Analisis & Prediksi Grup A Piala Dunia 2014

Inilah bingkai persaingan yang akan terjadi di Grup A selama perhelatan Piala Dunia 2014.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Ikhtisar: Brasil tak perlu berkeringat untuk mendapatkan kursi di Piala Dunia 2014. Sejak ditetapkan jadi tuan rumah, Selecao sudah lolos secara otomatis ke putaran final turnamen ini. ‘Waktu luang’ yang seharusnya mereka pakai untuk berebut kursi pun mereka isi dengan uji coba persahabatan.
Satu hal yang perlu disorot dalam perjalanan ke Piala Dunia 2014 ialah pergantian dinasti di penghujung 2012. Pelatih Brasil saat itu, Mano Menezes, dinilai kurang memuaskan menyusul tersingkirnya Brasil di Piala Amerika dan rentetan masalah lain. Federasi sepakbola Brasil pun menurunkan Menezes dari jabatannya dan memanggil kembali Luiz Felipe Scolari.
Pilihan Brasil dalam penunjukkan ini kiranya tepat. Sejak mengembalikan Scolari ke kursi kepelatihan – ia sempata membawa Brasil juara dunia pada 2002 – Brasil hanya kalah dua kali, yakni saat melawan Inggris dan Swiss. Performa Selecao pun luar biasa, mereka meraih 15 kemenangan dalam 16 laga terakhir sembari menjadi juara Piala Konfederasi 2013 (mengalahkan Spanyl 3-0 di final). Pantas kalau jelang Piala Dunia, mereka kembali jadi unggulan.

Taktik: Di atas kertas, Brasil menerapkan formasi 4-2-3-1, tapi yang menarik dari sini ialah gegenpressen (gaya main Borussia Dortmund asuhan Jurgen Klopp) versi Scolari. Selecao menunjukkan intensitas dan komitmen tinggi saat mereka tidak sedang memegang bola. Pressing tinggi mereka pun jadi salah satu andalan, bahkan saat menekuk Spanyol tiga gol tanpa balas.
Brasil memang hanya menempatkan dua bek tengah, yakni Thiago Silva dan David Luiz, tapi mereka punya Luiz Gustavo yang sering berperan sebagai sweeper – namun pergerakan dinamisnya sekaligus mampu menutup celah di lini tengah. Pertahanan mereka pun kokoh dan untuk lini depan, tak perlu diragukan lagi. Mereka punya Oscar dan Neymar sebagai sumber kreativitas. Eksplosivitas Hulk akan memperkaya penyerangan Brasil, dilengkapi dengan transisi sempurnanya dengan Dani Alves saat sang bek meninggalkan posisinya.
Fred turut meramaikan skuat Brasil dengan peran No.9 yang diberikan Scolari. Penyerang Fluminense ini menjawab kepercayaan sang pelatih dengan lima gol saat Piala Konfederasi. Sayang, rentetan cedera membuat performanya di PD dipertanyakan. Di saat terdesak, Scolari kemungkinan menjadikan Neymar sebagai inti permainan di belakang striker – walau pergerakannya di sana terlalu rawan dan mudah diprediksi si posisi itu.
Brasil telah mencetak 59 gol sejak Scolari kembali, rata-rata 2,7 gol per laga sementara hanya kebobolan 15 kali (0,75) per laga. Mereka mampu mencatatkan 10 clean sheet termasuk saat melawan tim sekelas Prancis dan Spanyol.

Ikhtisar: Di babak kedua kualifikasi, Kamerun berada satu grup dengan Lbya, Kongo, dan Togo. Perjalanan mereka di sini terbilang lancar, mampu mengantongi 13 poin dari total 6 laga (termasuk bonus kemenangan 3-0 atas Togo karena Togo melanggar aturan FIFA). Kamerun keluar sebagai juara grup dan melaju ke babak kualifikasi selanjutnya, di mana mereka bertemu dengan Tunisia.
Dalam pertandingan dua leg ini, Kamerun juga tidak banyak mendapat kesulitan walau sempat ada konflik internal di dalamnya. Leg pertama berakhir imbang tanpa gol dan Samuel Eto’o mengeluh dalam laga ini. Ia merasa diasingkan dalam timnya dan menyebut ada ‘konspirasi untuk tidak mengoper bola padanya’ namun tidak ada bukti.
Beruntung, di tengah konflik, Kamerun mampu mengesampingkan segala hal-hal emosional saat leg kedua. Mereka menang 4-1 atas Tunisia dan akhirnya mendapat tiket ke Brasil.
Dalam dua laga pemanasan terakhir, mereka mampu menahan imbang Jerman 2-2 dan menang 1-0 atas Moldova.

Taktik: Sejak jadi pelatih pada Mei 2013, Finke sering menerapkan 4-3-3 klasik, hanya beberapa kali bereksperimen dengan 4-4-2 atau 4-1-3-2. Ia pastinya akan memainkan Charles Itandje sebagai kiper utama di Brasil karena ia tampil gemilang di level klub –bersama Konyaspor- maupun level internasional.
Nicolasi N’Koulou dan Aurelien Chedjou juga telah mematenkan tempat mereka di jantung pertahanan selama beberapa bulan terakhir walau tampil buruk di level klub. Di sektor kiri, Henri Bedimo sepertinya berpotensi mengegser Benoit Assou-Ekkoto karena tampil gemilang bersama Lyon. Bedimo mampu tampil tangguh saat bertahan dan memberikan ancaman saat menyerang. Di sektor kanan, ada Allan Nyom yang dinilai lebih unggul dari Gaetan Bong dan Dany Nounkeu.
Lini tengah sudah cukup mapan. Stephane Mbia akan dipercaya untuk menjadi gelandang ball-winning setelah tampil ciamik bersama Sevilla. Finke juga menempatkan pemain yang dinamis untuk menemaninya, seperti Enoh Eyong, atau Jean Il Makoun, atau Alex Song.
Kendati begitu, aset paling berharga Kamerun ada di lini depan. Samuel Eto’o yang jadi kapten akan memimpin ujung tombak. Vincent Aboubakar akan bermain di sektor kanan dan Eric-Maxim Choupo-Moting sepertinya akan mengisi lini kiri.

Ikhtisar: Perjalanan Kroasia ke Piala Dunia 2014 melewati jatuh-bangun yang membanggakan. Berada satu grup dengan Belgia, Wales, Skotlandia, Serbia, dan Makedonia, mereka tampil mengesankan di babak kualifikasi. Di enam laga awal saja, mereka mampu mengantongi 16 poin. Sial bagi Luka Modric dkk, mereka menelan kekalahan tiga kali beruntun setalahnya. Harapan untuk lolos ke Piala Dunia pun hampir saja pupus, tapi mereka diberi kesempatan kedua, yakni babak play-off melawan Islandia.
Vatreni tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Melawan tim kejutan di babak kualifikasi, Islandia, mereka tampil dengan amunisi andalan. Kejutan memang sempat terjadi di leg pertama karena Modric yang diunggulkan tak mampu meraih poin penuh. Laga tanpa gol pun menjadi konklusi di leg pertama. Beruntung, mereka tampil impresif di leg penentu. Kroasia memastikan diri berangkat ke Brasil setelah menang 2-0 di leg kedua.
Melalui proses jatuh bangun itu, Kroasia siap membangun performa ciamik di Brasil dan tentunya berharap bisa lolos dari Grup A. Setidaknya di belakang Brasil yang jadi unggulan.

Taktik: Berakhir sudah era eksperimen Igor Stimac yang membuat dirinya dipecat. Kini, Niko Kovac masuk sebagai manajer Kroasia - sejak play-off kontra Islandia - dan ia bersikeras menerapkan formasi 4-2-3-1 ke 4-1-4-1 sejak awal tiraninya. Formasi ini adalah formasi yang memaksimalkan peran Luka Modric serta Ivan Rakitic, duet playmaker andalan Kroasia. Kendati begitu, masalahnya hanya satu: tidak ada gelandang dengan kekuatan fisik berlebih untuk menjaga keseimbangan lini tengah.
Kiper 35 tahun, Stipe Pletikosa, sepertinya masih jadi andalan Kovac. Memang tak ada yang mengalahkan ketangguhannya menjaga mistar Kroasia selama 15 tahun. Menemani Pletikosa, kapten Darijo Srna akan menjaga sektor kanan sementara duet Vedran Corluka dan Dejan Lovren ada di tengah. Lini kiri Kroasia jadi salah satu sisi yang perlu diperhatikan karena Ivan Strinic cedera dan Danijel Pranjic kembali dipanggil.
Modric dan Rakitic dipercaya untuk mengokupasi lini tengah, sementara belum ditemukan tempat paten untuk Mate Kovacic. Ketiga gelandang ini memang cerdas secara taktik, tapi mereka tidak dikaruniai fisik tangguh untuk merebut bola. Kalau mereka terlalu dibebani dengna tanggung jawab bertahan, kreativitas mereka bisa terkekang. Penempatan gelandang veteran seperti Ognjen Vukojevic mungkin jadi opsi teraman Kovac untuk mengamankan lini tengah sementara Kovacic ditempatkan di salah satu sayap.
Di depan, ada Mario Mandzukic yang tampil tajam bersama Bayern Munich beberapa musim terakhir. Namun, ia diapstikan absen di laga pembuka Grup A melawan Brasil karena mendapat kartu merah dalam laga kontra Islandia. Ivica Olic dan Eduardo pun jadi pilihan Kovac.
Satu hal yang patut disimak, semua pemain Kroasia tampil gemilang bersama klubnya masing-masing. Tentu Piala Dunia akan jadi ajang menarik bagi mereka kalau kegemilangan itu mampu mereka terapkan bersama timnas mereka.

Ikhtisar: Perjalanaan Meksiko di zona CONCACAF jauh dari kata lancar. El Tricolor kesulitan bersaing dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Honduras, dan Kosta Rika. Performa Javier Hernandez dkk pun terbilang di bawah rata-rata saat mereka melakoni kualifikasi.
Meksiko hanya mampu mengantongi 11 poin dari 10 pertandingan. Mereka pun terdampar di peringkat keempat, di bawah AS, Honduras, dan Kosta Rika, dan gagal mengamankan tiket otomatis ke Piala Dunia.
Beruntung, ada kesempatan kedua bagi mereka. Pasukan Miguel Herrera mendapat jatah untuk melakoni laga play-off melawan pemenang dari zona OFC, yakni Selandia Baru.
Hasilnya bisa ditebak karena perbedaan kualitas tim terlampau jauh. Meksiko keluar sebagai pemenang setelah mengamankan agregat 9-3 dan berangkat ke Piala Dunia 2014 sebagai wakil keempat zona CONCACAF.

Taktik: Terpengaruh oleh pelatih Argentina Ricardo La Volpe, Miguel Herrera menerapkan formasi 5-3-2 di tubuh Meksiko, di mana peran gelandang serang dan bek sayap menjadi sangat penting. Ia tidak banyak melakukan perubahan. Kalaupun ada, ia seringkali mengubah ke formasi 4-4-2 atau mengubah lini tengah saja.
Peran Rafael Marquez sangat krusial di sini. Ia akan jadi pusat jantung pertahanan Meksiko sementara Hector Moreno dan Diego Reyes akan bertugas mengawal area depan Marquez dengan menjaga penyerang lawan. Paul Aguilar akan mengisi sektor kanan dan bek veteran Carlos Salcido ada di sisi sebaliknya. Di belakang Rafa, ada Guillermo Ochoa yang berpotensi menggeser peran kiper veteran José de Jesús Corona.
Hector Herrera - yang jadi pemain langganan Porto musim lalu - akan mengisi peran sentral di lapangan tengah. Sementara di lini depan, ada Oribe Peralta yang sudah memastikan diri ada di starting XI. Javier Hernandez dan Giovani dos Santos masih harus berebut tempat utama karena performa yang kurang meyakinkan musim lalu.
Di era ini, memang hanya sedikit tim yang bermain dengan lima bek, tapi Herrera tak ingin mengubah skema itu. Kalau ia sampai memainkan empat bek, itu berarti ia sangat membutuhkan gol di satu titik.

Klasemen Akhir
Poin

Brasil Sempurna, Kroasia Menyusul

1.

Brasil
9

Brasil 2-1 Kroasia
Meksiko 0-1 Kamerun
Brasil 3-0 Meksiko
Kamerun 0-2 Kroasia
Kamerun 1-2 Brasil
Kroasia 2-0 Meksiko

2.

Kroasia
6

3.

Kamerun
3

4.

Meksiko
0

Brasil akan dominan dalam grup ini. Rekor kemenangan sempurna akan diraih oleh Selecao. Walau mendapat perlawanan sengit dari Kroasia, mereka tetap meraih angka sempurna. Sementara itu, Kroasia diprediksi hanya kalah sekali dari Brasil dan mampu mengamankan poin penuh saat melawan Kamerun dan Meksiko. Meksiko akan berada di dasar klasemen saat babak grup usai, sementara Kamerun mampu mengantongi satu kemenangan atas El Tricolor.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics