Piala Dunia 2018 Dalam Ancaman VAR?

Keputusan akan lebih adil, tapi mereduksi keseruan sebuah laga. Apakah VAR tepat diterapkan dalam “the beautiful game” yang kita cintai ini?

Eduardo Vargas kebingungan. Bola yang diceploskannya ke gawang Kamerun jelang turun minum telah disahkan wasit Damir Skomina dan penyerang Cile itu berselebrasi bersama rekan setimnya. Namun Skomina tiba-tiba mengubah keputusannya. Wasit asal Slowakia itu menggambar kotak di udara dan dalam sekejap gol itu dibatalkan. Lenyap sudah kegembiraan Vargas dkk.

Video Assistant Referee (VAR) memungkinkan hal itu terjadi. Berdasarkan pengamatan Clement Turpin, Milovan Ristic, dan Malang Diedhiou -- tiga asisten wasit yang menganalisis video tayangan ulang di sebuah ruangan -- Vargas dinilai berada dalam posisi off-side ketika menerima umpan terobosan Arturo Vidal. Kesimpulan itu lantas diteruskan kepada Skomina yang kemudian menganulir gol Vargas.

Padahal, tayangan ulang di televisi menunjukkan bahwa posisi Vargas sebetulnya tidak terlalu gamblang untuk dikatakan off-side. “Jelas-jelas dia onside. Gol yang indah. Saya tidak tahu mengapa wasit menganulirnya, saya tidak tahu apa yang mereka lihat dalam tayangan ulang. Hal ini membuat saya marah. Ini tidak masuk akal. Keputusan yang konyol. Konyol,” timpal Damien Duff, pundit RTE dan eks winger Chelsea.

Eduardo Vargas

Raphael Varane France England red card

Sekelumit insiden itu untungnya cuma terjadi di fase grup Piala Konfederasi 2017, Minggu (18/6) lalu. Untungnya lagi, Cile menang 2-0 atas Kamerun. Tentu tidak terbayangkan betapa hebohnya jika insiden serupa terjadi di final Piala Dunia.

Vargas akhirnya benar-benar mencatatkan namanya di papan skor dengan mencetak gol pamungkas. Kali ini situasinya terbalik. Saat menceploskan bola muntah hasil tembakan Alexis Sanchez, Vargas disemprit Skomina karena dianggap off-side. Namun setelah intervensi VAR, Skomina mengesahkan gol Vargas di menit ke-91 tersebut.

Laga persahabatan Prancis kontra Inggris pada pekan sebelumnya juga kembali mencuatkan pro kontra soal VAR. Dalam sebuah pelanggaran di kotak penalti, Raphael Varane mendapat kartu merah dari wasit David Massa atas rekomendasi VAR. Keputusan ini tepat, tetapi memicu kontroversi lantaran wasit terkesan membuat keputusan robotik dan tidak manusiawi.

Seperti inikah masa depan sepakbola?

Tak bisa dimungkiri, teknologi dalam sepakbola adalah hal yang tidak terpisahkan. Dengan teknologi, kita semakin dimudahkan untuk menikmati sepakbola: keberadaan kamera dan satelit yang memungkinkan disiarkannya pertandingan secara langsung, vanishing spray untuk penanda visual di lapangan, hingga mengetahui sah tidaknya gol lewat teknologi garis gawang.

VAR, meski pada akhirnya nanti akan menghadirkan keputusan yang seadil-adilnya, tetap berpotensi mengurangi sisi emosional, drama, dan keseruan dalam sepakbola. Bukankah nilai-nilai itu yang menjadi alasan mengapa miliaran orang jatuh cinta pada olahraga ini?

Dikhawatirkan, ketika nanti seorang pemain mencetak gol, kita tidak akan larut dalam selebrasi emosional sang pemain, melainkan harus menahannya sembari menunggu keputusan final wasit. Ini tentu bukan situasi yang lazim bagi pemain, pelatih, wasit, dan fans.

Video Assistant Referees

VAR

Pelatih Cile Juan Antonio Pizzi selepas laga kontra Kamerun mengatakan bahwa VAR masih butuh waktu sebelum benar-benar layak diimplementasikan. “Kita masih berada dalam fase uji coba sistem ini. Kita harus menunggu dan melihat. Mungkin seiring berjalannya waktu, sistem ini akan semakin baik,” ungkapnya.

“Kejadian di babak pertama [penganuliran gol Vargas] jelas membuat kami bingung, tapi kami juga belum terbiasa. Hemat saya, teknologi ini bisa memberikan keadilan dalam sepakbola. Tapi untuk saat ini, rasanya masih sulit untuk diterapkan. Sekalipun keputusan itu tepat, para pemain tetap terkena dampak emosional,” jelas Pizzi.

Meski demikian, kita tidak boleh langsung menghakimi VAR secara gegabah, mengingat teknologi ini masih merupakan barang baru dalam sepakbola. Sebagaimana dikatakan Pizzi, barangkali kita masih belum terbiasa mengalaminya, terlepas dari segala pro kontra seputar VAR.

VAR sebetulnya sudah menghadirkan dampak bagus dalam laga uji coba Prancis dan Spanyol pada Maret lalu. Ketika itu, VAR dua kali menentukan keabsahan gol dalam laga tersebut secara tepat, yakni dengan menganulir gol Antoine Griezmann dan mengesahkan gol Gerard Deulofeu.

Yang perlu dicatat, dalam laga itu wasit Felix Zwayer bersama seluruh asistennya telah melakukan latihan menggunakan VAR sebelum pertandingan. Zwayer, bersama wasit-wasit Jerman lainnya, memang mendapat keistimewaan ini karena Bundesliga Jerman akan menerapkan VAR mulai musim depan.  

FIFA harus memastikan bahwa ofisial mereka mendapatkan latihan dan persiapan matang sebelum memutuskan untuk menerapkan VAR ke dalam turnamen utama, yakni Piala Dunia 2018. Apabila penerapan VAR di Piala Konfederasi 2017 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, FIFA seharusnya tidak memaksakan penggunaan teknologi video ini di Rusia tahun depan.

Sebab taruhannya besar. Jika kejadian seperti Vargas terulang di ajang sekelas Piala Dunia, sepakbola bukan cuma kehilangan aspek drama, emosional, dan keseruannya, namun pada akhirnya juga akan kehilangan penontonnya. Mari menunggu keputusan terbaik dari Gianni Infantino.

Topics