami malam ini dan kami memang bermain jauh tidak lebih baik dari sebelumnya. Kami nyaris bertindak sebagai penonton di babak pertama dan yang saya tidak suka adalah minimnya agresivitas dan persatuan," ujar Rudi Garcia.

"Kami harus menerima kekalahan ini, yang membuktikan kami membutuhkan beberapa langkah lagi untuk bisa menyamai tim terbaik dunia. Kami masih di posisi dua dan bisa berharap kualifikasi, tapi pastinya dengan tidak bermain seperti ini," jelasnya.

Masih ada peluang buat AS Roma untuk lolos, karena memasang target membalas kekalahan itu di matchday keempat Liga Champions di Allianz Arena sepertinya menjadi target yang tidak realistis. Kans AS Roma ada di dua laga lain, menghadapi Manchester City di Olimpico dan CSKA Moskwa di Khimki Stadium. Mungkin di dua laga tersebut Roma bisa kembali menunjukkan kekuatan terbaik sepakbola mereka.

addCustomPlayer('8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', '', '', 620, 540, 'perf8zsoo3iz1ey11dxuuxg1dkcox', 'eplayer4', {age:1407083239229});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics