CATATAN Final Liga Champions: Berbanggalah, Ini Satu-Satunya Derby Di Partai Puncak

Ibu kota Portugal akhir pekan ini akan dipenuhi khalayak Madrid. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pentas UCL, dua tim satu negara, satu kota, bakal saling "bunuh".

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Lisabon, panggung penutup dari pesta sepakbola antarklub terbaik Eropa bernama Liga Champions, akan menjadi saksi histori dari pertemuan antara duo Madrid, Real dan Atletico, Sabtu besok.

Bukan all-England final, all-Italian final, atau all-German final, pertemuan yang terjadi di musim lalu antara Bayern Munich dan Borussia Dortmund. Namun final ini lebih spesial lagi.

Yah, langka. Bahkan tak pernah terjadi selama kompetisi kasta teratas Benua Biru itu berdiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah UCL, dua tim satu negara, satu kota, berseteru di partai puncak! El Derbi Madrileno, yang biasa disaksikan publik di kancah domestik sebanyak 194 pertandingan, namun baru kali ini disajikan di pentas yang lebih suprematif.

Jangan heran bila ibu kota Portugal Sabtu besok bakal disesaki publik ibu kota Spanyol yang berbondong-bondong datang. Akhir pekan ini, Estadio da Luz, mutlak jadi milik dan hajatnya orang-orang Madrid.

Menapaktilasi perjalanan rivalitas dua tim ini memang epik. Los Blancos dan Los Rojiblancos merupakan dua klub yang dipandang kontras. Kenapa? Sebab mereka memiliki identitas sekaligus nasib yang berbeda. Sekilas tiada beda dengan derby bergengsi macam derby Milan dan derby Manchester. Namun derby Madrid ini jauh lebih memiliki garis kemiringan bila menilik kesuksesan Real dibanding Atletico.

Secara historis, Real sudah lebih terdahulu dibentuk sebagai satu kesatuan klub, kendati tak pernah ada bukti perihal ini. Di sisi lain, Atletico lebih dikenal sebagai klub "sentimiento de rebeldia" - "gerakan pemberontakan". Perseteruan yang tadinya mengatasnamakan olahraga, kini lebih meluas lantaran di dalamnya terkontaminasi nuansa politis.

Sang diktator Francisco Franco menjadi dalang penting di balik memanasnya rivalitas Real dan Atletico di periode awal kepemimpinan dia di Spanyol.

Klub Atletico awalnya "dimanja" dan diakui sebagai sebuah tim di rezim Franco tersebut, bahkan mereka diasosiasikan dengan angkatan militer udara. Namun, Franco rupanya berrencana lain. Secara mengejutkan dia mempolitisasi Real. Si Putih dipersenjatai dengan modal untuk menaklukkan pentas sepakbola Eropa di tengah Spanyol yang ketika itu diisolasi dari kancah internasional menyusul anggapan bahwa negara tersebut menganut fasisme.

"Real Madrid adalah wakil terbaik yang pernah kami miliki," ujar seorang menteri.

Fans dou Madrid, sedarah tapi berbeda kelas
Sontak, kubu Atletico meradang. Mereka merasa dicampakkan. Franco dianggap berkhianat. Sejak saat itu, Los Rojiblancos tak henti-hentinya melantangkan nyanyian "Real el equipo del gobierno, la verguenza del pais", yang berarti "Real adalah tim milik pemerintah, sungguh memalukan negara".

Tensi di ibu kota Spanyol terus mendidih. Sejak El Real disokong pemerintah, klub yang identik dengan warna putih-putih ini mengelompokkan diri di kalangan orang-orang berstrata kelas atas. Tengok saja, stadion Santiago Bernabeu yang dibangun bersanding bersama bank-bank dan perusahaan bisnis berkelas di jalan Paseo de la Castellana.

Tak demikian bagi Atletico. Label "pemberontak" menjadikan mereka dekat dengan "wong cilik". Los Rojiblancos secara terus menerus mencari dukungan dari kaum buruh. Tak heran bila Estadio Vicente Calderon dapat ditemukan di dekat produsen bir sepanjang sungai Manzanares.

Pada perkembangannya, Real menarik dukungan lebih besar dari publik ibu kota berkat penampilan, manajemen dan kesuksesan yang lebih baik. Sedangkan Atletico menahbiskan diri sebagai tim yang berbasis masa kelas pekerja. Meski dalam sebuah jejak pendapat, fakta mengungkap Real memiliki fans dari kalangan kelas pekerja lebih banyak dibanding Atletico, tapi identitas sejarah tak pernah bisa dibantah, sampai hari ini.

*) Ket.: Kompetisi telah ditiadakan

*) Ket.: Kompetisi belum mengenal aturan gol tandang sehingga play-off digelar untuk menentukan pemenang
Bagaiman pun cerita perpecahan duo Madrid ini, yang diincar keduanya pada Sabtu besok adalah gengsi Eropa. Bahkan, gengsi untuk memproklamirkan diri sebagai tim terbaik dunia.

Sudah dua dekade lebih era Liga Champions berjalan dan sejarah mencatat "perang saudara" alias final senegara sebanyak empat kali: Real Madrid 3-0 Valencia (1999/00), Milan 0 [3]-[2] 0 Juventus (2002/03), Manchester United 1 [6]-[5] 1 Chelsea (2007/08), Bayern Munich 2-1 Borussia Dortmund (2012/13). Namun sekali lagi, partai pamungkas edisi tahun ini amatlah istimewa. Bagai takdir, duel satu negara, satu kota dengan latar belakang sejarah yang menarik, tersaji untuk pertama kalinya di akhir pekan ini.

El Real merupakan klub pengoleksi trofi Eropa paling banyak dan bertekad menggenapkan penantian 12 tahun tanpa juara dengan raihan "La Decima" - sebutan gelar kesepuluh di Liga Champions. Namun Atletico akan menyempurnakan musim mengejutkan mereka usai menjadi juara La Liga 2013/14 dengan mengangkangi Barcelona akhir pekan lalu dengan bersiap merajut satu musim emas dalam sejarah 111 tahun klub itu berdiri.

Satu hal yang pasti. Siapa pun yang keluar sebagai kampiun di laga ini, yang akan berpesta pora tetaplah bangsa Madrid.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics