Bagaimana Real Madrid & Atletico Telah Berubah Sejak Final Di Lisbon

Dua tahun setelah saling berhadapan di Estadio da Luz, Los Blancos dan Colchoneros bakal kembali berduel di laga final Liga Champions.

Nasib kembali mempertemukan Real Madrid dan Atletico Madrid dalam duel partai final Liga Champions, hanya berselang dua musim setelah keduanya bentrok di babak yang sama di Lisbon yang kala itu Los Blancos sukses meraih gelar kesepuluh atau La Decima dengan menaklukkan rival sekota mereka.

Selang 24 bulan setelah momen tersebut, sejumlah hal tentu sudah mengalami perubahan. Madris misalnya, pergantian pelatih mereka lakukan dengan mendepak Rafael Benitez dan mengangkat Zinedine Zidane dari tim Castilla. Perubahan yang membawa dinamika positif, dengan juru latih asal Prancis itu membawa tim tampil spartan meski gagal juara La Liga Spanyol namun sukses mengantarkan klub hingga partai puncak Liga Champions.

Efek tanpa Iker Casillas dan pengaruh kehadiran Casemiro

Skema yang digunakan Carlo Ancelotti pada final 2014 lalu dengan formasi 4-3-3 cenderung dipertahankan Zidane sepanjang gelara musim ini, hanya saja secara spesifik ada perbedaan di antara sang juru taktik anyar dan mentornya.

Casillas menjadi pusat perhatian dua tahun lalu ketika blundernya yang berujung gol Diego Godin nyaris merugikan Madrid. Kiper sekaligus ikon klub yang telah hengkang ke Porto itu memang hanya tampil di ajang Eropa dan Copa del Rey akibat kalah bersaing dengan Diego Lopez itu punya catatan kebobolan sembilan kali dan torehan enam clean sheet. Pencapaian itu mampu dilampaui penerusnya, Keylor Navas yang gawangnya baru bobol dua kali dari total sepuluh laga di Liga Champions, tepatnya ketika ditembus Wolfsburg pada babak perempat-final.

Sementara di barisan pertahanan, ada dua perubahan mendasar yang terjadi. Zidane lebih menaruh kepercayaan pada Pepe untuk menemani Sergio Ramos di jantung pertahanan ketimbang bek muda Raphael Varane. Untuk sisi kiri, Marcelo seakan tak punya pelapis dengan selalu menjadi andalan dan bahkan perannya dalam membantu serangan kerap kali krusial.

Sektor tengah tak lagi ada nama Xabi Alonso maupun Sami Khedira yang biasa menjadi pilihan Ancelotti, keduanya telah meninggalkan Madrid. Kini muncul sosok baru pada diri Casemiro, yang belakangan menjelma menjadi nyawa lini tengah permainan tim. Hilangnya Xabi menjadi tak terasa dengan kualitas permainan yang ditampilkan gelandang bertahan asal Brasil yang telah kembali dari masa pinjaman di Porto tersebut. Luka Modric lebih berperan sebagai pengatur permainan, yang kadang bergantian dengan Toni Kroos. Kombinasi ketiganya menjadikan barisan gelandang Madrid sebagai suatu kesatuan yang solid.

Melangkah ke depan, trio BBC perannya masih dominan. Ketajaman Cristiano Ronaldo, Karim Benzema dan Gareth Bale masih nyaris sama dengan dua musim lalu. Ketiganya sejauh ini mengemas 98 gol, dengan Ronaldo sendiri torehannya sudah menembus 51 gol, sedangkan Benzema empat gol lebih banyak (ketimbang 28 lalu), hanya Bale yang masih minus tiga (19).

Filosofi kekompakan tim yang semakin padu

Di Atletico Madrid, segala sesuatunya kerap berubah dan tim asuhan Diego Simeone terus berkembang. Pelatih asal Argentina itu telah menanamkan mentalitas juara meski beberapa kali ditinggalkan penggawa andalannya. Buktinya, musim ini Los Rojiblancos kembali sukses melangkah hingga final Liga Champions dengan menyingkirkan dua favorit juara, Barcelona dan Bayern Munich.

Gawang Atleti tak lagi dikawal Thibaut Courtois seperti dua tahun lalu yang sudah pulang ke Chelsea, kini muncul nama baru pada Jan Oblak. Yang menarik, kedua kiper muda itu punya catatan yang sama dengan hanya kebobolan tujuh kali dalam perjalanan tim menuju partai puncak. Kepergian Miranda justru membawa berkah bagi sejumlah bek muda seperti Stefan Savic dan Jose Gimenez untuk berkembang dengan menjadi tandem Diego Godin mengawal pertahanan. Sisi kanan dan kiri tetap ditempati Juanfran dan Filipe Luis, yang sempat hijrah ke Chelsea musim lalu.

Sementara di barisan tengah, Tiago masih ada dalam daftar skuat namun perannya mulai terbatas akibat terkendala cedera. Sekali lagi, ada 'berkah di balik musibah' yang dialami Atleti dengan cederanya gelandang asal Portugal itu, memberikan kesempatan bagi Saul Niguez untuk unjuk gigi dengan salah satu bukti nyata kualitas sang youngster kala mencetak gol indah ke gawang Bayern dalam babak semi-final. Tak ada lagi Arda Turan yang biasa tampil ngotot, namun posisinya langsung ditutup oleh kedatangan Yannick Ferreira-Carrasco.

Urusan mencetak gol? Antoine Griezmann menjadi garansi bagi Atleti dalam membobol gawang lawan, seakan klub kini sudah bisa melupakan Diego Costa dan hanya berselisih empat gol dari catatan gol bomber yang kini membele Chelsea itu dua musim lalu. Sumbangan gol lainnya pada 2013/14 lalu juga datang dari Raul Garcia dan David Villa dengan keduanya mengemas 32 gol. Memang Fernando Torres dan Angel Correa belum bisa mencamai torehan itu dengan hanya mengemas 20 gol sejauh ini. Meskipun demikian, hal itu sama sekali tak melemahkan skema permainan Atleti yang tetap mampu tampil kompak dan solid.

Banyak hal telah berubah sejak pertemuan kedua tim pada 2014 lalu, akan tetapi yang pasti kedua kesebelasan tahun ini kemungkinan besar bisa tampil dengan kekuatan penuh dalam pertandingan yang digelar di San Siro, tidak seperti sebelumnya kala Atleti harus kehilangan Arda Turan dan Diego Costa akibat cedera, serta Madrid yang beraksi tanpa Xabi yang pada waktu itu menjalani hukuman akumulasi kartu.