CATATAN: 'Heavy Rotation' FC Internazionale Ala Roberto Mancini

Dalam 13 pertandingan Serie A Italia sejauh ini, Mancini tidak pernah memakai starting line-up yang sama.


FC Internazionale saat ini memuncaki klasemen sementara Serie A Italia usai mengumpulkan 30 poin dari 13 pertandingan yang dilalui.

Di balik keberhasilan La Beneamata tersebut, ada tangan dingin pelatih Roberto Mancini yang gemar melakukan rotasi pemain di setiap pertandingan. Apakah itu kecerdikan atau formula terbaik Inter masih belum ditemukan?

Seperti yang diketahui, musim panas kemarin merupakan periode yang sibuk bagi Nerazzurri. Buruknya performa musim lalu membuat manajemen bekerja keras untuk menambal setiap lini dengan mendatangkan pemain-pemain baru.

Bergabungnya pemain-pemain baru dari berbagai posisi membuat Mancini memiliki banyak pilihan dan ia memanfaatkannya dengan sangat baik.

Alhasil, ia bisa menerapkan strategi yang berbeda sesuai kebutuhan pertandingan - dan juga tentu ada unsur lain seperti cedera dan sanksi - dan itu terlihat dalam 13 pertandingan Serie A sejauh ini, di mana Inter tidak pernah bermain dengan starting eleven yang sama.

Hanya ada satu pemain yang tidak pernah tergeser posisinya dari starter yaitu Samir Handanovic yang membuktikan bahwa dirinya piawai dalam menjaga gawang. Ia meraih sembilan clean sheet di Serie A sejauh ini, sebuah catatan tertinggi di lima liga besar Eropa.

Sisanya, tidak ada pemain yang luput dari kebijakan rotasi Mancio. Duet bek jantung pertahanan terlihat beberapa kali berganti, Miranda dan Jeison Murillo menjadi pilihan utama pelatih, tetapi jika salah satu berhalangan atau dirotasi, maka Gary Medel bisa ditarik ke belakang atau mempercayai Andrea Ranocchia.

Bek sayap lebih sering dirotasi, Alex Telles dan Juan Jesus saling bergantian menyisir sisi kiri, sementara Davide Santon, Danilo D'Ambrosio dan Yuto Nagatomo harus berebut di sisi kiri.

Sektor tengah juga sering dimodifikasi oleh Mancio berdasarkan strategi, trio Geoffrey Kondogbia, Felipe Melo dan Fredy Guarin paling sering digunakan (lima pertandingan), kemudian Kondogbia, Guarin dan Gary Medel (dua pertandingan), dan sisanya kombinasi berbeda dengan memasukkan Marcelo Brozovic.

Sementara di pertandingan terakhir, Mancio melakukan perubahan dengan hanya memasang dua gelandang yaitu Kondogbia dan Melo. Fokus strategi difokuskan pada serangan, hingga hasilnya meraih kemenangan meyakinkan empat gol tanpa balas.

Kemudian sektor penyerangan juga kerap diutak-atik oleh Mancio dengan delapan kombinasi berbeda dalam 13 pertandingan. Kombinasi Stevan Jovetic, Ivan Perisic dan Mauro Icardi (empat laga) menjadi yang paling sering dipercaya sebagai starter, kemudian Icardi, Perisic, Adem Ljajic dan Icardi, Perisic, Rodrigo Palacio (masing-masing kombinasi menjadi starter pada dua laga).

Namun, dalam dua pertandingan terakhir, Mancio melakukan perubahan lebih ekstrem - sesuai dengan perubahan formasi - saat menghadapi Torino, Inter memasang duet Palacio dan Icardi, sementara di laga terakhir ketika menjamu Frosinone, Mancio ingin menggempur lawan dengan memasang Ljajic, Jovetic, Icardi dan Jonathan Biabiany.

Mancini juga mulai memperkaya formasi yang diterapkan oleh anak asuhnya, apabila kerap menggunakan 4-3-3 di awal musim, ia mulai berani mengubahnya menjadi 3-5-2 (menghadapi Torino) dan juga 4-2-3-1 (menghadapi Frosinone).

"Kami menggunakan 3-5-2 karena itu tampak menjadi cara terbaik untuk menyerang Toro," ujar Mancio. "Jelas kalau kami menggunakan sistem itu melawan Roma mereka akan menang 3-0."

Dengan absen di kompetisi Eropa namun memakai rotasi yang cukup intens, kebugaran Inter bisa dikatakan jauh lebih baik dari tim-tim rivalnya yang harus bersaing di Eropa. Hal ini tentu akan coba dimaksimalkan dengan sangat baik oleh sang pelatih.

Menghadapi Napoli akhir pekan nanti, Inter akan lebih condong memakai formasi 4-3-3 untuk lebih memperkuat pertahanan daripada dua pertandingan sebelumnya. Akankah ada starting line-up baru lagi di San Paolo?