CATATAN: Berharap Bintang Cerezo Osaka Bersinar Di Piala Dunia

Publik Cerezo kini menyandarkan harapan kepada pemain mereka untuk mengikuti jejak Morishima.

CATATAN Goal Jepang PENYUSUN DONNY AFRONI

Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea Selatan menjadi ajang yang tak akan bisa dilupakan Hiroaki Morishima, karena ia menjadi aktor penentu Jepang lolos dari fase grup.

14 Juni 2002, Jepang masih bermain imbang tanpa gol melawan Tunisia di pertandingan terakhir grup sepanjang babak pertama. Sebagai salah satu tuan rumah, Jepang tentunya tak mau kehilangan muka begitu saja, dan wajib mendapatkan kemenangan untuk melaju ke fase knock-out kali pertama dalam sejarah.

Walau lahir di Hiroshima, Morishima lebih banyak menjalani kehidupannya di Osaka, sehingga selalu bangga menyebut dirinya sebagai warga Osaka. Apalagi laga itu dimainkan di kandang Cerezo (kini bernama Stadion Yanmar), tempat Morishima menjalani karir.

Pelatih Philippe Troussier kemudian memasukkan Morishima di babak kedua. Tiga menit menjejakkan kaki di lapangan, Morishima sukses memecahkan kebuntuan Jepang, dan akhirnya memetik kemenangan 2-0. Itu juga menjadi hari bersejarah bagi Cerezo, karena Morishima menjadi pemain pertama mereka yang mencetak gol di Piala Dunia dalam sejarah klub.

12 tahun berselang, dan Cerezo kini menyumbangkan tiga pemain ke Piala Dunia. Salah satunya adalah Hotaru Yamaguchi yang kerap masuk sebagai starter di bawah asuhan Alberto Zaccheroni.

Juli tahun lalu, Yamaguchi dipilih pada pelatih sebagai pemain terbaik di ajang Piala Asia Timur di Korea Selatan, serta melanjutkan performa mengesankannya bersama Cerezo dan Samurai Biru.

Di usia 23 tahun, Yamaguchi disebut-sebut sebagai gelandang komplet, mampu menjalankan peran sebagai pemain bertahan, dan mengkreasi serangan. Absennya kapten tim Makoto Hasebe, ia mampu membangun lini tengah solid bersama legenda Gamba Osaka Yasuhito Endo.

Yamaguchi memperlihatkan performa mengesankan ketika menghadapi Belanda dan Belgia pada November, dan kini menarik minat sejumlah pemain Eropa.

Permata Cerezo lainnya ada pada diri striker Yoichiro Kakitani. Pemain berusia 23 tahun itu juga merupakan jebolan Akademi Cerezo. Kualitas Kakitani sudah terlihat sejak 2006, ketika dia mencetak gol indah dari jarak 40 meter di Piala Dunia U-17 melawan Prancis.

Namun ia kerap menjadi karakter pembangkang. Agar bertambah dewasa, baik sebagai pemain maupun sebagai sosok manusia, Kakitani kemudian dipinjamkan ke Tokushima Vortis, saat itu masih menjadi klub Divisi Dua Jepang, selama 2,5 musim.

Kakitani kemudian kembali ke Cerezo sebagai sosok yang matang, dan menjadi andalan klub di barisan depan. Torehan 21 gol pada 2014 membuat Kakitani masuk tiga besar pencetak gol terbanyak di J-League, dan mengantarkan klub ke Liga Champions Asia (LCA).

Pemain yang sebelumnya sering membuat masalah ini, bahkan menerima peghargaan Fair Play pada akhir musim oleh pengelola J-League, sebuah gelar yang sangat berarti bagi dirinya.

Kendati baru mengemas satu gol dari 13 penampilannya di musim ini, Kakitani justru bersinar di LCA dengan menorehkan empat gol di delapan laga.

Dia masuk perhitungan di tim nasional dengan mengemas lima gol dari 13 pertandingan. Kakitani dianggap sebagai pemain yang meneruskan jejak Shinji Kagawa, Hiroshi Kiyotake, dan Takashi Inui untuk berkiprah di kompetisi Eropa.

Pemain ketiga yang menarik perhatian fans Cerezo di Piala Dunia 2014 tentunya adalah Diego Forlan, yang terpilih sebagai pemain terbaik empat tahun lalu. Jika Luis Suarez absen, maka Forlan menjadi kandidat kuat untuk mengisi barisan depan Uruguay, berduet dengan Edinson Cavani.

Tak ada klub J-League yang mengirimkan banyak pemain ke Brasil, dan mereka masuk bersama empat pemain Cerezo lainnya yang pernah mencicipi Piala Dunia. Sudah pasti sejarah yang pernah dicatatkan Morishima, kini menjadi duta klub, berharap bisa diulangi lagi pada penyelenggaraan tahun ini.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics