CATATAN: Kurnia Meiga, Antara Bakat Dan Emosi

Meiga dikenal sebagai kiper muda yang sangat berbakat, tapi emosinya kerap labil di atas lapangan.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN & AHSANI TAKWIM Ikuti di twitter
Bakat Kurnia Meiga Hermansyah sebagai kiper berkualitas sudah mulai tercium Bambang Nurdiansyah sejak Meiga masih berlatih di Diklat Ragunan. Melihat hal itu, Bambang tak segan mengajak Meiga hijrah ke Malang. Tepatnya, untuk membela Arema Malang (sekarang Arema Cronus) di kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim 2008/09.
Kebetulan, ketika itu Bambang ditunjuk sebagai pelatih Singo Edan, meski hanya bertahan hingga empat pertandingan awal musim. Setelah itu, tampuk kepelatihan Arema dipegang Gusnul Yakin. Di tangan Gusnul, talenta kiper berusia 23 tahun itu lebih terasah.
Meiga yang di awal kedatangannya hanya menjadi kiper ketiga Arema di bawah Dadang Sudrajat dan M.Yasir, langsung menjadi pilihan utama di era Gusnul. Sayang, di musim perdananya itu jiwa muda Meiga yang masih labil membuatnya harus menerima hukuman Komisi Disiplin PSSI.
Ya, saat itu Meiga dihukum komdis dengan larangan bermain di pentas sepakbola nasional selama 12 bulan. Menyusul, dia dianggap menjadi biang kerusuhan pada laga Arema kontra PKT Bontang di Stadion Kanjuruhan, Malang, 13 September 2008. Namun lantaran Meiga dinilai sebagai pemain muda yang karirnya masih panjang, hukuman tersebut dikurangi dan dirinya hanya menjalani lima bulan saja.
Setelah masa suram itu, Meiga harus kembali berjuang untuk mendapatkan posisi sebagai kiper inti tim berlogo kepala singa itu. Terlebih, Arema pada musim selanjutnya dilatih oleh pelatih anyar, Robert Rene Alberts. Rene Alberts saat itu mendatangkan kiper berpengalaman Markus Haris Maulana (Markus Horison).
Tak pelak, Meiga harus berjibaku untuk bisa bersaing dengan Markus. Setelah menunggu sekitar setengah musim, Markus memilih pindah ke Persib Bandung. Itu karena, Markus kecewa lantaran tidak menerima gaji selama tiga bulan. Praktis, keputusan Markus membuat Meiga langsung jadi pilihan utama di bawah mistar gawang.
Kesempatan ini pun tak disia-siakan oleh kiper yang akrab disapa Entong itu. Bahkan, penampilan apiknya menjadi salah satu kunci sukses Arema juara di musim itu. Ditambah, dia langsung mendapatkan predikat sebagai pemain terbaik ISL musim 2009/10.

Talenta seorang Kurnia Meiga sudah mulai tercium sejak usianya masih muda.
Setelah itu, karirnya semakin meroket hingga dipanggil memperkuat timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2011. Saat ini, Meiga pun menjadi salah satu pilihan utama untuk timnas senior.
Pada musim ini, Meiga kembali terlihat masih belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Itu terlihat, ketika membawa Arema menang atas Semen Padang, 1-0, di Stadion Haji Agus Salim, Padang, 29 April lalu. Pada laga itu, Meiga memang bisa menggagalkan penalti ala panenka Esteban Vizcarra. Tapi, dia gagal menahan emosinya ketika suporter tuan rumah memberikan teror terhadap timnya.
Meiga menendang bola ke arah tribun penonton sebagai bentuk kekecewaannya terhadap sikap suporter yang dinilainya tidak pantas. Sayangnya, Meiga kembali mencoba melakukan provokasi dengan mengacungkan jari tengah ke arah penonton usai pertandingan, sebelum masuk ke ruang ganti pemain.

Meiga melakukan provokasi kepada penonton tim Semen Padang dengan mengacungkan jari tengahnya.
Tak ayal, sikapnya tersebut langsung mendapatkan kritikan pedas. Sikapnya dianggap tidak mencerminkan kedewasaan dari seorang kiper berlabel timnas. "Saya hanya membalas supaya Irsyad (Maulana) berhenti dilempari. Saya kira hal itu adalah manusiawi karena kami disakiti dan itu kami gunakan untuk membela diri sendiri," kilah Meiga, kepada Goal Indonesia.
Bahkan, dia mengakui pernah melawan suporter di luar stadion ketika Arema masih dilatih Rahmad Darmawan. "Saat itu, saya pernah turun dari bus, untuk mengejar oknum yang melempari bus pemain," tuturnya.
Kini, dia pun berharap semua pihak bisa melihat apa yang dilakukannya dengan bijak. Termasuk apabila nantinya sikapnya tersebut masuk ke ranah komdis. "Siapapun pasti tidak akan tinggal diam dilempari dengan brutal dan posisi terancam. Semoga komdis melihat dari dua sisi. Tidak ada sesuatu tanpa sebab," jelas mantan kiper Persijap Jepara ini.
Lebih lanjut, Meiga tak ingin mempedulikan lagi komentar-komentar miring terhadapnya. Dia memilih fokus untuk membawa Singo Edan memenangkan setiap pertandingan yang dijalani. "Keluarga, rekan pemain, dan teman-teman sudah memberikan motivasi untuk menjadikan saya lebih baik. Bisa dibilang, tahun ini adalah musim yang sulit. Semoga Arema bisa menjadi juara," pungkasnya. (gk-48)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.