Bagaimana Tuntutan Luis Milla Pada Gaya Main Timnas Indonesia

Sepakbola modern dijanjikan Luis Milla, yang akan menjalani debutnya sebagai arsitek timnas Indonesia pada laga kontra Myanmar.

Buah tangan Luis Milla selama satu bulan menukangi tim nasional Indonesia U-22 akan dilihat pada Selasa (21/3) nanti, ketika timnas Indonesia menjamu Myanmar dalam laga uji coba internasional FIFA, di Stadion Pakansari.

Timnas U-22 saat ini dinilai sebagai tim terbaik yang dimiliki Indonesia, sehingga mereka akan berperan sebagai timnas senior dan dituntut untuk bisa mengamankan kemenangan demi debut manis pelatih asal Spanyol itu.

Dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan, Milla menyeleksi pemain dalam tiga tahap. Bakat muda yang diyakini terbaik di Indonesia saat ini telah ditentukan eks Barcelona dan Real Madrid itu, sebanyak 26 pemain pun ia siapkan.

Pada sesi latihan Jumat (17/3) pagi, di lapangan Sekolah Pelita Harapan, Tangerang, Milla dan jajaran pelatih terus mengasah anak asuhnya untuk bisa menerapkan gaya sepakbola ala Spanyol. Dari mulai kiper hingga pemain depan, semua dituntut aktif.

Untuk barisan pertahanan, Milla tak mau mereka hanya sekadar menjaga area steril dari tekanan lawan, namun juga aktif mendistribusikan bola dan mencari sasaran terbaik untuk lini lain membangun serangan.

Hansamu Yama, yang berpotensi menjadi pilihan utama di lini belakang, nampak diberi arahan oleh Milla usai sesi latihan berakhir. Menurut Bima Sakti, Yama diminta menjadi komandan dan memahami bagaimana pemain belakang seharusnya bekerja.

"Hansamu dipanggil untuk (memastikan) pemain belakang supaya (terus) komunikasi, dan saat bola ke depan maka mereka langsung juga cepat ikut naik dan kalau bola direbut lawan maka stop (menaikkan garis pertahanan)," beber Bima memberi penjelasan.

4-3-3 akan jadi formasi ideal yang diinginkan Milla, pemain sayap bakal jadi kunci permainan tim Merah-Putih dengan bantuan bek sayap yang aktif membantu serangan dan siap menerima bola ketika pemain depan, termasuk kedua sayap, buntu.

"Kalau formasi seperti biasa 4-3-3, kami akan mengandalkan sayap karena di tim ini banyak pemain sayap yang cepat," beber Bima. "Luis selalu mengutamakan passing dan sirkulasi bola cepat, dan jika di satu sisi tidak bisa tembus maka ia mau pemain langsung cepat switch play."

Melihat timnas Indonesia berlatih di bawah arahan Milla saat ini seperti melihat tim futsal berlatih. Pemanggilan empat kiper sekaligus punya alasan sendiri, karena keempat kiper tersebut akan sangat berguna ketika dalam latihan.

Milla selalu meluangkan sesi di mana tim dibagi menjadi empat dengan masing-masing tim dihuni lima pemain (seperti futsal). Tim bermain di ruang sempit dan pemain tak boleh lama memegang bola. Kiper sendiri tak boleh hanya sigap menahan serangan lawan, namun juga siap menerima operan dan tenang memainkan bola.

Soal kedisiplinan, pelatih yang pernah membawa Spanyol U-21 jadi raja Eropa ini tak perlu dipertanyakan. Kepala dokter tim, Syarief Alwi, menjelaskan bahwa Milla tak senang jika tim telat masuk lapangan satu menit saja. "Tapi dia punya sikap kebapakan, dia tidak marah-marah namun langsung bilang jika ada hal yang tidak disukai."

Tiga hal penting bagi pria 51 tahun itu adalah kepribadian pemain, keahlian pemain dan tentu tekad dari pemain. Milla tak suka membuat salah seorang pemain spesial dan tak ragu mendepak pemain indisipliner. "Pemain sekelas Jordi Alba pernah ia pulangkan karena indisipliner," sebut salah seorang sumber.

Sejauh ini, kesan positif dan jelas mampu dibangun Milla terhadap pemain, staf timnas Indonesia serta awak media. Hasil melawan Myanmar nanti belum bisa dijadikan tolok ukur sentuhan ayah dari dua anak itu. Mengingat, ia baru satu bulan melatih dari kontrak dua tahun yang diberikan oleh PSSI. Ia dibebani target terdekat SEA Games 2017 dan tempat di Piala Asia U-23 2019.