Balik Ke AS Roma, Apa Yang Bisa Ditawarkan Luciano Spalletti?

Menanti debut kedua Luciano Spalletti sebagai nakhoda AS Roma, apa yang bisa dilakukannya untuk membangkitkan klub dari keterpurukan?

Mimpi buruk itu hadir juga dalam petualangan Rudi Garcia di kota abadi, Roma. Dipuja-puja karena mampu mengembalikan status elite AS Roma di kancah domestik hingga menghadirkan hegemoni Liga Champions, karier juru taktik asal Prancis itu harus berakhir prematur tanpa trofi.

Dua setengah musim saja kesempatan yang diberikan manajemen Roma padanya. Rabu (13/1), Garcia resmi dipecat dan sesaat kemudian Tim Serigala mengumumkan pahlawan lawas mereka, Luciano Spalletti, sebagai penggantinya.

Romanisti yang sebelumnya optimistis soal suksesor Garcia, seiring pencalonan nama Carlo Ancelotti, Antonio Conte, hingga Marcello Lippi, dibuat ragu akan penunjukan Spalletti. Selain kalah pamor, pelatih berkepala plontos ini juga dinilai sudah kuno secara taktik.

Dengan segala keraguan yang ada, apa yang bisa ditawarkan Spalletti untuk membangkitkan Serigala yang kembali tertidur ini pada kesempatan keduanya?

Menilik nominasi pengganti Garcia seperti yang pernah dibahas Goal Indonesia beberapa waktu silam, Spalletti sejatinya tak terlalu dijagokan untuk posisi ini. Ancelotti yang sayangnya keburu dikontrak Bayern Munich, Conte, dan pelatih muda berbakat, Eusebio Di Francseco, jadi tiga idaman utama.

Namun harus disadari, pada momen tengah musim seperti ini di mana Roma belum terlalu tertinggal dari perburuan Scudetto dan zona Liga Champions, proses transisi kepemimpinan signifikan berpotensi berakibat fatal. Il Giallorossi bisa sekonyong-konyong menghancurkan musimnya jika memilih pelatih yang tak paham situasi luar-dalam klub.

Terlebih di dalam tim masih bercokol legenda hidup, Francesco Totti, yang bila pelatih anyar tak bisa mendapat kepercayaan darinya maka seluruh tim juga mustahil menyatukan visi dan misi.

Berdasar situasi tersebut, maka tak dapat dibantah bahwa Spalletti merupakan pilihan ideal. Setidaknya untuk jangka pendek. Pernah menukangi Roma pada periode 2005 hingga 2009, tentu bukan waktu yang lama baginya untuk dengan cepat memahami situasi luar-dalam tim.

Spalletti juga masih menyimpan sepercik cinta di hari Romanisti, sehingga dukungan tentu lahir meski diiringi perasaan ketar-ketir. Lebih dari itu, dirinya adalah satu pelatih yang paling dipercayai Totti. Di bawah asuhannya, Er Pupone pernah diantarkan merengkuh trofi individual prestis, sepatu emas, pada 2007 silam.

Bahkan jika ditengok dari statistik deretan pelatih Roma dalam sedekade terakhir, Spalleti merupakan pelatih yang paling sukses. Tiga kali membawa La Magica runner-up Serie A, ia juga jadi satu-satunya pelatih yang mampu mempersembahkan trofi lewat sepasang Piala Italia dan satu Piala Super Italia.

Bersamanya kembali, akankah Roma menghapus dahaga gelar yang kini sudah memasuki musim kedelapan? Atau setidaknya kembali jadi runner-up Serie A?

Masalah utama Roma musim ini sejatinya tampak jelas tanpa perlu kita mencari atau bahkan menggalinya dalam-dalam. Adalah aspek psikologis, sesuatu yang membuat Alessandro Florenzi cs begitu mudah dikejar atau dibalikkan situasi positifnya oleh lawan.

Saplletti pun paham benar akan masalah ini. "Kami hanya harus memperbaiki aspek psikologis, karena apabila kita memulai dengan mengabaikan situasi psikologis, kami akan kehilangan masa depan kami. Kami memiliki sedikit waktu untuk bisa mendapatkan hasil yang sesuai harapan," tuturnya dalam konferensi pers penunjukannya.

Namun bukan berarti faktor teknis tak perlu diperbaiki. Bursa musim dingin Januari ini tentu bisa dijadikan momentum Spalletti, untuk menambal sektor yang dinilai lemah dengan rekrutan anyar.

Kebetulan Spalletti bukan sosok pasif layaknya Garcia ketika beraksi di lantai bursa. Direktur olahraga Roma, Walter Sabatini, dan presiden klub, James Palotta, dipastikan akan dibuat berisik oleh permintaan pelatih berusia 56 tahun tersebut.

Mirko Vucinic, Juan, David Pizarro, Julio Baptista hingga Jeremy Menez, adalah beberapa sosok populer yang datang berkat rekomendasinya kala melatih Roma di kesempatan pertama dahulu.

Kini seperti dilansir Calciomercato, setidaknya ada lima nama yang jadi permintaan Spalletti pada manajemen. Fokus utamanya di lini delakang, di mana terdapat tiga nama, yakni Domenico Criscito, Francesco Acerbi, dan Lorenzo Tonelli.

Dua nama pertama jadi priortias, di mana Criscito yang sangat dikenal sang pelatih semasa di Zenit bisa jadi pesaing kompetitif Lucas Digne di pos bek kiri. Sementara Acerbi yang bangkit besama Sassuolo, bisa jadi solusi atas buruknya para palang pintu Roma musim ini.

Sementara dua nama lain yang menempati sektor tengah, yakni Axel Witsel dan Diego Perotti, agaknya tak akan terlalu diperjuangkan di bursa musim dingin ini. Khusus Witsel, kedekatan emosionalnya dengan Spaletti semasa di Zenit dahulu bisa saja menghadirkan kejutan transfer. Kualitas penggawa timnas Belgia itu jelas bakal sangat mengangkat performa lini tengah Roma yang mulai inkonsisten.

Sembari menunggu kehadiran pemain baru, Spalleti wajib memaksimalkan skuat yang ada kini. Komposisinya seharusnya cukup menyenangkan bagi mantan nakhoda Empoli tersebut, karena dirinya merupakan pemuja skema penyerangan menggunakan winger senada Garcia.

Ditambah penegasannya bahwa masalah I Lupi ada di faktor psikologis, besar kemungkinan tak akan terjadi banyak perubahan. Formasi 4-3-2-1 yang fleksibel berubah menjadi 4-3-3, diyakini akan dipertahankan. Sorotan diprediksi akan tertuju pada sosok senior, yakni Leandro Castan dan Totti, yang diperkirakan kembali mendapat kesempatan menjadi starter.

Sebelum bek baru datang, Castan diyakini akan mendapat jam terbang lebih tinggi di bawah Spalletti. Ia bisa jadi solusi di tengah kekacauan koordinasi Antonio Rudiger dan Kostas Manolas sepanjang musim ini. Salah satu di antara mereka butuh pemimpin dan untuk kondisi sekarang, Castan jadi sosok paling layak.

Sementara itu adalah sebuah kemunafikan jika menyebut Totti sudah habis. Di usianya yang menginjak 39 tahun, hingga musim lalu sang kapten masih jadi penggawa reguler. Musim ini memang dirinya tersisih, tapi itu lebih karena faktor cedera.

Kebutuhan akan sosok trequartista membuat potensi Totti untuk kembali rutin memulai laga sejak awal cukup besar. Kemampuan Il Capitano untuk melepas umpan-umpan terukur ditambah fantasi liarnya dalam mengolah bola, tentu lebih berdampak pada permainan. Pilihan itu akurat ketimbang harus memaksakan Miralem Pjanic atau Gervinho keluar dari posisi naturalnya.

Masalahnya menyoal gaya permainan. Spalletti tak sama seperti Garcia yang doyan memainkan skema bola-bola pendek yang modern. Sang Italiano lebih suka gaya klasik dengan bola diagonal, tapi tidak untuk dikemas dalam nuansa serangan balik.

Kebalikannya, cara itu diterapkan untuk total menyerang disertai garis pertahan tinggi. Namun resikonya adalah akurasi kiriman bola diagonal yang rendah, malah memudahkan lawan melakukan serangan balik.

Karenanya tim asuhan Spalletti memang punya rasio gol mengagumkan di angka 1,8 gol per partai, tapi kebobolan 1,06 gol per partai. Gaya itu pun dicap kuno karena besar potensinya jadi bumerang, meski efeknya juga terbilang sukses ketika sang pelatih merantau ke Zenit.

"Saya hanya harus menekan tombol yang tepat sehingga pemain sadar seperti apa berada di jalur yang tepat itu," ujar Spalletti optimistis, menyambut laga pertamanya melawan Hellas Verona akhir pekan ini.

Ya, Spalletti memang tinggal menekan tombol yang tepat untuk membangkitkan Roma dari keterpurukan. Namun tombol itu tersembunyi dan sang pelatih harus menemukannya di waktu yang singkat, sebelum segalanya terlambat.

Topics