ANALISIS: Tantangan Berat Klub Promosi Liga Primer Inggris

Mengintip gambaran kekuatan serta peluang bersaing tiga klub promosi, Leicester City, Burnley dan QPR jelang bergulirnya Liga Primer Inggris 2014/15.

OLEH ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Musim baru Liga Primer Inggris akan segera bergulir akhir pekan ini, terdapat 20 tim yang akan saling beradu demi meraih gengsi masing-masing klub. Dari total jumlah tiim tersebut, tiga merupakan wajah baru yang akan menghiasi kampanye 2014/15.

Leicester City, Burnley dan Queens Park Rangers memastikan tempat mereka di Liga Primer usai melalui perjalanan panjang di divisi Championship musim lalu. Leicester dan Burnley meraih tiket promosi otomatis setelah keluar sebagai juara dan runner-up kompetisi. Sementara QPR berjuang melalui babak play-off.

Sebagai klub promosi yang akan meramaikan persaingan di kasta tertinggi sepakbola Inggris, tentunya akan menghadirkan antusiasme yang bercampur aduk antara optimisme untuk dapat berprestasi lebih baik dan rasa kekhawatiran akan hanya sekadar menjadi penggembira.

Kesiapan mereka jelas diperlukan untuk mengarungi derasnya persaingan ketat selama delapan bulan ke depan kompetisi berlangsung. Goal Indonesia mengajak Anda untuk melihat lebih dalam seberapa besar peluang ketiga tim promosi tersebut di musim baru ini.

Muka lama yang kembali menghiasi Liga Primer Inggris. Ya, Leicester kembali ke persaingan kasta tertinggi setelah sepuluh tahun lamanya absen dari gelaran tersebut. Musim lalu di divisi Championship, The Foxes tampil luar biasa. Memenangi 31 dari total 46 laga, membuat mereka meraup 102 angka untuk tampil sebagai juara dengan keunggulan sembilan poin dari Burnley di posisi kedua.

Terlebih, skuat saat itu tak ubahnya sebagai mesin gol mematikan dengan torehan 83 gol selama satu musim dalam perjalanan mereka kembali ke pentas tertinggi. David Nugent dan Jamie Vardy adalah kontibutor utama pencetak gol klub, dengan Nugent sebagai top skor tim berkat 20 golnya. Barisan pertahanan tim pun tangguh, tercatat sebagai tim kedua dengan rekor kebobolan paling sedikit (43).

Reputasi itu jelas cukup menjadikan sebuah gambaran bagaimana kekuatan skuat asuhan Nigel Pearson itu. Dengan memperpanjang kontrak sang manajer beserta penjaga gawang andalan mereka, Kasper Schmeichel, fans mulai merasa optimis tim pujaan mereka akan mampu berbicara banyak.

Target bertahan di Liga Primer tentunya akan menjadi misi realistis bagi klub milik pengusaha asal Thailand tersebut, mengingat begitu solidnya kekuatan mereka selama satu musim terakhir. Jika itu gagal tercapai, maka ancaman eksodus besar akan menghantui mereka, beberapa nama seperti Schmeichel dan Andy King sudah masuk dalam radar klub lain. Jelas sulit bagi mereka untuk kembali membangun kekuatan apabila terdegradasi.

Burnley kembali ke Liga Primer Inggris setelah empat musim lalu terdegradasi. Tak banyak yang memperediksi kembalinya mereka dengan kurun waktu yang cepat mengingat terakhir ketika mereka turun kasta, klub tidak sedang dalam situasi yang baik. Terlebih status sebagai runner-up divisi Championship cukup membuat beberapa kalangan terkejut.

Mengawali musim lalu dengan nada pesimis, saat manajer Sean Dyche memutuskan untuk menjual ikon klub Charlie Austin kepada rival mereka, Queens Park Rangers. Fans merasa berang kala itu sang juru taktik enggan memanfaatkan dana penjualan untuk merekrut sejumlah pemain baru.

Justru Dyche lebih memilih untuk memberikan amanat lebih kepada dua penggawa muda, Sam Vokes dan Danny Ings. Sebuah keputusan yang akhirnya berbuah manis, bahkan para pendukung kini berbalik arah ketika kombinasi dua pemuda tersebut, Ings mencetak 21 gol di liga serta dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi. Sementara Vokes dengan 20 golnya turut berperan dalam hadirnya tiket promosi.

Selain performa keduanya, barisan belakang juga memiliki peran krusial kala sukses mencatatkan 14 clean sheets. Duet Jason Shackell dan Michael Duff mungkin tangguh di kasta kedua namun untuk Liga Primer, The Clarets masih membutuhkan sosok dengan jam terbang tinggi untuk memenuhi ambisi mereka agar tak sekadar menjadi penggembira.

Dengan total 22 plus beberapa nama baru yang akan disiapkan, mengindikasikan sebuah kedalaman skuat yang kurang mumpuni. Sejumlah rekrutan baru seperti Marvin Sordell memiliki pengalaman yang kurang mengesankan selama di kasta tertinggi, begitu pula dengan Matthew Taylor dan Steven Reid yang notabene merupakan 'pemain buangan' klub lain. Manajemen Burnley harus tanggap akan hal ini.

Hanya butuh waktu satu musim bagi QPR untuk menapak kembali ke strata kompetisi tertinggi di sepakbola Inggris. Perjalanan mereka untuk kembali ke Liga Primer cukup panjang, ketika harus melakoni laga play-off kontra Derby County usai finis di posisi keempat klasemen reguler akhir musim.

Berbekal dengan sejumlah pemain dengan pengalaman Liga Primer dan beberapa pemain muda, skuat asuhan Harry Rednkapp itu lebih banyak memainkan sepakbola kolektif. The Hoops total mengoleksi 60 gol selama kompetisi musim lalu dan tak ada sosok yang benar-benar impresif selain Charlie Austin.

Selain Austin yang menjadi top skor tim dengan 17 gol, ada nama Ravel Morrison, gelandang pinjaman asal West Ham United yang cukup bersinar. Selebihnya pemain lain bergantian saling mengisi rekening gol tim. Terlepas dari lini depan, barisan tengah juga menjadi kekuatan utama tim di mana terdapat nama-nama seperti Jermaine Jenas, Joey Barton, Matt Phillips dan Junior Hoillett.

Hanya saja, sektor pertahanan masih menjadi titik lemah kesebelasan asal London barat itu, duet sentral Clint Hill (35) dan Richard Dunne (34) mulai termakan usia dan kurang memiliki pengalaman menjanjikan di Liga Primer. Solusi menghadirkan Rio Ferdinand dan Steven Caulker merupakan langkah cerdas manajemen tim untuk menutup kekurangan tersebut.

Kembalinya sederet pemain yang sempat dipinjamkan ke klub lain musim lalu seperti Adel Taarabt, Loic Remy, Julio Cesar, plus rekrutan anyar sekelas Mauricio Isla dan Jordon Mutch tentunya menghadirkan optimisme di kalangan pendukung QPR untuk melihat tim kebanggaan mereka untuk mencatatkan torehan membanggakan di musim 2014/15.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics