CATATAN: Atletico Madrid Serba Deja Vu

Kecenderungan pengulangan sejarah memang ada, terbukti pada pasukan Atleti di Lisabon yang menduplikat kekalahan menyakitkan dari Bayern Munich di Belgia.

CATATAN STEWART WEIR PENYUSUN GUNAWAN WIDYANTARA
Kegembiraan dan euforia di antara pemain dan fans Real Madrid seiring kesuksesan merajai Liga Champions hanya bisa dibalas rasa kecewa dan penderitaan yang dirasakan rival satu kota mereka.

Atletico Madrid terjungkal di Lisabon ketika satu tangan klub sempat menyentuh trofi sebelum Sergio Ramos menciptakan gol di masa injury time babak kedua: pukulan telak. Tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan sejarah klub, episode tersebut bagai pengulangan sambil bertanya-tanya apakah ada klub lainnya yang nyaris dua kali menjadi juara turnamen antarklub paling elit di Eropa tersebut.

Ketika bek El Real yang punya hobi mencetak gol melompat dan menaklukkan Thibaut Courtois, pikiran beberapa melayang ke memori 40 tahun lalu. Saat itu untuk kali pertama Atleti sukses melaju hingga partai puncak Piala Eropa.

Mengenang masa lalu, Atleti dengan gagah berani menghantam Galatasaray, FC Dinamo Bucuresti dan FK Crvena Zvezda untuk mengamankan satu tempat di semi-final dan menantang Celtic, sebuah tim yang dipandang memiliki kekuatan besar di Eropa.

Strategi yang diusung Atletico di Glasgow sanggup menumpulkan barisan penyerang tuan rumah. Pertandingan berakhir imbang tanpa gol, namun dengan level permainan keras ala pejuang Spanyol terhadap lawan - terutama Jimmy Johnstone - pertandingan tersebut akan selalu menjadi cerita turun-temurun bagi sepakbola Skotlandia.

Efek sampingnya adalah sebuah ironi (mungkin dengan sedikit bumbu keadilan) banyak anggota skuat Celtic yang mendapat julukan 'Singa Lisabon' melakukan perjalanan ke Portugal pada pertandingan puncak musim ini sekaligus mengenang kejayaan mereka dahulu.

Kembali lagi ke masa lalu, pasukan ibu kota berhasil mengalahkan Celtic 2-0 di Vicente Calderon sekaligus menantang Bayern Munich di stadion Heysel di Brussel. Die Roten ketika itu berisikan inti tim nasional Jerman Barat.

Di partai puncak, kedua tim sama-sama sanggup menghalau setiap serangan hingga 90 menit berakhir. Di babak tambahan waktu Atletico berhasil unggul terlebih dahulu ketika (dengan penuh rasa hormat sang legenda) Luis Aragones mengeksekusi tendangan bebas menaklukkan Sepp Maier.

Sayangnya setelah unggul satu gol performa Atleti berantakan. Hanya 20 detik sebelum waktu habis, bek tengah Georg Schwarzenbeck membantu serangan dan mencetak gol penyelamat tim. Biasanya Gerd Muller yang punya tugas mencetak gol sama seperti Cristiano Ronaldo namun justru Ramos (juga bek tengah) yang jadi pahlawan.

40 tahun lalu, final ulangan digelar (dua hari setelah final pertama di stadion sama), Bayern menang telak empat gol tanpa balas. Dua striker Muller dan Uli Hieness masing-masing mencatatkan nama di papan skor dua kali. Akhir pekan lalu, Real Madrid juga mencetak empat gol, (Ramos, Gareth Bale, Marcelo dan Cristiano).

Sangat mudah untuk mencari alasan mengapa fans lintas generasi Atletico mengalami sebuah fenomena deja vu.

Fans Rojiblancos tentunya ingin melupakan dengan cepat peristiwa di Lisabon. 1974 adalah tahun penyelenggaraan Piala Dunia dan pada saat itu Schwarzenbeck membantu Jerman Barat untuk menjadi juara dunia. Siapa tahu Sergio Ramos akan melakukan hal serupa bagi Spanyol di Brasil musim panas ini.

DEJA VU!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics