Antiklimaks Dongeng Steven Gerrard Di Anfield

Tak ada gelar di Anfield musim ini, hanya ada tepuk tangan meriah untuk menandai dongeng Gerrard di Liverpool telah mencapai antiklimaks.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Liverpool kalah 3-1 dari Crystal Palace kemarin Sabtu (16/5) waktu setempat. Bukan laga yang indah untuk sebuah perpisahan tentunya, apalagi pemain yang ingin dilepas oleh publik Anfield merupakan salah satu legenda hidup mereka: Steven Gerrard.

Namun kehangatan masih terasa di sana. Bukan kehangatan jelang musim panas, melainkan kehangatan fans Liverpool yang terus memberikan aplaus dan sorak sorai untuk kapten mereka. Ya, mereka sadar Steven Gerrard bakal pergi. Pahlawan Istanbul, kapten legenda, ikon Liverpool bakal hilang dari daftar skuat yang rutin mereka unduh dari smartphone mereka mulai musim depan. Sedih.

Stevie tentu merasakan hal yang sama. Entah sudah berapa kali ia menyatakan cintanya pada Liverpool, tapi ia sadar juga, selalu ada yang namanya perpisahan. Dan ia kembali mengungkapkan itu ketika menyampaikan pidato perpisahannya.

"Rasanya sangat aneh [ketika masuk ke Anfield untuk terakhirnya]. Saya sungguh takut akan tibanya momen ini. Saya akan sangat merindukannya. Saya mencintai setiap menitnya dan saya sangat kecewa karena takkan bermain untuk suporter ini lagi," ujar Stevie.

Pandangannya kerap kali kosong di Anfield sore itu – coba menahan tangis, mungkin. Ia terlihat begitu tegar, menggendong Lourdes - anak terkecilnya, sembari mengelilingin Anfield. Namun mata sang kapten tak bisa berbohong. Seandainya boleh menebak, mungkin saja ia masih tidak percaya bahwa dirinya segera meninggalkan klub idolanya.

Dan mungkin saja ia sedang bernostalgia, memutar kilas balik dongengnya bersama Liverpool di dalam pikirannya saja.

Semua tentu berjalan bak mimpi bagi Stevie. Menandatangani kontrak bersama klub idamannya di usia 17 tahun, melakoni debut bersama klub idaman setahun setelahnya, meraih treble di tahun ketiganya, lalu mewarisi ban kapten dari Samy Hyppia. Semua itu ia dapatkan dalam waktu singkat, tak sampai genap lima tahun.

Padahal ketika melihat beberapa tahun sebelumnya, Stevie bahkan diragukan bakal merapat ke Liverpool. Ia bahkan sempat melakoni uji coba di Manchester United, namun dalam biografinya, sang gelandang menyebut tindakan tersebut bertujuan untuk memaksa Liverpool memberinya kontrak pemain muda. Ya, banyak yang meragukan Stevie ketika masih berperan sebagai winger yang rajin melakukan pelanggaran konyol.

Untung saja The Reds memilih untuk percaya kepada Stevie. Setahun setelah melakoni debut, ia jadi gelandang tengah pendamping Jamie Redknapp. Sedikit meleset dari posisi awalnya, memang, namun Gerard Houllier yang jadi manajer saat itu sepertinya tahu benar akan apa yang ia lakukan. Stevie muda akhirnya jadi sosok penting dalam skuat Liverpool, dinobatkan sebagai PFA Young Player of The Year 2001, hingga akhirnya mewarisi ban kapten dari Hyppia di usia 23 tahun.

Alur dongeng Stevie ternyata tak berlalu dengan mulus. Di musim 2003/04, di mana The Reds mengakhiri musim tanpa gelar dan Houllier mundur, Stevie untuk pertama kalinya mengutarakan niatnya untuk hengkang dari Anfield. Klub yang meminangnya kala itu pun bukan main, yakni Chelsea yang sedang naik daun ketika dipimpin Jose Mourinho.

Hal tersebut tentu memancing amarah para Kopites. Mereka menolak kepergian Stevie, bahkan sempat ada yang membakar jersey sang kapten. Tapi kemarahan mereka mereda setelah Stevie menolak tawaran £20 juta dari Chelsea dan memutuskan untuk tinggal di Anfield.

“Saya tak senang dengan perkembangan klub ini dan untuk pertama kalinya dalam karir, saya memikirkan peluang untuk pindah,” ujar Stevie, tak lama setelah Rafael Benitez ditunjuk sebagai manajer baru Liverpool. “Namun saya mengikuti suara hati saya. Saya mengambil keputusan untuk bertahan di Liverpool dan saya 100% berkomitmen pada klub ini.”

Bukan sebuah keputusan yang disesali Stevie pastinya, sebab ia menancapkan tonggak legenda tak lama setelah keputusan tersebut: Istanbul 2005.

Awal musim 2004/05 tidak berjalan lancar bagi sang kapten. Ia mengalami cedera kaki sejak September dan harus absen hingga akhir November. Untung saja sang kapten mampu kembali ke performa terbaik, seiring gol dahsyatnya di menit akhir menghadirkan kemenangan 3-1 atas Olympiakos di fase grup Liga Champions.

Singkat cerita, The Reds lolos ke fase gugur setelah finis sebagai runner-up di belakang Monaco. Langkah mereka berjalan mulus setelah menang 6-2 secara agregat atas Bayer Leverkusen di babak 16 besar, namun harus susah payah untuk menang 2-1 atas Juventus di babak delapan besar.

Di semi-final, Stevie dipertemukan dengan Chelsea, saingan mereka di Liga Primer Inggris. Laga berjalan begitu ketat di leg pertama. Hasil imbang 0-0 pun membuat leg kedua semakin panas. Adapun akhirnya Liverpool lolos berkat gol hantu dari Luis Garcia – teknologi garis gawang belum ditemukan sehingga kontroversi tersebut memberi keuntungan bagi Liverpool. Kemenangan 1-0 diraih oleh The Reds dan mereka melangkah ke Istanbul 2005.

Apa yang terjadi setelahnya sudah tertulis dalam buku sejarah. Liverpool tertinggal 3-0 dari Milan di paruh pertama, namun kebangkitan dramatis memaksa Rossoneri untuk bermain imbang 3-3 hingga 120 menit. Stevie yang mencetak gol pembuka bagi Liverpool memegang peran penting di sini, seiring dirinya terus memompa semangat tim beserta fans yang mendukung mereka di tribun. Ketika adu penalti, Liverpool keluar sebagai juara setelah tendangan Andriy Shevchenko digagalkan oleh Jerzy Dudek. Malam itu jadi malam paling bersejarah di Liga Champions, baik bagi Liverpool maupun para fans, dan tak terkecuali untuk Stevie yang sempat terdiam ketika di ruang ganti.

“Bagaimana mungkin saya berpikir untuk meninggalkan Liverpool setelah malam seperti ini? Saya sangat senang dengan klub ini. Fans Liverpool memang gila, mereka luar biasa, dan saya ingin mempersembahkan kemenangan ini untuk mereka,” ujarnya setelah menggendong Si Kuping Besar. “Kami benar-benar menjadi kuda hitam di awal kompetisi dan saya pun sempat menyerah [di paruh pertama] dan tak pernah berpikir bakal mencapai tahap ini.”

“Namun manajer meminta kami untuk tetap tegak, mencoba untuk mencetak gol cepat di babak kedua dan memberikan penghormatan pada para fans. Gol pertama memberikan kami sedikit keyakinan. Para suporter telah menabung berminggu-minggu, bahkan bulan, untuk datang kemari. Saya sungguh senang bisa mengangkat trofi ini untuk para fans.”

Musim itu jadi musim yang sangat spesial bagi Stevie, pastinya. Posisi Liverpool di Liga Primer memang tidak membanggakan, peringkat lima, tapi Si Kuping Besar jelas merupakan pencapaian besar bagi mereka. Belum lagi di akhir tahun, sang kapten masuk tiga besar peraih gelar Ballon d’Or, namun hanya keluar sebagai juara ketiga. Di musim 2005/06, sang kapten hanya mampu mempersembahkan satu trofi Piala FA lewat gol dramatis yang lagi-lagi mendorong mereka hingga adu penalti, lalu era paceklik gelar pun dimulai.

Stevie dan Liverpool mengalami paceklik gelar setelahnya. Peringkat mereka di Liga Primer Inggris pun tak kunjung membaik hingga Fernando Torres merapat ke Anfield. Duet Stevie dengan Torres tentu jadi salah satu momen paling dirindukan oleh Kopites. Betapa tidak, Stevie yang dipasang sebagai second-striker di belakang Torres ternyata tampil efektif dan El Nino pun menciptakan banyak gol lewat kerjasama mereka. The Reds secara konsisten menjadi pesaing gelar Liga Primer, namun mereka tetap tak kunjung mampu mengamankan gelar tersebut.

Dan satu per satu pahlawan Istanbul dan andalan Liverpool, pergi meninggalkan Stevie. Xabi Alonso hengkang ke Real Madrid, Rafael Benitez dipecat, dan Torres yang makin tajam bersamanya juga memilih untuk hijrah ke Chelsea. Tak lupa Javier Mascherano, Alvaro Arbeloa, ikut meninggalkan Anfield. The Reds dan Stevie mengalami penurunan drastis, terlempar dari zona Liga Champions, bahkan sempat terdampar di luar zona Eropa.

Lalu tibalah musim 2013/14, musim di mana Liverpool jadi kandidat kuat juara Liga Primer Inggris ketika Luis Suarez tampil begitu impresif. Bahkan hingga pekan ke-35, mereka masih ada di puncak klasemen sementara. Stevie pun tentu sangat optimistis, berpikir bahwa musim ini bakal jadi musim di mana dirinya menggendong piala Liga Primer yang sudah lama ia nantikan.

Namun di puncak performa sang kapten musim itu, ia menggagalkan sendiri mimpinya. Dalam laga kontra Chelsea yang sangat penting untuk meraih gelar juara, sang kapten terpeleset di tengah lapangan. Bola terlepas, direbut oleh Demba Ba, dan penyerang Chelsea itu memupuskan harapan Liverpool. The Reds akhirnya menyerah kalah 2-0 dari Chelsea dan harus rela gelar juaranya direbut Manchester City.

Gagal meraih gelar juara yang ada di depan mata, Stevie berharap lebih di musim selanjutnya. Tapi kepergian Suarez ke Barcelona memberikan dampak signifikan terhadap skuat The Reds . Mereka kehilangan daya gedor dan harus rela terjerembap ke papan tengah di pertengahan musim dingin. Di situlah sang kapten sadar, dirinya sudah tak punya tempat di Liverpool, dan ia bakal menjadi penghambat – mungkin. Dan di awal tahun 2015, sang kapten mengumumkan keputusannya untuk pergi dari Anfield.

“Pembicaraan atau momen kunci [keputusan pindah] adalah ketika manajer mengajak saya berbicara beberapa waktu lalu dan mengatakan sudah saatnya saya mengatur jam bermain saya demi diri saya dan tim ini,” ujar Stevie setelah ia memutuskan untuk hengkang ke Los Angeles Galaxy. “Saya cukup cerdas untuk menyadari bahwa ini merupakan hal terbaik bagi semuanya, tapi saat Anda menjadi seorang starter dan andalan dalam tim sejak lama, ini merupakan pembicaraan yang sangat sulit dengan manajer.”

“Kenyataannya, saya bakal menginjak usia 35 di musim panas. Saya sudah berada di sini sejak lama, saya selalu datang ke lapangan latihan ini sejak berusia delapan tahun. Saya selalu tahu hal ini akan berakhir suatu hari nanti dan tentu bakal jadi keputusan yang sangat emosional. Keputusan itu adalah saat ini.”

Ya, semua berlalu begitu cepat bagi Stevie, bak mimpi. Hanya butuh lima tahun untuk mengamankan ban kapten di lengannya. Hanya tiga tahun untuk mengamankan treble bagi klub kesayangannya. Dan hanya butuh tujuh tahun untuk menciptakan keajaiban di Istanbul. Tak terasa sudah 17 tahun ia berseragam The Reds .

Stevie pun kembali ke realita. Hanya ada tepuk tangan di depannya, di Anfield, dilengkapi dengan anthem yang membuat bulu kuduk siapapun berdiri. Tak ada gelar. Tak ada penghargaan individu. Tak ada tiket Liga Champions. Tak ada kemenangan di laga kandang terakhir. Tak ada.

Hanya ada tepuk tangan meriah untuk menandai dongeng sang kapten Liverpool telah mencapai antiklimaks.

Farewell , Steven Gerrard!

addCustomPlayer('12jn6r4k19le814u492stgt7su', '', '', 620, 540, 'perf12jn6r4k19le814u492stgt7su', 'eplayer4', {age:1426476447716});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.