Apa Yang Salah Dengan Gary Neville?

Diklaim sebagai salah satu pandit terbaik, Neville tak mampu mengimplementasikan ide-idenya pada pertandingan nyata selama berkarier di Mestalla

Gary Neville punya karier cemerlang saat masih aktif sebagai pemain sepakbola profesional. Ia termasuk bek tangguh Manchester United yang disegani lawan-lawannya. Kehidupan Neville setelah gantung sepatu pun terlihat mulus. Meski tidak aktif di lapangan hijau, hidupnya tidak jauh-jauh dari sepakbola, menjadi pandit pun dipilihnya. 

Semua berjalan baik-baik saja sampai ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran sang sahabat, Peter Lim, untuk meneruskan tugas Nuno Espirito Santo di Valencia pada Desember tahun lalu. 

Senyum semringah tampak jelas ketika ia diperkenalkan kepada publik di markas kebanggaan Los Che, Mestalla, di depan awak media. Dalam benaknya ia pasti berpikir “inilah saatnya melangkah ke fase berikut. Babak baru yang benar-benar nyata” setelah bertahun-tahun menahkodai acara Monday Night Football di Sky Sports. Apa bagusnya jika analisis di depan layar kaca tak bisa diterapkan di kehidupan nyata? Bukan begitu? 

Tapi rupanya menerapkan secara langsung sebuah analisis ke pertandingan sebenarnya tak semudah menghitung satu, dua, tiga. Empat bulan kemudian, di tengah situasi genting di Valencia, ia justru meninggalkan Mestalla dan menghabiskan enam hari bersama tim nasional Inggris untuk memenuhi tugasnya sebagai asisten pelatih Roy Hodgson pada pertandingan persahabatan melawan Jerman dan Belanda. Mungkin banyak yang tak habis pikir mengapa Neville bisa-bisanya mengambil keputusan kontroversial tersebut - meski pada kenyataannya kompetisi di tingkat klub memang diliburkan. 

Yang aneh justru timing pengumuman dari Valencia, mereka mesti menunggu libur internasional rampung untuk memutus kerja sama dengan Neville. Ya, tim Kelelawar itu memang sempat mengalami peningkatan mulai Februari dengan merangkai lima kemenangan dari enam pertandingan di semua kompetisi. Namun grafik Roberto Soldado dkk kembali menukik dengan menelan lima kekalahan hanya dalam kurun waktu tujuh pertandingan. Posisi tim pun merosot mendekati garis merah dengan hanya selisih enam poin dari zona degradasi, usai kekalahan 2-0 dari Celta Vigo - laga terakhir Neville sebagai entrenador - sepuluh hari lalu. 

Mengapa klub tidak langsung mendepaknya ketika itu? 

Padahal desakan untuk klub memecat si mantan pandit televisi ini begitu deras. Apalagi ia dengan entengnya ingin Mestalla dan gabung bersama The Three Lions ketika Valencia sedang putus asa - meski akhirnya ia mengurungkan niat tersebut. Nyanyian ‘Gary vete ya’ (‘Pergilah Gary’) pun terdengar lantang dari para suporter Valencia yang terlanjut jengkel dengan sikap sang arsitek. 

Mengingat bahwa Neville butuh sepuluh pertandingan untuk mengepak kemenangan perdana di Liga, tampaknya tak berlebihan menyebut ia benar-benar gagal di lapangan. Permainan Los Che sangat kacau, mereka tampak tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana bermain di lapangan. Ia merotasi penjaga gawang, demikian pula dengan tandem Shkodran Mustafi di bek tengah. Tak cuma itu, posisi Paco Alcacer dan Alvaro Negredo ikut diputar-putar. Terakhir, ban kapten Dani Parejo dicabut - walau sang pemain mengaku oke-oke saja dengan keputusan terakhir. 

Di pertandingan melawan Atletico Madrid contohnya, Neville benar-benar terlihat tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan tim. Aderlan Santos diusir wasit saat pertandingan menyisakan sepuluh menit, saat itu timnya tertinggal 2-1. Neville bingung apakah harus memasukkan Negredo untuk mengejar skor atau Aymen Abdennour guna menambal lini belakang yang kosong. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan memainkan striker. Tapi alih-alih menyamakan kedudukan, Valencia malah kebobolan lagi hanya beberapa saat setelah Negredo masuk. 

Sebelumnya, mereka juga dibantai Barcelona 7-0 untuk kemudian tersingkir dari Copa del Rey, sementara catatannya di La Liga juga memprihatinkan hanya memanen tiga kemenangan dari 16 pertandingan, mereka bahkan secara memalukan kalah dalam laga derby lokal versus Levante. Sejumlah kemenangan di turnamen lain sedikit membantu rekornya - sepuluh kali menang, tujuh imbang dan 11 kalah - tapi dieliminasi Athletic Bilbao dari ajang Liga Europa membuat kans Valencia untuk mengobati kekecewaan fans sirna. 

Lalu, apakah Neville pantas dijadikan kambing hitam tunggal atas rangkaian kebobrokan tim musim ini? Jika mau merunut lebih jauh, sepertinya tidak juga. 

Klub juga mesti bertanggung jawab atas hasil minor Los Che. Bagaimana tidak, saat ia datang tidak ada rekaman video untuk menganalis lawan mereka, Eibar. Belum lagi infrastuktur Valencia juga terbilang sudah usang. 

Melihat segala kekurangan klub, pria 41 tahun ini kemudian membuat sebuah sistem, sehingga pelatih memiliki akses ke pertandingan yang melibatkan calon lawan mereka. Nah, sistem inilah yang bisa dinikmati suksesor Neville ke depannya, termasuk Pako Ayestaran. Perubahan juga terjadi menyangkut ketersediaan ruangan di sekitar Paterna, markas latihan klub.

Neville mesti menyerahkan kantornya untuk staf pelatih, yang butuh tempat untuk bekerja, dan membuat gym darurat untuk para pemain. Ia bahkan telah merencanakan pramusim untuk klub supaya bisa mempersiapkan kampanye 2016/17 lebih baik dari sekarang. 

Satu-satunya kesalahan fatal Neville adalah ia tidak sekaligus mengangkut seseorang yang fasih berbahasa Spanyol, untuk membantunya berkomunikasi dengan para pemain. Sudah menjadi rahasia umum, melatih di Spanyol kerap kali terkendala bahasa sehingga komunikasi yang ideal antara juru taktik dan pemain tidak terjadi. Hal ini diakui pula oleh Paco Alcacer saat menjalani tugas internasional bersama La Roja. 

Karena tak punya translator khusus, seorang analis video mesti menerjemahkan semuanya. Hal ini tentu saja buang-buang waktu sehingga memperlambat sesi latihan. Sebagai antisipasi, Neville memang ambil kursus bahasa Spanyol tapi tak semua orang bisa lancar belajar bahasa asing hanya dalam waktu empat bulan. Ia pun menyadari kesalahannya - kesalahan terbesar yang ia buat - dan memboyong Ayestaran pada Februari silam, yang kini menjadi penerusnya hingga akhir musim. 

Kegagalan Neville bukan soal ia tak punya komitmen. Toh ia bekerja keras dengan ide-idenya dan ingin belajar dari kesalahan David Moyes di Real Sociedad. Sayang, ia tak bisa belajar dengan cepat. 

Neville disebut-sebut ingin tetap di Spanyol, terlepas dari pengalaman pahitnya bersama Valencia. Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah, ia harus berpikir sangat hati-hati untuk mengambil langkah selanjutnya. 

Ingat, Valencia bukan tim kecil di La Liga. Mereka punya reputasi untuk meramaikan persaingan gelar. Jadi boleh dibilang mengisi bench Valencia terlalu dini untuk Neville yang belum mengantungi jam terbang tinggi di dunia kepelatihan.