Apakah Liverpool Mulai Lelah?

Sejak periode sibuk Januari dimulai, Liverpool sama sekali belum menang dan performa mereka mengalami penurunan dari pekan ke pekan. Sudah lelah?

Apakah Liverpool mulai lelah? 

Pertanyaan ini yang muncul dalam pikiran saya ketika menonton 20 menit awal pertandingan Liverpool kontra Swansea City. Salah umpan, terlambat menutup ruang, dan kehilangan bola menjadi pemandangan yang sering terlihat dalam periode tersebut. Ironisnya, kesalahan-kesalahan tersebut menghasilkan peluang untuk Swansea tanpa harus bersusah payah.

Dilihat dari daya kerjanya, Adam Lallana dkk memang tidak mengurangi intensitas berlari. The Reds terus mengejar bola dan berusaha menutup ruang seperti orang gila. Adapun pergerakan mereka sesekali terlihat seperti tanpa arah. Bukannya menutup ruang, para pemain justru membuka ruang untuk lawan – dan tentu saja bola gagal mereka rebut. Minimnya ini terlihat jelas dalam pergerakan Jordan Henderson, Nathaniel Clyne, serta Adam Lallana.

Henderson terlihat sangat canggung menentukan posisinya di lini tengah. Kadang-kadang ia terlalu maju, kadang-kadang terlalu jauh untuk menerima umpan balik. Hal ini tampaknya disadari oleh Leroy Fer dan sang bintang Belanda beberapa kali memanfaatkan serangan balik cepat dari area Hendo. Begitu Fer berlari, Hendo tak bisa mengejarnya dan kesalahan ini berujung pada Ragnar Klavan.

Tak hanya salah posisi, Hendo juga berkali-kali gagal melancarkan serangan cepat karena umpannya kurang bertenaga. Maksud hati mengirim bola melewati dua kawalan dan mencapai Philippe Coutinho, bola malah dipotong berkali-kali oleh lini tengah The Swans. Visi sepakbola Hendo jelas kabur dalam laga ini. Coutinho yang umpannya dipotong berkali-kali pun frustrasi dan akhirnya menjemput bola sendiri di lini tengah – menciptakan suasana lebih canggung di lini tengah pada menit 30-an.

Philippe Coutinho Liverpool Premier League

Sementara Henderson meleset dalam pengambilan posisi, Clyne beberapa kali terlambat melakukan transisi bertahan. Keterlambatannya membuat Gylfi Sigurdsson dan Tom Carroll mengeksploitasi sektor kanan. Pertengahan babak pertama, Carroll bahkan nyaris memanfaatkan kelengahan Clyne dengan merangsek masuk kotak penalti. Untung saja, mistar gawang berhasil menggagalkan peluang itu.

Adam Lallana yang dielu-elukan salam beberapa bulan terakhir pun tidak tampil sebagus biasanya. Dipasang sebagai sayap kanan dengan maksud menggantikan Sadio Mane, gelandang Inggris itu malah tak banyak bicara di Anfield. Dribel dan operannya memang akurat, tapi minim naluri pembunuh. Malangnya lagi, Lallana menyianyiakan deretan peluang selama paruh pertama.

Tiga nama di atas adalah pemain yang tampil di bawah standar pada pertandingan kemarin malam – tak perlu memperhitungkan Simon Mignolet dan Dejan Lovren karena standar mereka tidak tinggi-tinggi amat. Saya mengamati permainan mereka dan ketiganya terlihat seperti kehilangan ketenangan. Ketika dalam kondisi off the ball, pergerakan Hendo bahkan terkesan seperti “yang penting lari”. Akurasi permainan secara keseluruhan pun mengalami penurunan.

Setengah pertandingan kiranya sudah cukup menyadarkan bahwa Liverpool kehilangan “sesuatu”. Semula saya berpikir Sadio Mane adalah jawabannya, namun ada momen ketika Liverpool tetap bersinar tanpa dirinya. Hipotesis pun mengarah pada hal yang sejak awal musim didengung-dengungkan bakal jadi masalah: kondisi fisik.

HD Phil Coutinho Jordan Henderson

Liverpool boleh saja jemawa hingga akhir 2016. Mereka menjadi pesaing utama Chelsea dalam persaingan gelar Liga Primer. Kemenangan demi kemenangan berhasil mereka amankan, hanya sesekali terpeleset. Namun gaya main heavy metal yang diterapkan oleh Jurgen Klopp tampaknya mulai menunjukkan dampaknya. Sehebat apa pun stamina pemain, bermain dengan intensitas tinggi selama 90 menit x 21 pertandingan tentu akan memengaruhi kondisi fisik.

Akhir tahun 2016, data menunjukkan Liverpool merupakan tim dengan daya jelajah tertinggi Liga Primer Inggris. Mereka berlari rata-rata 116,4 km per pertandingan dan Lallana jadi pemain yang paling jauh daya jelajahnya (12,5 km) di awal 2017. Bayangkan bagaimana Liverpool dituntut untuk terus berlari seperti itu, apalagi Januari merupakan periode yang paling sibuk dalam jadwal pertandingan Liverpool. The Reds sama sekali belum menang sejak Tahun Baru dan mungkin ini adalah efek susulan dari sepakbola heavy metal.

Hendo, Lallana, dan Clyne adalah tiga dari empat pemain dengan penampilan terbanyak bersama Liverpool di Liga Primer Inggris musim ini. Hendo dan Clyne bermain 21 kali, sementara Lallana 20 kali – hanya Firmino (21) yang menyamai jumlah tersebut. Itu berarti selain Lallana, dua pemain lainnya bermain di setiap pertandingan Liga Primer musim ini – belum ditambah dengan kompetisi lain seperti Piala FA dan Piala Liga. Tiga pemain itu adalah pemain yang paling diforsir tenaganya sepanjang musim dan setelah melihat permainan ketiganya di paruh pertama, asumsi awalnya adalah mereka kelelahan.

Asumsi tersebut dikonfirmasi oleh penampilan di paruh kedua. Liverpool kebobolan dua gol, sementara pertahanan terlihat pasif menanggapi bola lambung Swansea. Untuk gol kedua, Nathaniel Clyne salah mengantisipasi pergerakan Sigurdsson, disusul Henderson yang gagal menutup umpan silang gelandang Islandia itu. Walau berhasil menyamakan kedudukan lewat sepasang gol Firmino, performa buruk The Reds memuncak pada gol ketiga yang dicetak oleh Sigurdsson. Segenap skuat panik menanggapi serangan balik The Swans. Semua berlari ke kiri berusaha menutup bola, sampai-sampai tidak sadar ada Sigurdsson yang menyelinap masuk kotak penalti.

HD Jurgen Klopp

Liverpool sudah kehilangan konsentrasi pada momen tersebut, arah lari mereka mulai tak beraturan, sementara spekulasi tanpa arti diluncurkan ke kotak penalti. Tambahan waktu lima menit tidak terlihat sebagai harapan, melainkan ancaman bagi The Reds yang sudah hilang arah. Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan, namun tetap tak bisa dimungkiri performa Lallana dkk mengalami penurunan setelah periode sibuk – peringatan keras untuk Kloppo di bursa transfer.

Kekalahan dari Swansea secara tak langsung mengakhiri perburuan gelar Liga Primer untuk Liverpool. Secara matematis, memang masih ada harapan, tapi melihat performa Chelsea dan kondisi fisik The Reds, peluang yang ada amatlah tipis. Bahkan Liverpool bisa saja tergelincir dari empat besar jika tidak berhati-hati.

Jurgen Klopp harus segera menemukan solusi, entah itu dalam bentuk transfer atau penyesuaian strategi. Yang jelas, penurunan performa semacam ini takkan bisa dinaikkan hanya dengan kata-kata motivasi, karena betapa pun hebatnya Liverpool dalam berlari, tubuh mereka sudah mulai menjeritkan batasnya.

Topics