Barcelona Vs Sao Paulo 1992 - Laga Interkontinental Terbaik Dalam Sejarah?

Sebelum pertandingan digelar, Johan Cruyff dan Tele Santana sepakat menerapkan filosofi sepakbola atraktif tanpa bermain curang.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Tokyo, Desember 1992. Nilai yen terus menguat terhadap dolar, Terminal 2 bandara internasional Narita mulai beroperasi, dan setelah tiga kali mencoba akhirnya lamaran Putra Mahkota Naruhito diterima Putri Masako. Tapi, dalam pandangan penggemar sepakbola, tidak ada peristiwa lebih menggetarkan selain pertemuan Johan Cruyff dan Tele Santana, dua pelatih legendaris pengusung sepakbola atraktif.

Di Stadion Nasional Tokyo, 13 Desember 1992, keduanya saling bertemu. Barcelona menghadapi Sao Paulo pada laga final Piala Interkontinental. Pada perkembangannya, turnamen ini dikembangkan FIFA menjadi Piala Dunia Antarklub. Turnamen yang kita kenal sekarang dan Sabtu (16/11) ini akan mempertandingkan Real Madrid versus Gremio di laga penentuan juara.

Cruyff menaruh respek tinggi terhadap Santana. Dalam otobiografinya, "My Turn", Cruyff mengatakan, "Saya selalu mengagumi visi Santana karena selalu menampilkan ketulusan pada sepakbola." 

Kedua pelatih memiliki kemiripan latar belakang. Santana adalah pelatih Brasil pada Piala Dunia 1982 dan 1986. Selecao asuhannya dianggap sebagai salah satu tim terbaik yang tidak pernah memenangi Piala Dunia. Cruyff sendiri pernah membawa Belanda mempesona dunia meski gagal menjuarai Piala Dunia 1974.

Pertandingan Barcelona melawan Sao Paulo dipimpin oleh wasit asal Argentina, Juan Carlos Loustau. Setelah terbang 12 jam ke Tokyo dari negara asalnya, Loustau disapa oleh Santana di hotel. Pelatih Brasil itu lantas mengajak Loustau ikut bertemu sekaligus berkenalan dengan Cruyff. Pertandingan akan digelar dua hari lagi.

Pertemuan itu rupanya membawa Loustau menjadi saksi atas pertemuan penuh persahabatan dan rasa respek di antara kedua pelatih. Bahkan, di akhir pertemuan, Cruyff dan Santana secara mencengangkan mencapai satu kesepakatan.

"Mereka yakin bahwa kekalahan setelah bermain baik bukan lah sebuah kegagalan dan dalam sebuah pertandingan yang sejati, dengan menjunjung filosofi mereka, tidak ada pemenang maupun pecundang," jelas Loustau, yang saat itu dinilai sebagai salah satu wasit terbaik dunia.

"Mereka membahas sepakbola seakan-akan itu hal yang keramat. Mereka bilang mencederai pertandingan seperti berpura-pura, membuang bola, ataupun mengulur waktu adalah hal yang salah."

"Cruyff dan Santana ingin menang, tapi tidak dengan segala cara atau melalui kecurangan. Harus diakui, pendapat mereka sangat mirip. Misalnya, mereka dengan asyik membahas tantangan menggabungkan kecepatan dengan presisi guna mengejutkan tim lawan."

Barcelona berada dalam era "The Dream Team". Tim Catalan diperkuat antara lain oleh Pep Guardiola, Ronald Koeman, Andoni Zubizarreta, Michael Laudrup, dan Hristo Stoichkov. Tahun itu, Blaugrana sukses merebut gelar juara Liga Champions untuk kali pertama dalam sejarah lewat gol tunggal Koeman di Wembley.

Sao Paulo juga berada di era keemasan dengan banyak pemain berbakat, seperti misalnya Rai Souza de Oliveira, Cafu, Muller, Palhinha, dan gelandang kawakan Toninho Cerezo. Tricolor menjadi tim terbaik Amerika Selatan yang mengoleksi gelar Copa Libertadores dan Campeonato Paulista sebelum ke Tokyo.

Stoichkov memberikan keunggulan kepada Barcelona pada menit ke-12. Menerima umpan mendatar Guardiola, striker kidal Bulgaria itu mengirim tendangan terarah ke tiang jauh. Zetti tidak berdaya memandang bola bersarang di dalam gawangnya.

Keunggulan Barcelona hanya bertahan 15 menit. Diawali aksi Muller mengecoh Albert Ferrer, sentuhan dada Rai berhasil menyamakan kedudukan. Pertandingan berjalan terbuka dengan Sao Paulo mendominasi babak kedua. Pada menit ke-79, Rai menentukan kemenangan tim Brasil itu melalui eksekusi tendangan bebas yang sempurna.

Skor 2-1 bertahan hingga pertandingan selesai. Sao Paulo sukses menjadi juara dunia. Kemenangan atas Barcelona di Tokyo bernilai lebih gemilang dibandingkan dengan hasil pertemuan kedua tim beberapa bulan sebelumnya di Trofeo Teresa Herrera -- turnamen di La Coruna yang juga dimenangkan Sao Paulo, 4-1.

"Saya tak bisa melukiskan kebahagiaan saya dengan kata-kata," kata Santana usai pertandingan.

Sao Paulo menjadi klub Brasil pertama yang mampu memenangi gelar juara interkontinental setelah Gremio pada 1983.

"Tele mengajarkan kami, menginstruksikan kami hari demi hari, tentang apa artinya keindahan kolektif dalam sepakbola," tulis Rai dalam bukunya, "1992 - O mundo em tres cores".

"Dia memberikan definisi yang puitis tentang ungkapan klise bahwa satu atau dua pemain hebat akan membawa kemenangan bagi tim, melainkan sebuah tim yang harmonis lah yang membawa banyak gelar. Dan di final itu kami dengan jelas memberi bukti."

Cruyff mengakui kekalahan Barcelona. Kalau saja Zubizarreta tidak melakukan sejumlah penyelamatan penting, Blaugrana bisa saja dikalahkan dengan skor serupa saat perjumpaan mereka di Riazor.

"Kalau sampai ditabrak, lebih baik yang menabrak itu sebuah Rolls Royce," tukas pelatih Belanda itu seperti biasa berfilosofi.

Setahun setelah final itu, Sao Paulo kembali ke Tokyo. Santana masih duduk di bangku pelatih, tetapi Rai hijrah ke Paris Saint-Germain. Penggantinya yang mengenakan seragam bernomor punggung 10 adalah pemain 24 tahun bernama Leonardo Nascimento de Araujo. 

Sao Paulo lagi-lagi sukses merebut gelar juara. Lawan mereka di final adalah The Dream Team lainnya, yaitu AC Milan yang dilatih Fabio Capello dan diperkuat Paolo Maldini, Franco Baresi, Marcel Desailly, dan Jean-Pierre Papin. Pertandingan berakhir 3-2 untuk keunggulan wakil Brasil itu.

Cruyff dan Santana tidak pernah lagi berhadapan sebagai pelatih. Pertemuan abadi mereka di Tokyo tidak hanya menghasilkan salah satu pertandingan interkontinental terbaik dalam sejarah, tetapi juga kesepakatan tak biasa yang menjunjung ketulusan dalam menjaga falsafah sepakbola atraktif.