Bagaimana AS Roma Jegal Scudetto Juventus?

Secara matematis AS Roma masih punya peluang kecil menjegal Juventus raih Scudetto keenam beruntun dan potensinya bisa membesar akhir pekan ini.

Grande Partita segera tersaji di Olimpico Roma kala sang tuan rumah, AS Roma, bakal menjamu Juventus, pada giornata 36 Serie A Italia, Senin (15/5) dini hari WIB.

Partai ini bukan lagi sekadar adu gengsi kebesaran klub, tapi juga pertaruhan gelar. Jika sampai Romal gagal raih kemenangan, Juve dipastikan merayakan Scudetto keenam beruntunnya di Olimpico.

Ya, defisit tujuh poin dari Juve di puncak klasemen mustahil dikejar dengan sisa dua giornata usai duel tersebut. karenanya Roma punya kewajiban menang, untuk setidaknya menghindarkan pesta Si Nyonya Tua di ibu kota.

Namun mengapa tidak untuk sekalian menjegal kans Scudetto keenam beruntun Juve? Jika sukses meraih kemenangan, Roma hanya akan terpaut empat poin. Walau tetap sulit, jarak itu masih realistis untuk dikejar.

Apalagi jika Tim Serigala menang dengan keunggulan di atas satu gol, yang akan membuat mereka unggul head to head dari Tim Zebra -- yang raih kemenangan kandang 1-0 di pertemuan pertama -- kalau-kalau poin di akhir musim sama. Patut diketahui bahwa Serie A menggunakan sistem head to head untuk menentukan peringkat terbaik, jika jumlah poinnya sama.

Mari membedah bagaimana cara Roma untuk wujudkan mimpi jegal Scudetto Juve di Serie A musim ini.

FAKTOR OLIMPICO ROMA

Raih kemenangan sudah jadi keharusan, tapi bagaimana Roma bisa meraih target itu tentu dibutuhkan banyak faktor. Dan yang pertama adalah Olimpico Roma, sebagai venue pertandingan.

Dalam laga kandang terakhirnya, Roma memang telan kekalahan menyakitkan dari Lazio di Derby della Capitale. Namun faktanya I Lupi merupakan jago kandang kedua di Serie A musim ini, setelah Juve di J Stadium.

Dari 17 giornata kandang yang sudah Roma mainkan, 14 kemenangan berhasil dipetik. Sisanya hanya sekali berakhir imbang dan dua kali telan kekalahan. Total 43 poin diraih dari kandang, dari 78 poin yang mereka koleksi musim ini.

Roma pun sukses cetak 44 gol dan cuma kebobolan 15 gol di Olimpico, yang lagi-lagi sukses menempatkan mereka di posisi dua soal statistik gol kandang di bawah Juve.

Dalam enam pertemuan terakhir hadapi Juve di Olimpico, Roma juga miliki rekor apik dengan tiga kemenanga, dua kali imbang, dan sekali kalah. Segalanya tentu semakin baik, seturut fakta minimal akan hadir 45 ribu Romanisiti setiap kali menjamu Si Nyonya Tua.

CETAK GOL LEBIH DULU

Juve selalu kesulitan jika kebobolan terlebih dahulu, di Serie A musim ini. Dari empat kekalahan yang I Bianconeri derita sepanjang kompetisi, tiga di antaranya terjadi lantaran kebobolan lebih dulu.

Pun halnya dari empat hasil imbang yang Juve dapat di Serie A musim ini. Tiga diantaranya terjadi karena gagal mencetak gol lebih dahulu. Kabar baik buat Roma, lanataran di dua giornata terakhir La Vecchia Signora mengalami hal tersebut.

Sisanya hanya ada dua situasi di mana Juve berhasil membalikkan kedudukan jika kebobolan terlebih dahulu, yakni saat menang melawan Udinese dan Torino yang kesemuanya terjadi di paruh pertama kompetisi.

Sebaliknya untuk Roma, mereka hanya telan dua kekalahan dan sekali imbang di situasi sanggup mencetak gol terlebih dahulu. Patut diperhatikan pula bahwa ketiga hasil negatif itu terjadi kala bermain tandang.

Menilik sejarah pertemuan, Roma tak pernah kalah dari Juve selama tiga dekade terakhir jika mampu cetak gol terlebih dahulu! Pelatih tim, Luciano Spalletti, jelas harus menemukan cara agar anak asuhnya bisa mencetak gol lebih dahulu untuk perbesar potensi kemenangan.

EKSPLOITASI SISI KIRI PERTAHANAN JUVENTUS

Sulit menemukan di mana kelemahan Juve. Musim ini Tim Hitam Putih kembali jadi pemilik pertahanan terkukuh di Serie A bahkan Liga Champions. Jika diakumulasi untuk semua kompetisi, mereka sejauh ini baru kebobolan 34 gol dari 52 partai.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada satu titik lemah Juve yang menyebabkan mayoritas dari jumlah kebobolan itu terjadi. Kelemahan tersebut terletak di sisi kiri pertahanan, yang biasanya ditempati Alex Sandro dan Kwadwo Asamoah.

Total 18 dari 34 gol yang bersarang ke gawang Juve terjadi akibat kelalaian di sisi kiri pertahanan. Tiga di antaranya lewat set-piece sepak pojok, sementara satu lainnya karena kesalahan passing.

Kewajiban Sandro atau Asamoah untuk naik ke atas membantu lini depan Juve jadi penyebab utama. Hal itu membuat mereka sering terlambat turun, untuk mencegah lawan melakukan tusukan dari sisi tersebut.

Dengan daya serang terkuat Roma terletak pada sektor winger, ini jelas jadi kabar gembira. Mohammed Salah yang biasanya beraksi di sektor kanan penyerangan, musim ini tampil tajam dengan sumbangsih 17 gol dan 14 assist. Mereka juga masih memiliki Diego Perotti dan Stephan El Shaarawy yang tak kalah tajam sebagai winger.

PENGARUH EDIN DZEKO & FRANCESCO TOTTI

Kebutuhan Roma untuk menang dengan keunggulan lebih dari satu gol membuat mereka wajib tampil efektif. Untungnya mereka sudah dibekali itu lewat ketajaman sang ujung tombak, Edin Dzeko.

Walau sudah berusia 31 tahun, Dzeko justru kini sedang menjalani musim tertajamnya. Total dia sudah mencetak 37 gol di semua kompetisi, dengan 27 di antaranya ditorehkan di Serie A. Catatan yang membuatnya puncaki daftar capocannoniere sementara.

Signifikansi ketajamannya jelang hadapi Juve tentu krusial. Apalagi Dzeko punya kenangan manis karena gol perdananya untuk Roma dicetak ke jala La Vecchia Omcidi. Itu terjadi pada putaran pertama Serie A musim lalu, yang bawa timnya menang 2-1 di Olimpico.

Selain itu jangan pernah remehkan pengaruh kapten Roma, Francesco Totti, yang jalani musim pamungkasnya bersama Il Giallorossi musim ini.

Meski baru tampil 323 menit di Serie A musim ini, Totti merupakan top skor Roma hadapi Juve lewat sumbangsih sepuluh gol. Dia juga termasuk hobi menjebol jala Gianluigi Buffon, dengan sudah melakukannya sebanyak 12 kali.

KEAJAIBAN AKHIR MUSIM

Jika akhirnya sukses mengalahkan Juve, syukur-syukur dengan keunggulan di atas satu gol, misi Roma masih belum selesai. Masih tersisa dua giornata menentukan dan mereka diwajibkan memenangi semuanya.

Chievo Verona dan Genoa jadi sepasang lawan yang akan dihadapi Roma pada periode kritis tersebut. Jika tak sedang kolaps, di atas kertas Roma jelas bisa menang atas mereka.

Chievo, walau dihadapi di partai tandang, sudah tak miliki kepentingan lagi di Serie A. Sementara kontra Genoa mungkin akan jadi laga yang lebih berat, karena sang lawan masih berjuang salvezza. Namun Roma tetap jadi unggulan karena menang di segala sisi termasuk bermain di Olimpico.

Menang atas kedua tim tersebut akan berarti sia-sia, jika Juve berhasil menang di salah satu dari dua giornata pemungkas. Dengan asumsi defisit poin terpangkas jadi empat poin, Roma jelas berharap La Vecchia Omcidi selalu kalah atau minimal raih satu poin saja.

Imbang di kedua partai bakal membuat poin kedua tim sama, tapi Roma layak jadi peraih Scudetto mengandalkan keunggulan head to head jika mereka benar-benar mweujudkan skenario di atas.

Tampak mustahil memang, tapi di sepakbola tak ada yang tak mungkin. Pada musim 1999/00 Juve punya kenangan superburuk, ketika ditelikung Lazio untuk raih Scudetto padahal unggul lima poin di tiga giornata terakhir!

Topics