CATATAN: Atletico Madrid Dan Para Underdog Dengan Kemenangan Terindah

Jauh sebelum malam spektakuler di Camp Nou, beberapa tim - baik domestik mau pun internasional - mereguk manisnya gelar meski dilabeli underdog di awal turnamen.

OLEH DEWI AGRENIAWATI Ikuti di twitter
Siapa yang di awal musim berani memprediksi Atletico Madrid bakal mengakhiri duopoli Real Madrid dan Barcelona di La Liga bahkan berpotensi mengawinkannya dengan titel Liga Champions?

Dalam satu dekade lebih, hanya Valencia yang sempat dua kali menjadi kampiun kompetisi teratas Spanyol sementara sisanya status juara selalu bolak-balik jatuh ke tangan Barca dan Los Merengues. Jadi tak heran jika La Liga dianggap sebagai pacuan dua kuda, yang hanya melibatkan dua tim dengan budget fantastis sementara 18 kontestan lainnya cuma berebut tempat untuk melenggang ke Eropa.

Tapi, Los Cholconeros sukses membalikkan segala prediksi. Dengan kondisi finansial seadanya, tapi dibarengi etos kerja serta semangat tim yang luar biasa skuat Diego Simeone akhirnya sukses menyabet status juara untuk kali pertama sejak 1996.

Klub Vicente Calderon ternyata bukan satu-satunya yang memberikan paket kejutan soal raihan juara. Jauh sebelumnya, tak sedikit tim-tim yang dianggap underdog justru menyabet kemenangan manis baik di kompetisi domestik maupun level internasional.

Berikut ini Goal merangkum sepuluh kemenangan mengejutkan sepanjang sejarah sepakbola.

Kurang dari satu dekade setelah hancur oleh Perang Dunia II, Jerman Barat keluar sebagai kampiun Piala Dunia 1954 padahal mereka sama sekali tak dijagokan di awal turnamen.

Jerman Barat memulai turnamen dengan hasil sempurna, menang 4-1 atas Turki sehingga mereka setidaknya dipastikan lolos ke play-off perempat-final. Tapi, pelatih Sepp Herberger melakukan blunder dengan mengistirahatkan beberapa pemain inti di laga kedua versus Hongaria, hasilnya, mereka dipecundangi 8-3. Kekalahan tersebut rupanya justru melecut spirit para pemain, sehingga mereka balik menghancurkan Turki 7-2 di babak play-off, lalu membekuk Yugoslavia 2-0 dan menembus final dengan kemenangan telak 6-1 atas negara tetangga, Austria.

Dikenal sebagai Das Wunder van Bern (Keajaiban Bern), final Piala Dunia 1954 tetap menjadi salah satu yang paling bersejarah hingga saat ini. Hongaria, yang saat itu dalam penampilan terbaik dengan rangkaian tak terkalahkan selama 32 pertandingan, mencukur Jerman Barat di babak penyisihan grup, pantas dilabeli favorit jelang partai puncak.

Tapi, kenyataan berkata lain. Buku sejarah menuliskan comeback spektakuler tim underdog dari ketinggalan 2-0 setelah laga baru berjalan delapan menit menjadi kemenangan 3-2 berkat Helmut Rahn yang menadi penentu kemenangan di menit ke-84.

Tidak banyak kisah dongeng hadir dalam sepakbola, tapi prestasi spektakuler yang dicapai Nottingham Forest di akhir 1970-an menjadi salah satu cerita paling magis yang bahkan fans mereka sendiri sulit mempercayainya.

Perjalanan mereka menuju takhta Eropa dimulai sejak penunjukkan Brian Clough sebagai pelatih pada 1975. Dua tahun kemudian, mereka menyegel tiket promosi ke kompetisi teratas Inggris dan hebatnya lagi langsung menyabet titel pertama pada 1977-78. Luar biasa.

Forest ternyata tidak puas dengan hanya menjadi jawara Inggris, mereka berambisi menaklukkan Eropa. Menyingkirkan juara bertahan sekaligus tim favorit Liverpool adalah start terbaik untuk memulai kampanye mereka di Benua Biru dan diikuti dengan kemenangan atas AEK Athen, Grasshoppers dan Koln.

Molmo, yang disebut Clough sebagai “tim membosankan” dari “negara membosankan”, menjadi lawan jawara Inggris di final yang digelar di Munich dan mereka melengkapi dongeng tersebut dengan kemenangan tipis 1-0.

Forest berhasil mempertahankan titel di musim berikutnya, tapi status underdog mereka terus redup sejak saat itu

Sir Alex Ferguson memang pantas disebut sebagai pelatih terbaik sepanjang sejarah sepakbola, tapi jauh sebelum namanya melambung bersama Manchester United, dia telah menunjukkan potensi di dunia pelatih pada 1982.

Dimulai pada musim 1982/83 ketika membesut Aberdeen, Sir Alex mulai pamer kepada dunia bahwa masa depan cerah telah menantinya. Dia menjadi pusat pembicaraan di Skotlandia, meruntuhkan hegemoni Celtic dan Rangers di liga, tapi menembus Piala Winners memberi kesempatan untuknya menaklukkan Eropa.

Aberdeen menyingkirkan sejumlah tim besar dalam perjalanan mereka menuju gelar. Di perempat-final, mereka mendepak raksasa Jerman Bayern Munich sebelum menaklukkan Real Madrid di laga penentu juara melalui babak perpanjangan waktu.

Tak ada yang menjagokan Hellas Verona menyabet Scudetto pada musim 1984/85. Finis keempat dan keenam di dua musim sebelumnya setelah promosi ke Serie A, klub ini hanya berstatus underdog. Tapi kerja keras yang diterapkan pelatih Osvaldo Bagnoli memberikan paket kejutan di Italia.

Dua rekrutan Bagnoli menjadi kunci sukses tim ketika itu: Hans-Peter Briegel merupakan gelandang tangguh yang juga mengepak sembilan gol, sementara attacante Denmark Preben Elkjaer menambah ketajaman lini depan.

Memulai kampanye dengan kemenangan atas Diego Maradona dan rekan setimnya di Napoli, Verona langsung bercokol di posisi puncak sepanjang musim.

Bukan hal lumrah ketika sebuah tim memenangkan turnamen yang bahkan mereka tidak lolos ke putaran final. Tapi, inilah yang terjadi di Piala Eropa ketika Denmark mengisi tempat Yugoslavia yang dicoret menyusul meningkatnya perang di regional Balkan.

Dengan persiapan singkat - hanya dua pekan - skuat Richard Moller Nielsen harus dipusingkan dengan materi pemain apalagi bintang mereka Michael Laudrup memilih tetap berlibur dan menolak bergabung dengan skuat - keputusan yang sampai sekarang mungkin masih disesali.

Denmark mampu menahan Inggris tanpa gol lalu kalah dari tuan rumah Denmark, tapi mereka membuat banyak pecinta sepakbola tercengang saat membekuk Michel Platini dkk 2-1 untuk memastikan tiket ke empat besar. Peter Schmeichel kemudian menjadi pahlawan tim ketika mereka mengeliminasi Belanda melalui drama adu penalti untuk menembus final.

Jerman jelas diunggulkan menggondol gelar juara, tapi gol pembuka John Jensen yang digandakan oleh Kim Vilfort di babak kedua, serta performa impresif Schmeichel di bawah mistar memberikan kemenangan tak terduga buat Denmark.

Otto Rehhagel meninggalkan Werder Bremen setelah 14 tahun bersama klub dan bergabung dengan Bayern Munich. Sayang, kariernya di Bayern tidak berjalan mulus dan dia harus kehilangan pekerjaan hanya empat hari sebelum leg kedua final Piala Uefa 1996.

Rehhagel memulai petualangan baru dengan Kaiserslautern, tim yang terdegradasi dari Bundesliga. Tapi dengan pengalaman dan kerja kerasnya, tim akhirnya meraih tiket promosi setahun kemudian dengan memenangkan divisi kedua berkat keunggulan sepuluh poin.

Meski mengantungi nama besar Rehhagel, Kaiserslautern sama sekali tak diunggulkan di kompetisi terelite Jerman karena belum ada catatan sebelumnya tim promosi langsung merangsek sebagai juara.

Tapi, mereka membungkam para peragu. Rehhagel aktif di jendela transfer, membawa beberapa muka baru (termasuk Michael Ballack) ke tim dan membawa Kaiserslautern merebut gelar juara di musim pertama setelah degradasi ke divisi dua.

Deportivo La Coruna sempat beberapa kali nyaris mencium trofi La Liga, tapi mereka bukan kandidat juara jelang kampanye 1999/2000 bergulir.

Hanya finis di urutan keenam pada musim sebelumnya memang peningkatan signifikan dari posisi ke-12 pada 1998, tapi tak ada yang menyangka Superdepor bakal mereguk manisnya kampiun liga setelahnya.

Pelatih Javier Irureta sukses memaksimalkan pemain seperti Roy Maakaay, Pauleta dan Mauro Silva untuk mengubah Superdepor menjadi tim menakutkan di kompetisi domestik. Mereka kemudian keluar sebagai kampiun dengan keunggulan lima poin dari peringkat kedua Barcelona, dan ini menjadi awal era keemasan di Liga Champions yang mencapai klimaks dengan menembus babak semi-final pada 2004.

Coruna tetap menjadi kota kerkecil kedua (Hanya lebih besar dari kota Real Sociedad, San Sebastian) yang memenangkan gelar juara Spanyol dan akan berharap kembali mengukir tintas emas setelah memastikan tiket promosi dari Segunda pada 2013/14.

Dominasi tim dalam sebuah kompetisi domestik memang bisa menjadi bumerang, karena menimbulkan atmosfer membosankan dalam persaingan gelar, seperti yang juga terjadi di Primeira Liga.

Kompetisi paling top Portugal ini menginjak usia 80 pada 2013/14 dan 78 gelar di antaranya dimenangkan oleh Benfica, Sporting atau Porto. Tapi, ada satu momen di mana ‘Big Three’ Portugal harus gigit jari, ketika Boavista keluar sebagai peredam hegemoni tiga tim terkuat pada 2000/01.

Jaime Pecheco pantas mendapat kredit atas suksesnya mengirim klub meraih hasil spektakuler - setelah mereka hanya finis di tujuh besar di lima musim sebelumnya. Di kubu pemain, ikon Bolivia Erwin Sanchez menjadi pujaan fans atas penampilan impresifnya dalam menyerang.

Mereka menyegel gelar bersejarah jelang akhir kompetisi, sehingga memicu kebanggaan luar biasa sementara tim “tiga besar” masih berpikir keras melihat bagaimana Boavista berhasil merusak dominasi.

Tak terasa, sudah satu dekade berlalu sejak Jose Mourinho mencuri perhatian fans sepakbola ketika dia membawa Porto meraih gelar Liga Champions pada 2004.

Pelatih yang pernah membesut FC Internazionale berhasil menaklukkan Eropa setahun sebelumnya dengan mempersembahkan gelar Piala Uefa buat the Dragoes. Dan setelah mencicipi gelar Eropa, semangat Mourinho tidak berhenti sampai di situ.

Porto finis kedua di belakang Real Madrid di babak penyisihan grup tapi baru di fase gugur mereka tancap gas. Mourinho berlari di pinggir lapangan untuk merayakan gol terakhir Porto yang menyingkirkan Manchester United di babak 16 besar dan itu jadi salah satu momen unik di Liga Champions hingga sekarang.

Mereka kemudian susah payah menang atas Olympique Lyon dan Deportivo La Coruna sebelum menalukkan AS Monaco di final. Itu momen terakhir Mou sebagai bos Porto karena dia memulai petualangan di Chelsea.

Setelah masuk putaran final Piala Eropa untuk kali pertama dalam 24 tahun pada 2004, tak ada yang berharap Yunani lolos dari penyisihan grup.

Otto Rehhagel sadar timnya tak memiliki pemain kelas dunia seperti kontestan lain, tapi dia mampu memaksimalkan potensi yang ada. Dengan kesabaran, Yunani menahan gempuran bertubi-tubi dari lawan dan berusaha mencuri gol dari serangan balik atau situasi bola mati.

Mereka memulai kampanye dengan mengalahkan tuan rumah Portugal. Hasil imbang kontra Spanyol dan kalah dari Rusia membuat eksistensi Yunani di Euro 2004 terancam, tapi mereka berhasil lolos ke babak berikut berkat keunggulan memasukkan gol atas Spanyol yang memiliki poin sama.

Di perempat-final, mereka mendepak juara bertahan Prancis, kemudian Republik Ceko di empat besar. Yunani kembali bertemu Portugal di partai puncak dan mengukuhkan diri sebagai juara Eropa dengan kemenangan 1-0 untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics