Bagaimana Cara River Plate Redam Agresivitas Barcelona?

Bermain dengan mengandalkan skema serangan balik cepat menjadi opsi yang paling memungkinkan bagi pasukan Marcelo Gallardo dalam menghadapi Barcelona.

Tidaklah mudah, tapi pada akhirnya River Plate telah mencapai salah satu target utama mereka musim ini: The Millonarios sukses melaju hingga partai final Piala Dunia Antarklub usai melewati perlawanan sengit klub Jepang, Sanfrecce Hiroshima dengan skor 1-0 di semi-final. Ujian selanjutnya pasti lebih berat, dengan Barcelona sebagai lawan mereka.

Sebagai wakil Amerika Latin, yang dianggap merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam sepakbola dunia, jelas River menjadi salah satu unggulan dalam turnamen ini. Parti final jelas akan mendapat sorotan lebih dan situasi tersebut jelas menambah tekanan tersendiri yang bakal dihadapi kampiun Copa Libertadores.

Kemenangan tipis atas Sanfrecce secara tak langsung mengindikasikan bahwa River tak bermain dalam potensi terbaik mereka dan rupanya performa kurang meyakinkan tersebut telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Ketika mereka mengangkat trofi Copa Libertadores, pasukan Marcelo Gallardo memang dalam tren positif di liga domestik Argentina dengan hanya sekali kalah selama setahun. Namun selepas itu, mereka kalah enam kali di liga dan tiga lainnya di Copa Sudamericana. Indikasi yang jelas tentang kemunduran performa.

Inkonsistensi performa memang bukanlah hal baru bagi klub-klub Amerika Latin, terutama dalam jeda sesudah memenangkan Libertadores hingga Piala Dunia Antarklub. Dalam periode itu, seakan ada momentum yang hilang baik dari segi fisik maupun psikologis tim.

Lantas apa saja hal-hal yang hilang dari tim sejak berjaya di Libertadores? Yang pertama, komposisi pemain. Bek kiri andalan River, Lonel Vangioni tengah mengalami kendala fisik dan diragukan tampil. Sementara striker Fernando Cavenaghi sudah hengkang menuju klub Siprus, APOEL dan hal serupa juga terjadi pada Ramiro Funes Mori yang kini menjadi bagian skuat Everton. Kepergian mereka membuat kedalam skuat kian menipis.

Sejumlah pemain pengganti juga belum menunjukkan performa maksimal termasuk Eder Alvarez Balanta yang kembali masuk skuat utama sepeninggal Funes Mori. Perombakan komposisi skuat jelas membawa kerugian bagi River, namun terlepas dari itu semua masih ada sisi positif yang bisa digali lebih dalam yakni waktu persiapan yang cukup sejak November lalu dalam menatap turnamen kali ini.

Dengan komposisi skuat yang minim, jadi bagaimana cara River dalam memberikan perlawanan bagi Barcelona? Pertahanan rapat dan serangan balik cepat kemungkinan besar akan menjadi andalan Gallardo. Skema yang tidak asing bagi sang pelatih, yang juga pernah menerapkannya saat membawa River berkiprah dan memenangkan Copa Sudamericana tahun kemarin.

Gallardo jelas akan menerapkan taktik yang sesuai dengan pendekatan gaya bermain lawan. Menghadapi Barcelona yang memiliki daya serang paling menakutkan saat ini, bermain terbuka akan menjadi ajang bunuh diri bagi River. Tidak ada salahnya bagi mereka untuk mengikuti jejak klub Brazil, Internacional yang bisa meredam Blaugrana di final 2006 serta Estudiantes pada 2009 yang bisa mengimbangi klub asal Spanyol itu dengan strategi permainan pragmatis.

Jika memang hasil akhir menjadi target utama, tentu mereka tak ingin mengulangi apa yang dilakukan Santos pada 2011 lalu ketika dihajar Barcelona dengan skor 4-0. Jadi, dengan deretan pertandingan yang melibatkan Barcelona dengan klub-klub Amerika Latin sebelum ini, jelas Gallardo pastinya sudah punya gambaran tersendiri untuk menantang Luis Suarez dan kawan-kawan.