Belgia Masih Mencari Identitas

Belgia boleh berperingkat FIFA tertinggi di antara seluruh peserta Euro 2016, tapi soal identitas bermain, mereka masih diselimuti tanda tanya.

Tidak sampai satu dekade yang lalu, sepakbola Belgia berada dalam salah satu titik nadir dalam sejarahnya. Secara beruntun, mereka gagal lolos ke Euro 2004, Piala Dunia 2006, Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012. Ranking FIFA Belgia pun sempat berada di urutan 71 pada 2007, posisi terendah sejak sistem pemeringkatan itu diperkenalkan pada 1992.

Dekadensi Belgia yang jarak waktunya belum terlalu lama itu tentu sulit dipercaya, terutama jika kita melihat materi pemain yang mereka miliki sekarang ini. Tersebutlah Eden Hazard, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Radja Nainggolan, Yannick Carrasco, hingga Toby Alderweireld, yang semuanya menjadi pemain bintang di klub-klub top Eropa. Wajah Belgia yang buruk rupa tiba-tiba berubah cantik hanya dalam sekejap mata.

Tidak diragukan lagi, inilah generasi emas kedua Belgia setelah era 1980-an. Kala itu, pelatih Guy Thys menjadikan Belgia sebagai tim yang konservatif tapi efektif. Banyak yang menilai, Belgia waktu itu adalah antitesis dari total football Belanda, negara tetangga mereka yang lebih populer. Hasilnya, Belgia mampu menjadi runner-up Euro 1980 dan peringkat keempat Piala Dunia 1986.

Kisah gemilang itu coba direplikasi oleh Marc Wilmots, yang mulai menangani timnas senior sejak 2012. Dengan skuat yang penuh talenta, Wilmots dan pasukannya dianggap siap menggebrak dunia. Momentumnya begitu pas. Belgia lolos ke Piala Duna 2014, namun terhenti di perempat-final oleh Argentina. Tetapi, hasil itu menjadi pelajaran berharga untuk turnamen berikutnya: Euro 2016.

Belgia lantas menatap Euro 2016 dengan optimisme lebih tinggi. Selain para pemain yang lebih matang, Belgia juga sempat memuncaki ranking FIFA pada akhir 2015 hingga awal 2016. Meski saat ini Belgia turun di posisi kedua, mereka tetap datang ke Prancis dengan status sebagai tim Eropa dengan peringkat FIFA tertinggi. Tiba-tiba, negeri kecil yang diapit Jerman, Prancis, dan Belanda ini melejit menjadi favorit juara Eropa.

Ketika Belgia dipastikan tergabung di grup berat bersama Italia, Republik Irlandia, dan Swedia, pelatih Gli Azzurri Antonio Conte mengakui bahwa Belgia memang layak disebut sebagai calon juara grup sekaligus turnamen, terutama setelah menyaksikan timnya dibekuk 3-1 oleh Hazard dkk. pada November lalu dalam laga persahabatan.

"Kami akan menghadapi salah satu tim favorit juara Euro 2016, mereka [Belgia] memiliki banyak pemain muda berbakat,” ujar Conte. Calon pelatih Chelsea itu menambahkan, “Saya percaya, menjadi favorit adalah hal menguntungkan, tapi Anda harus bermain di lapangan dan membuktikannya.”

Belgia, terlihat solid tapi rapuh.

Akan tetapi, saat partai yang sesungguhnya bergulir, justru kalimat kedua Conte itu yang menjadi kenyataan. Stade de Lyon, Selasa (14/6) dini hari WIB, menjadi arena yang mempertunjukkan bagaimana Italia melucuti status favorit Belgia. Italia tetap menjadi Italia, Belgia dibuat bertekuk lutut 2-0. Suka tidak suka, gol-gol dari Emanuele Giaccherini dan Graziano Pelle membuat singa-singa tua Italia yang diremehkan itu menerkam mangsanya dengan mudah.

Kunci kemenangan Italia di partai pembuka Grup E itu sangat jelas, yakni identitas dan pengalaman. Catenaccio atau pertahanan gerendel sebagai identitasnya, kemudian Italia juga memiliki pengalaman segudang sebagai sebuah tim yang dihormati dari masa ke masa. Dua hal itulah yang tidak, atau belum, dipunyai oleh generasi emas Belgia.

Di partai ini, Belgia tampil dominan, dengan penguasaan bola menyentuh 57 persen. Sebanyak 18 tembakan mereka lepaskan, namun hanya tiga yang tepat sasaran. Bahkan, cuma dua yang dilakukan dari dalam kotak penalti. Tim mana pun hampir mustahil mencetak gol dengan statistik semacam itu, terlebih gawang Italia dijaga oleh seorang “Superman” dan “The Three Musketeers” yang sudah sehati di level klub: Gianluigi Buffon beserta Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, dan Andrea Barzagli.

Lini depan yang disebut-sebut menjadi kekuatan utama Belgia mendadak loyo. Hazard boleh berlari lincah ke sana kemari, tapi bek-bek Italia berhasil memastikannya untuk tidak menembus kotak penalti. De Bruyne, yang meledak dengan gol dan assist-nya di level klub, sering salah umpan dan kehilangan visi bermain. Lukaku hanya sekali terlihat berbahaya, ketika tembakannya melenceng tipis dalam situasi one-on-one di babak kedua.

Para gelandang dan bek Belgia juga tidak bisa diandalkan. Nainggolan cuma mengancam di awal-awal laga, setelah itu penampilannya kalah garang ketimbang tato-tatonya sebelum kemudian ia ditarik keluar. Laurent Ciman menjadi titik lemah, sementara Alderweireld kerap lengah. Belgia seperti merindukan sosok kepemimpinan Vincent Kompany di lini belakang. Marouane Fellaini? Gelandang Manchester United itu justru tampak labil, terlihat dari performanya maupun dari rambut kribonya yang secara mendadak berubah menjadi pirang.

“Kami kalah kelas di semua lini. Dari segi taktik, teknik dan organisasi kami kalah,” kata Courtois kepada Sportwereld selepas laga. “Ini kekecewaan besar karena pertandingan pertama sangat penting. Kami seharusnya bisa melakukan hal besar setelah seri di partai lain [Republik Irlandia dan Swedia bermain imbang 1-1]. Dua laga berikut harus dimenangkan,” imbuh kiper Chelsea itu.

Menyaksikan kekalahan Belgia di laga pembuka Euro 2016 seakan memperjelas kesan bahwa Belgia masih belum menemukan identitas sejati. Identitas Rode Duivels hanya sebatas sekumpulan pemain dengan individual hebat, namun belum menyatu secara tim. Padahal, sepakbola menuntut kekompakan pada satu visi atau identitas. Simak semangat panser ala Jerman, tiki-taka Spanyol, hingga catenaccio Italia. Tim-tim besar selalu punya identitas.

Pada akhirnya, Wilmots dan skuatnya memang minim pengalaman, mengingat ini adalah Euro pertama bagi seluruh 23 pemain mereka. Kekalahan dari Italia ini bukan kiamat. Belgia masih punya kesempatan. Dua partai berikut melawan Republik Irlandia (18 Juni) dan Swedia (22 Juni) bisa menjadi pembuktian mereka untuk terus mencari identitas.

Mari berharap agar generasi emas Belgia ini tidak mengikuti jejak golden generation Inggris di era 2000-an, yang juga penuh sorotan dan publikasi, tapi layu sebelum berkembang.