Bagaimana Mattia Caldara Buat Atalanta Meroket

Tak hanya kukuh di belakang, tapi juga tajam di depan, Mattia Caldara terus membuktikan kapasitasnya sebagai bek masa depan Juventus dan Italia.

Dalam lima musim terakhir begitu sedikit kejutan yang dihadirkan oleh Serie A Italia. Juventus selalu keluar sebagai peraih Scudetto, sementara AS Roma, Napoli, Lazio, AC Milan, hingga Udinese bergantian mendampingi I Bianconeri di tiga besar.

Kejutan dengan skala lumayan biasanya muncul di zona Liga Europa, sebagaimana Parma, Torino, Sampdoria, sampai Sassuolo secara tak terduga sanggup mendobrak papan atas. Untuk musim ini, walau belum berakhir, mari kita sepakati bahwa kejutan itu hadir lewat kiprah Atalanta.

Meski konsisten beredar di Serie A dalam dua dekade terakhir, tak pernah sekalipun Atalanta melenggang ke kompetisi Eropa. Terakhir kali tim asal Bergamo lolos ke ajang prestise Benua Biru terjadi seperempat abad silam, yakni di ajang Piala UEFA musim 1990/91.

Namun musim ini, harapan itu membumbung tinggi. "Eropa di depan mata!" begitu tulis salah satu spanduk ultras Atalanta, di tribun selatan Stadio Atleti Azzurri d'Italia akhir-akhir ini.

Bagaimana tidak, setelah di awal musim sempat torehkan tujuh kemenangan beruntun di Serie A -- yang jadi torehan terbaik sepanjang sejarah klub -- , Atalanta terus kompetitif di lima besar klasemen. Mengoleksi 51 poin dari 26 giornata yang sudah digelar, perolehan poin La Dea bahkan hanya terpaut tiga dari Napoli di pos ketiga yang merupakan batas zona Liga Champions.

Tanpa perlu dibedah lebih dalam, kunci dari keberhasilan Atalantas tak lain terletak di benteng pertahanannya. Sektor yang sangat khas dengan sepakbola Italia. Tim asuhan Gian Piero Gasperini itu baru kebobolan 26 kali, yang jadi ketiga terbaik di Serie A musim ini. Selain itu mereka juga tercatat torehkan 11 clean sheet, yang hanya kalah dari pemuncak klasemen Juventus.

Selain karena tangan dingin Gasperini, performa hebat Atalanta tentu tak lepas dari peran krusial beberapa pilarnya. Ada Etrit Berisha, Franck Kessie, Roberto Gagliardini (yang sudah dijual ke Inter),  Alejandor Gomez, hingga Andrea Petagna.

Namun terdapat satu nama yang paling mencuri perhatian menilik posisi dan peran eksplosifnya untuk Atalanta. Tak lain tak bukan sosok itu adalah sang bek sentral Mattia Caldara. Baru berusia 22 tahun, dirinya jadi alasan terbesar Atalanta meroket musim ini.

Mengandalkan formasi 3-5-2, Gasperini menempatkan Caldara di pos bek sentral yang perannya lebih seperti sweeper. Posisi yang di Italia tampak hanya mampu diperankan dengan baik oleh Leonardo Bonucci itu, ternyata mampu mengeluarkan potensi terbaiknya.

Begitu kukuh di lini pertahanan yang diterjemahkan secara tegas lewat statistik Atalanta sebelumnya, Caldara dengan gaya bermain luwes-nya, berperan vital dalam membangun serangan. Hal itu tampak dari akurasi tinggi hingga 82,6 persen, dari rerata 32,9 umpannya per laga.

Tak hanya itu, Caldara ternyata juga miliki insting yang tajam di kotak penalti lawan. Fakta mengungkap bahwa pemain yang sempat dipinjamkan ke Trapani dan Cesena tersebut adalah salah satu bek tertajam di Eropa musim ini. Torehan lima gol-nya di Serie A, hanya kalah dari Gareth McAuley. Caldara setara dengan Kamil Glik dan kapten Real Madrid, Sergio Ramos.

Aksi terbaru Caldara hadir akhir pekan lalu, tatkala sepasang gol spektakulernya membuat Napoli takluk 2-0 di San Paolo! Melihat performa seperti itu, Juve yang sudah memilikinya, tampaknya akan memanggil Caldara lebih cepat dari perjanjian awal pada musim panas 2018.

Selain itu regenerasi lini belakang Italia yang terlampau lama dikomandoi trio BBC, juga temui titik cerah. Setelah sensasi Alessio Romagnoli, kemudian Daniele Rugani, kini Negeri Pizza punya Mattia Caldara.