Arema Indonesia Minta Bantuan Presiden RI Joko Widodo

Manajemen Arema Indonesia juga menyatakan mereka sebenarnya lebih pantas bermain di ISL.

Direktur operasional Arema Indonesia Haris Fambudy meminta bantuan Presiden RI Joko Widodo agar menuntaskan permasalahan yang mereka anggap belum selesai, kendati telah mendapatkan pemutihan dalam kongres tahunan PSSI.

Berdasarkan keputusan kongres tahunan itu, Arema Indonesia harus berlaga di kompetisi amatir Liga Nusantara bersama lima klub lainnya. Sedangkan Persebaya ditempatkan di Divisi Utama.

Langkah awal yang dilakukan manajemen saat ini adalah mengirim surat kepada stakeholder sepakbola di Indonesia dan juga pemerintah, mulai dari Presiden Jokowi, Menpora, hingga PSSI.

“Saat di Bandung kami sudah sudah keberatan. Kami ingin disamakan dengan Persebaya, karena tidak ada perbedaan antara Arema Indonesia dan Persebaya.  Kami sudah bersyukur diterima sebagai anggota, dan kita tentu sebagai anggota punya hak untuk berbicara,” tutur Haris.

“Kami juga punya sejarah yang cukup panjang di sepakbola Indonesia, 2013 partner kami adalah Semen Padang dan PSM [Makassar], jadi kami bukan klub lama. Saya mohon kepada Pak Jokowi, ini belum selesai, masih ada klub-klub yang belum selesai, karena sebenarnya Arema ini tidak dihukum, namun tidak diikutkan saat proses unifikasi liga.”

“Saya ingin ketua umum terbuka hatinya, karena kami ingin main di Divisi Utama. Masih ada program kerja PSSI bidang kompetisi, dan semoga kami bisa masuk pada saat itu. Jika sudah main di Divisi Utama maka masalah sudah clear”

Haris mengaku tidak ingin membuat kegaduhan dengan memperkarakan masalah ini ke pengadilan. Menurutnya, saat ini yang ingin mereka lakukan adalah tidak membuat orang lain emosi.

“Kami bekerja secara tim, ada yang di Malang dan Jakarta. Kami tidak pernah bikin gerakan yang bikin emosi orang. Kami yakin dengan surat yang kami punya, yang kami bawa ke AFC, yang kami bawa ke Ketum. Kami yakin, dengan surat itu kami diterima, dan layak verifikasi di Divisi Utama,” kata Haris.

“Kami tidak tahu alasanya kami main di Linus. Kami harusnya di Divisi Utama karena kita sudah mengalah. Kalau boleh jujur, kami ini main semestinya di ISL [Indonesia Super League], tetapi kami tidak mau ribut. Pengadilan sudah kami tutup ya, alasannya karena pemerintah sudah mengakui kami. Kalau pengadilan akan bikin emosi orang.”