CATATAN: Bagaimana Alfred Riedl Membentuk Timnas Indonesia Saat Ini

Pada kesempatannya yang ketiga menukangi timnas Indonesia, Alfred Riedl seakan ingin menciptakan karakter, identitas yang telah lama tak dimiliki timnas Indonesia.

Banyak yang menyernyitkan dahi ketika Alfred Riedl mengumumkan pemain timnas Indonesia untuk proyeksi Piala AFF 2016. Beberapa pemain naturalisasi yang sudah berumur ditepikan oleh juru taktik asal Austria tersebut.

Tak peduli Raphael Maitimo yang masih konsisten di lini tengah Arema Cronus, atau Cristian Gonzales dan Sergio van Dijk yang dikenal sebagai target man terbaik yang dimiliki timnas. Juga trio Nigeria Bio Paulin, Victor Igbonefo dan Greg Nwokolo.

Kecewa. Satu kata yang sempat dilontarkan Riedl terkait pemain naturalisasi, meski dirinya tak mau berbicara lebih detail dan jauh soal hal itu. Toh, bukan hanya pemain naturalisasi, namun juga pemain pengalaman yang dikenal sebagai langganan timnas Indonesia juga banyak yang tak dipanggil Riedl.

"Kami pikir tak begitu penting pengalaman, yang penting pemain itu punya kualitas dan punya kemauan, punya fisik bagus, punya mental. Yang paling penting sekarang punya mental, karena sering di Indonesia kita jadi hebat tapi main di luar kita tidak sekuat itu," tegas Wolfgang Pikal, selaku asisten pelatih, terkait pengalaman itu sendiri.

Ada benarnya pengalaman bukan yang paling penting. Karena pengalaman sendiri ada karena kesempatan. Dan jika kesempatan itu tak juga diberikan, lantas kapan?

Di kesempatannya yang ketiga menukangi timnas Indonesia, Riedl seperti tak mau lagi melihat permainan 'Indonesia' yang sudah terlalu melekat pada wajah-wajah lama. Ia butuh pemain muda, cepat, kuat dan punya keinginan yang kuat.

Ketika berbincang dengan Hans Peter Schaller selaku asisten pelatih timnas, ia menjelaskan bahwa tim-tim Indonesia bergerak lamban dengan jarak yang jauh antarlini. Hal itu yang ingin dihilangkan Riedl. Pemain harus tahu sistem permainan mereka, harus paham taktik apa yang tepat. Terus bergerak 90 menit dengan jarak yang seharusnya antarpemain.

"4-4-2, 4-3-3 dan sebagainya itu adalah strategi. Tapi taktik, adalah (masalah) bagaimana caranya ketika merebut bola. Pemain harus benar paham taktik itu. Saya pernah melatih PSM, Persiba, tim-tim Indonesia jaraknya 30 meter dari belakang, tengah, depan. Juga Malaysia. Hal seperti itu sudah tidak akan bekerja," kata Hans.

Fisik jadi hal utama yang dibentuk oleh tim pelatih timnas Indonesia saat ini. Karena taktik yang ingin diterapkan sang pelatih memang akan banyak menguras fisik. Ingat saja ketika Indonesia menciptakan mimpi buruk bagi Malaysia pada 15 menit pertama. Irfan Bachdim dan Boaz Solossa tak berhenti mencari dan mengejar bola.

"Kami coba begitu (terus menekan lawan) dan main sesuai keinginan. Tapi tak sampai 15 menit sudah hilang," ungkap Hans, yang tentu urusannya karena fisik yang terkuras.

Riedl pun mengakui hal tersebut, ia ingin lini depan berani mengintimidasi lawan terus-menerus. Sayangnya, fisik adalah keterbatasan pemain saat awal pelatnas dimulai. Makanya, tim pelatih terus-menerus menggenjot fisik pemain dengan indikasi detak jantung yang dimonitor dengan bantuan Statsports Viper Unit -- yang kerap digunakan tim-tim sepakbola profesional (bukan di Indonesia tentu saja) saat ini.

"Ya memang, jika memungkinkan kami ingin pemain depan terus melakukan pressing. Tapi itu semua tergantung juga dari kekuatan lawan dan juga penyerang yang sedang dimainkan," kata Riedl.

Etos kerja jadi hal utama timnas Indonesia saat ini. Dibantu fisik dan kecepatan. Bertahan bukan hanya tugas lini belakang, sebagaimana Riedl pun menolak untuk menyalahkan para bek ketika dibobol Vietnam pada laga uji coba lalu.

Ada isyarat bahwa timnas Indonesia saat ini bukan hanya soal Piala AFF 2016, meski sebenarnya trofi Piala AFF pun belum pernah disentuh Indonesia. Tapi tentang hasrat Riedl -- yang sudah melewati dua edisi Piala AFF bersama Indonesia -- untuk menciptakan karakter (hal yang sudah lama hilang dari timnas) bermain di timnas Indonesia, dengan wajah-wajah baru yang masih punya waktu banyak membela timnas.

Jika kita pernah dibuai PePePa ala Indra Sjafri di timnas Indonesia U-19, mari kini kita berharap ada karakter atau gaya lain yang diciptakan Riedl untuk timnas senior yang bisa berbuah kesuksesan.