Bojan Krkic, Kisah Wonderkid Setengah Gagal

Dulu dijuluki penerus Messi, kini Bojan terjebak dalam statusnya sebagai penyerang kelas medioker.

Sering gonta-gonti klub dan selalu dihantui bayang-bayang masa lalu, banyak yang memandang Bojan Krkic sebagai sosok bocah ajaib yang salah urus. Wonderkid gagal.  

Pandangan itu kembali menyeruak ke permukaan ketika Bojan memutuskan untuk meninggalkan sementara Liga Primer Inggris demi petualangan baru di Bundesliga Jerman. Pada Minggu (29/1) kemarin, penyerang 26 tahun itu resmi dipinjamkan Stoke City ke Mainz 05 hingga akhir musim ini.

Kisah kejatuhan Bojan memang sangat populer. Digadang-gadang bakal menjadi pemain top dunia di Barcelona, Bojan kini harus berpindah-pindah klub hanya untuk mencari menit bermain reguler. Alasan itu pula yang membawanya ke Mainz pada bursa transfer Januari ini.

Semuanya bermula dengan ledakan Bojan di musim 2007/08. Sebagai lulusan La Masia yang menonjol, Bojan langsung mengalahkan rekor Lionel Messi ketika menjalani debut La Liga Spanyol di usia 17 tahun 19 hari saat melawan Osasuna, September 2007.

Nama Bojan semakin melambung beberapa bulan kemudian ketika sontekannya ke gawang Manuel Neuer menjadi gol penentu kemenangan Barca atas Schalke di leg pertama perempat-final Liga Champions. Di akhir musim itu, Bojan mampu menceploskan 12 gol, dengan 10 gol di antaranya tercipta di La Liga.

“Bojan adalah harta karun sepakbola,” sanjung Frank Rijkaard, pelatih yang memberikannya debut senior di Barcelona. Pengganti Rijkaard, Pep Guardiola, tak mau kalah dalam berucap kata-kata mutiara untuk Bojan, “Hanya ada sedikit pemain yang punya sentuhan magis, dan Bojan adalah salah satunya.”

Bahkan sejak sebelum dipanggil Rijkaard, Bojan sudah mencuri perhatian. Bergabung di La Masia di usia sembilan tahun, Bojan mampu mencetak 850 gol di level junior. Ia memiliki skill, dribel, dan atribut bermain yang di atas rata-rata pemain seusianya. Di usia 15 tahun, Bojan menjadi topskor Kejuaraan Eropa U-17 2006 dan setahun berselang ia mencetak gol penentu yang membawa timnas Spanyol juara di turnamen yang sama.

Bojan Krkic FC Barcelona Ivan Ramis RCD Mallorca Primera Division 10032010

Dengan segala ekspektasi yang begitu tinggi, Bojan ternyata tak sanggup memikulnya. Sorotan dunia kepada sang penyerang belia begitu intens, sampai ia kepayahan menjalani kehidupan sehari-hari. “Setiap malam, saya bahkan tak mungkin berjalan-jalan keluar rumah. Saya juga tidak bisa datang ke pesta ulang tahun teman atau pergi menonton di bioskop,” ungkapnya.

Di musim-musim berikutnya, performa Bojan tidak semenarik seperti yang diumbar media dan para pesohor sepakbola. Kepergian Rijkaard dari kursi panas Camp Nou disebut-sebut mengawali kemerosotan karier Bojan, mengingat pelatih asal Belanda itu memiliki kepercayaan penuh kepadanya.

Di bawah arahan Guardiola, Barcelona berhasil merajai Eropa dan dunia. Namun di momen emas Barca itulah Bojan tenggelam sebelum memutuskan hengkang pada musim panas 2011. “Guardola adalah pelatih terbaik di dunia, tetapi hal-hal personal antara dia dan saya sungguh menyakitkan. Dia berulang kali bersikap tidak adil kepada saya dan itulah salah satu alasan saya pergi,” kata Bojan.

Pindah ke AS Roma sepertinya menjadi pilihan tepat bagi Bojan, sebab eks Blaugrana Luis Enrique menjadi pelatih dan memberikan jaminan Starting XI. Faktanya, Bojan mengalami inkonsistensi performa di Italia. Ia kemudian dipinjamkan ke AC Milan, dipulangkan ke Barcelona, dipinjamkan lagi ke Ajax Amsterdam, sebelum akhirnya dijual Barca untuk kedua kalinya ke Stoke City pada 2014.

Tidak seperti di Roma, Milan, dan Ajax yang hanya berumur satu musim di tiap klub, karier Bojan di Stoke terbilang lumayan, dengan mampu bertahan dua setengah musim. Ia juga sudah menyepakati kontrak baru bersama The Potters pada Februari tahun lalu yang mengikatnya hingga 2020.

Namun, satu hal yang tetap sama, Bojan sudah kehilangan sentuhan magisnya. Statistik 10 gol liga di musim debutnya di Barca hingga kini menjadi catatan terbaik Bojan. Termasuk saat ia berkiprah di Serie A, Eredivisie, maupun Liga Primer. Kali ini, bersama Mainz di Bundesliga, Bojan tentu berharap bisa memperbaiki statistiknya itu.

“Saya adalah pemain normal. Saya ingin menjadi pembeda di dalam lapangan. Saya seperti pemain lainnya, yang ingin selalu berusaha terbaik agar bisa menjadi pemain yang lebih baik. Bundesliga adalah salah satu liga terbaik di Eropa. Saya di sini untuk menikmati sepakbola dan membantu Mainz. Saya siap memberikan yang terbaik,” seru Bojan saat jumpa pers perdana di Mainz.

Pesona Bojan kini memang tidak semenarik satu dekade lalu. Namanya mungkin hanya membekas dalam memori para penikmat Football Manager era 2008, 2009, atau 2010. Tapi, Bojan tidak sepenuhnya layak disebut sebagai wonderkid gagal. Ia tetap mampu berkarier di liga-liga top Eropa, mencetak gol, dan mendapat gaji.

Bojan, pada akhirnya, hanyalah seorang pesepakbola normal, seperti yang ia katakan sendiri.