ANALISIS Strategi: Jerman Setia Pada Kolektivitas Tim

Brasil sejatinya tahu bagaimana Jerman akan bermain dinihari nanti, tapi untuk bisa mengatasi permainan lawan, itu perkara lain.

Tak sedikit yang menyebut Jerman masih sebagai Der Panzer, tim Panser. Julukan itu muncul karena Jerman kerap bermain terlambat panas dan baru mengeluarkan potensi terbaik mereka menjelang laga berakhir. Julukan itu sendiri muncul di awal tahun 90an. Memang kala itu skuat Jerman tampil begitu atraktif dan efisien, namun hanya di menit-menit akhir laga. Ada juga yang berargumen bahwa julukan Panzer muncul karena, seperti tank buatan negerinya, tim nasional Jerman tidak istimewa. Tampilannya kurang indah, namun selalu efektif dan mematikan untuk menghancurkan lawan.

Tapi, dalam konteks kekinian, jika yang dimaksud pengertian pertama, sebutan Der Panzer untuk skuat Joachim Low sepertinya tidak tepat. Jerman yang sekarang langsung bermain ngotot sejak awal dan level permainan mereka tak menunjukkan penurunan tensi hingga laga berakhir. Tentunya itu bukan karakter mesin Panser.

Terlepas dari bagaimana julukan itu muncul dan berkembang, ada kesamaan antara Jerman di era 90an dengan tim yang ada sekarang ini. Die Mannschaft tetap bermain kolektif, efektif dan destruktif bagi lawan. Jangan lupakan juga mental dan sikap disiplin tinggi begitu kentara di skuat Jerman.

Tidak terkecuali di Piala Dunia 2014, semua itu dipertahankan skuat Jerman dengan sakleg. Joachim Low juga bisa mempertahankan tradisi tersebut. Permainan kolektif nan destruktif dengan tingkat disiplin yang tinggi itulah yang diharapkan bisa menjadi penentu sukses Jerman di Brasil.

Tak perlu ada sosok pemain bintang di tim Jerman. Bahkan Low berani memanggil pemain baru yang tak memiliki ketenaran untuk masuk ke skuatnya. Siapa yang sebelumnya mengenal Skhodran Mustafi, Christoph Kramer, Erik Durm bahkan Matthias Ginter untuk ambil bagian di Piala Dunia 2014. Hal ini menunjukkan Low tahu, siapa pun pemain yang dipanggilnya, skema dan taktik serta formasi tim akan berjalan dengan baik selama sistem yang ada di timnas Jerman bisa terus dipertahankan.

Skema permainan Jerman sendiri mengandalkan formasi 4-2-3-1 dan sejumlah skema turunannya. Otak permainan akan ada di lini tengah. Semua gelandang memainkan peran krusial, baik untuk memulai serangan, menghambat serangan lawan, melakukan penetrasi, menjadi bek pertama hingga jika perlu menjadi pencetak gol.

Di skema itu, peran Philipp Lahm dan Toni Kroos seakan tak terlihat. Padahal dari keduanyalah bagaimana skema bermain Jerman disebut efektif atau tidak.

Lahm (bila diposisikan sebagai gelandang bertahan) dan Kroos menjadi penghubung antara lini belakang dan depan. Hal itu terbukti dengan keduanya menjadi pemain urutan pertama dan kedua sebagai pemain yang paling sering mengumpan menurut Opta.

Bahkan dalam urutan sepuluh besar, lima pemain Jerman ada dalam urutan sepuluh besar sebagai tim yang paling sering melakukan umpan. Jerman juga menjadi tim urutan pertama untuk kategori ini, dan kesuksesannya di atas rata-rata tim lain.

Ini menjadi bukti tersendiri bahwa lini tengah Jerman memegang peran penting untuk keberlangsungan permainan dan efektivitas permainan Jerman secara keseluruhan.

Jadi apakah lini lainnya tidak penting? Tidak juga. Peran Thomas Muller sebagai penuntas serangan, dengan sendirian berada di lini depan, pun menjadi sangat krusial.

Dan jangan lupa, posisi Muller sejatinya adalah bukan penyerang utama. Di timnya Bayern Munich, Muller lebih dimaksimalkan tenaganya sebagai gelandang serang, winger juga penyerang bayangan, bukan bomber utama. Muller juga tak menunjukkan peran sebagai striker andalan di skuat Jerman saat ini, yang memunculkan spekulasi Low memainkan skema bermain false nine di timnya.

Terlepas apakah itu benar atau tidak, yang pasti Jerman yang sekarang sudah menjadi kekuatan menakutkan di Piala Dunia 2014. Brasil harus mewaspadainya dengan teramat sangat jika tak ingin dipermalukan di kandang sendiri, karena kolektivitas permainan dan disiplin tinggi pemain Jerman kerap memaksa lawan berada dalam kejatuhan.

Prancis dan Portugal sudah menjadi korban, apakah Brasil jadi yang berikutnya?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics