Belajar Dari Tata Kelola Liga Profesional Thailand

Tak dimungkiri bahwa kompetisi profesional Thailand merupakan yang terdepan di Asia Tenggara dan tak ada salahnya bagi Indonesia untuk belajar dari mereka.

Dunia sepakbola saat ini tidak hanya sekadar sebagai ajang yang digunakan untuk mencari popularitas atau kebanggaan semata, terlebih ketika memasuki era profesional. Sebuah industri bari tercipta yang di dalamnya terus mencetak peningkatan perputaran uang dalam jumlah besar.

Menengok ke Eropa, sebagaimana di sana merupakan kiblat utama sepakbola industri yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, klub-klub asal benua biru tersebut sudah terbiasa dengan atmosfer profesional dengan menjalankan aktivitas bisnis dalam berbagai aspek.

Klub sepakbola pun menjelma sebagai suatu badan industri, yang di dalamnya ada pergerakan ekonomi demi menjaga eksistensi klub maupun mengeruk laba. Dengan statusnya sebagai olahraga paling digemari, sebenarnya tak sulit bagi insan yang terlibat dalam era sepakbola industri untuk meraih pendapatan. Setidaknya ada tiga komponen yang berpengaruh, yakni pemasukan langsung dari penjualan tiket ke suporter, pendapatan dari eksploitasi sisi komersial klub, serta hak siar televisi

Jika dibandingkan dengan Eropa, Asia jelas masih tertinggal. Sejauh ini, baru negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok yang mampu menerapkan konsep industri pada liga domestik mereka. Sementara di Asia Tenggara, ada Thailand yang meski belum sempurna namun sudah mulai membangun sepakbola mereka dengan basis industri.

Bagaimana dengan Indonesia? Mau tak mau, harus diakui bahwa dengan permasalahan yang ada sejauh ini, menjadi bukti bahwa konsep sepakbola profesional belum sepenuhnya mampu dijalankan. Apabila dengan Eropa terasa jauh ketertinggalannya, maka tak ada salahnya untuk belajar tata kelola sepakbola profesional yang dimiliki oleh negara tetangga kita, Thailand.

Sama seperti di Indonesia, sepakbola adalah olahraga paling digemari di Thailand. Namun bicara mengenai fanatisme dan kebanggaan akan klub-klub lokal, Indonesia bisa dibilang lebih unggul ketimbang Thailand. Di sana, popularitas sepakbola Eropa mendominasi ketimbang lokal sebelum akhirnya federasi mereka (FAT) melakukan terobosan dengan menggulirkan liga profesional bertajuk Thai Premier League (TPL) pada 1996.

Kala itu, tim-tim yang berlaga kebanyakan bertalar belakang perusahaan seperti bank, instansi negara hingga kemiliteran, contohnya kesebelasan Royal Navy dan the Port Authority of Thailan. Hanya saja, dengan minimnya antusiasme masyarakat terhadap sepakbola lokal membuat era profesional sulit berkembang sebelum akhirnya gebrakan dilakukan pada 2007 kala melebur TPL dengan klub-klub yang sebelumnya hanya berkiprah di liga tingkat provinsi seperti Chonburi.

Seluruh klub yang ada 'dipaksa' untuk mengikuti aturan-aturan sebagaimana layaknya klub profesional tanpa kenal pandang bulu dan hasilnya, perputaran uang baik dari kesepakatan sponsor maupun hak siar kini kencang berputar di liga domestik Thailand. "Kini pihak asing mulai melihat apa yang terjadi di sini dan mulai mencoba untuk mempelajari resep sukses Thai Premier League," klaim Ong-arj Kosinkar, presiden TPL seperti dilansir Bangkok Post.

Estimasi nominal lebih dari Rp1,3 triliun kini bersirkulasi di ajang TPL musim kemarin. Mayoritas dari nominal tersebut lebih banyak berputar di Thai League, kompetisi kasta tertinggi yang sejak 2013 lalu menggandeng perusahaan otomotif ternama asal Jepang, Toyota sebagai sponsor utama.

Sebagai regulator kompetisi yang menaungi berbagai kasta, TPL secara rinci mempublikasikan catatan pemasukan total lintas divisi untuk tahun kemarin yang hampir mencapai Rp300 miliar. Pendapatan tersebut mencakup hasil dari hak siar utama yang dipegang oleh TrueVisions, yang nominalnya mencapai Rp240 miliar, dari pihak Toyota menghasilkan sekitar Rp40 miliar, serta sisanya dari pemasukan sejumlah sponsor lain.

Untuk pendistribusian hak siar kepada peserta TPL, masing-masing klub mendapatkan dana sebesar Rp7,5 miliar, sementara untuk klub Divisi 1 mendapatkan pemasukan tahun lalu sebesar Rp1,1 miliar. Nominal yang lebih kecil didapatkan oleh klub-klub Divisi 2 atau Liga Provinsi.

Yang menarik, visi yang dimiliki TPL selaku badan independen yang mengelola liga Thailand memiliki visi jangka panjang. Terbukti dengan adanya perpanjangan kontrak mengenai hak siar yang bakal tetap dipegang oleh TrueVisions pada periode 2017-2020 dengan tentunya ada peningkatan mengenai jumlah nominal yang diinvestasikan, kendati kontrak saat ini baru akan berakhir pada pengujung musim 2016 ini. Demikian juga dengan Toyota yang tak mau ketinggalan, pabrikan asal Jepang itu memperpanjang kerja sama hingga 2018 mendatang, juga dengan kompensasi peningkatan.

Sebagai perbandingan dengan liga papan atas Asia, seperti Australia yang mendapatkan Rp370 miliar per tahun dari segi pendapatan hak siar A-League yang berisikan 10 klub, juga termasuk tim nasional mereka, apa yang didapatkan Thailand begitu menjanjikan. Sayangnya data-data tersebut tak bisa dikomparasikan dengan Indonesia secara rinci karena minimnya publikasi mengenai nilai kesepakatan sponsor maupun hak siar mulai dari era Indonesia Super League hingga yang terkini Indonesian Soccer Championship (ISC).

Dengan kondisi saat ini, sepakbola profesional di Thailand sudah berjalan di arah yang benar. Industri yang mereka jalankan mampu menarik animo masyarakat lokal secara luar biasa yang indikasinya terlihat pada meningkatnya jumlah penonton yang hadir langsung ke stadion setiap tahunnya. Prestasi akan menghampiri apabila profesionalisme dalam sepakbola dibangun dengan semangat yang tepat. Dua klub raksasa TPL, Buriram United dan Muangthong United adalah contohnya, kedua klub tersebut setidaknya mampu berbicara banyak di pentas Liga Champions Asia, jauh lebih baik ketimbang kebanyakan klub-klub Asia Tenggara lainnya.

Apa yang dilakukan Thailand tersebut kini mulai diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya yang mulai antusias membangun sepakbola industri mereka. Sebut saja Vietnam yang sempat terkendala mafia match-fixing kini perlahan bangkit dan berusaha mengembalikan gairah V-League sebagai liga utama. Demikian juga dengan Malaysia yang mulai melakukan inovasi baru dengan Johor Darul Ta'zim sebagai pemicu. Singapura, Myanmar, Filipina, Kamboja dan Laos pun tak ketinggalan berbenah.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Kalau tidak sekarang, kapan lagi...