Bukti Gonzalo Higuain Payah Di Laga Final

Striker Argentina ini akan melangkah ke Cardiff dengan ambisi mengakhiri catatan buruknya di laga final. Sanggupkah?

Jelang final Liga Champions kontra Real Madrid, Minggu (4/6) dini hari WIB, fans Juventus barangkali patut cemas soal Gonzalo Higuain. Bukan karena Higuain tidak bisa bermain di Cardiff, melainkan karena sang striker dalam beberapa tahun terakhir ini selalu diidentikkan sebagai pembawa sial di laga final.

Ejekan pembawa sial ini sebetulnya terlalu belebihan. Dari enam laga final yang pernah diikutinya, Higuain mampu memenangi tiga di antaranya, yakni satu Copa del Rey dan dua Coppa Italia. Tiga sisanya berakhir dengan kekalahan yang semuanya terjadi bersama timnas Argentina.

Namun harus diakui, Higuain selalu kepayahan setiap kali mentas di final. Pasalnya, penyerang berjuluk El Pipita ini ternyata belum pernah sekalipun mencetak gol di partai puncak. Higuain ibarat tidak berjodoh dengan laga final.

Kisahnya dimulai di final Copa del Rey 2011. Higuain bahkan tidak bermain dan harus puas duduk di bangku cadangan saat Real Madrid memukul Barcelona 1-0. Berlanjut di final Coppa Italia 2014. Kali ini, Higuain sudah pindah ke Napoli dan tampil 70 menit, namun masih gagal mencatatkan namanya di papan skor meski timnya menang 3-1 atas Fiorentina.

Neraka final untuk El Pipita kemudian datang. Final Piala Dunia 2014, final Copa America 2015, dan final Copa America Centenario berturut-turut menjadi mimpi buruk. Dalam tiga final itu, ia menyia-nyiakan peluang emas yang seharusnya bisa mengantar La Albiceleste mengalahkan Jerman dan Cile. Oleh publik Argentina, Higuain dicap sebagai kambing hitam dan pembawa sial.

Setidaknya, penampilan terakhir Higuain di laga final terkininya berakhir dengan kemenangan, yakni saat Juventus memukul Lazio 2-0 di final Coppa Italia 2017 pada 17 Mei lalu. Tapi sekali lagi, ia gagal mencetak gol kendati tampil 90 menit. Dengan demikian, hingga kini Higuain masih nihil gol di laga final.

Kebiasaannya tampil tak memuaskan di momen krusial tersebut tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para Juventini. Mereka tentu tidak ingin pasukan Massimiliano Allegri gagal menjadi juara Eropa hanya karena faktor Higuain ini.

Higuain tentu menyadari bahwa ia harus bisa mengakhiri catatan buruknya ini. Laga melawan mantan klubnya, Madrid, seharusnya bisa menambah motivasi bagi penyerang berbanderol €90 juta itu untuk bersinar.

Taruhannya tidak main-main, sebab Juventus berpeluang treble dan meraih gelar Liga Champions pertama sejak 1996. Atau Higuain akan terus dicap sebagai pesakitan di laga final.