CATATAN: Menjelang Senja Karir Fernando Torres

Saat Fernando Torres tiba di Inggris untuk pertama kalinya, hampir tujuh tahun lalu, ia merupakan salah satu mesin gol tertajam di planet bumi.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter
Saat Fernando Torres tiba di Inggris untuk pertama kalinya, hampir tujuh tahun lalu, penyerang Spanyol ini merupakan salah satu mesin gol tertajam di planet bumi. Menjadi penyerang paling ditakuti saat berseragam Liverpool, antara 2007 dan 2010, penyerang ini memiliki segalanya, baik kecepatan maupun kekuatan. Sayang, hidupnya berubah 180 derajat pada satu titik, from hero to zero, bahkan jadi salah satu transfer terburuk di EPL.

Apapun yang terjadi pada Torres, tentu menjadi sebuah tanda tanya besar dalam sepakbola saat ini. Namun, ada baiknya kita lihat ke belakang secara runtut, dan melihat, apa yang sebenarnya terjadi dengan Torres?

El Nino dari Madrid
Pemain berjulukan El Nino ini datang dari Atletico Madrid ke Anfield pada musim panas 2007 dengan tebusan £26,5 juta. Masih berusia 24 tahun, ia langsung mencetak 24 gol dalam 33 laga yang ia lakoni dalam musim debutnya di Liga Primer Inggris. Seusai EPL musim itu usai pun, ia masih membubuhkan catatan manis dengan gol penentu kemenangan bagi Spanyol di final Euro 2008 melawan Jerman. Spektakuler!

Debut Spektakuler | Torres tiba di Inggris sebagai sosok yang fenomenal.
Tak heran, Steven Gerrard langsung melayangkan pujian pada partner menyerangnya tak lama setelah ia datang, tepatnya Desember 2007. “Fernando mendapat banyak pujian sekarang dan ia pantas mendapatkannya karena cara ia beradaptasi dengan sepakbola Inggris sungguh luar biasa dan gaya bermainnya sangat menakutkan. Biasanya para pemain dari luar selalu kesulitan untuk adaptasi di sepakbola Inggris, tapi sekarang, Fernando tampak seperti sudah bermain lama di sini," ungkap Gerrard.

Sebagai catatan, debutnya di Liverpool sekaligus membuatnya jadi pemain yang mampu mencetak lebih dari 20 gol dalam semusim sejak Robbie Fowler pada 1995/96. Keseluruhan, ia mencetak 33 gol di semua kompetisi dan melampaui rekor Ruud van Nistelrooy. El Nino bahkan menjadi debutan asing tersubur dalam sejarah sepakbola Inggris.

Saat cedera menghantui

Tampil luar biasa di musim perdananya, El Nino malah dibekap cedera hamstring pada musim 2008/09. Agustus, Oktober, November ia mengalami cedera satu kali setiap bulannya. Namun itu barulah awal dari rentetan malapetaka, mengingat hamstring adalah otot yang memberinya “hidup”.

Bagaimana tidak, Torres selalu bergantung pada kemampuannya untuk melakukan long sprint – menjauhkan bola dari bek, lalu mengejarnya dengan kecepatan tinggi – dan bukannya bergantung pada akurasi tembakan (50% di musim perdana) dalam mencetak gol. Cedera hamstring jadi musuh dalam selimut baginya dan tentunya memberikan pukulan keras pada karir sepakbolanya.

Cedera hamstring yang dialami Torres sendiri sebenarnya sudah ia alami sejak enam tahun berkarir di Atletico, bahkan ia hanya mengalami satu cedera otot selama itu. Timbul argumen, perubahan fisik Torres ditambah dengan perubahan budaya sepakbola yang “sangat fisik” dan keras di Liga Primer Inggris secara tidak langsung membuat tubuhnya menjerit seiring bertambahnya usia. Kisah yang mirip dengan Michael Owen.

Kehilangan Sentuhan | Torres semakin terpuruk setelah menghadapi badai cedera.
Memang, Torres mengalami masalah cedera di musim keduanya, tapi Liverpool masih berada masa kejayaan setelah mereka finis di posisi kedua dan hanya terpaut empat poin dari Manchester United di puncak. Penurunan performa karena cedera terpampang jelas di musim kedua Torres, ia hanya mampu mencetak 14 gol dalam 24 pertandingan dan mencetak rata-rata satu gol dalam 124 menit, akurasi tembakan pun menjadi 43%.

Pada 2009/10, Torres ganti menderita cedera abdominal yang membuatnya absen lebih dari sebulan, mulai November hingga Desember, tapi ia telah melalui masa-masa cedera hamstring. Kendati begitu, hal ini malah jadi malapetaka bagi Torres. Ia harus mengalami masalah di lutut kanannya dan harus melalui dua operasi – yang pertama pada Januari, lalu April. Timbul argumen, cedera lutut ini terjadi karena ia mencoba melindung hamstringnya. Yang jelas, operasi di bulan April membuat Torres mengakhiri musimnya lebih awal.

Secara statistik, sebenarnya 2009/10 adalah musim yang paling tajam bagi Torres di depan gawang. Dalam 22 laga Liga Primer, ia mampu mencetak 18 gol. Ia pun rerata mencetak satu gol setiap 95 menit dan akurasi tembakannya lebih dari 50%. Namun, performa tajam itu ia tunjukkan sebelum melakoni operasi lutut pertamanya pada bulan Januari. Setelah pulih dari operasi, ia hanya mampu mencetak enam gol di sisa musim dan kemudian masuk meja operasi lagi karena masalah lutut yang sama.

Chelsea, amarah, dan menguapnya kepercayaan diri
Torres pulih tepat waktu, ia mampu hadir di Piala Dunia 2010 mewakili Spanyol. Tim Matador memang sukses mengangkat trofi bergengsi itu, namun Torres sama sekali tidak mencetak gol! Sebagai pelengkap penderita, ia bahkan mengalami cedera kunci paha di babak final melawan Belanda dan harus menjalani tiga pekan rehabilitasi.

Setelah dua kali operasi lutut dijalani Torres, Liverpool melakoni musim yang buruk. Mereka finis di posisi ketujuh dan angkat koper lebih awal di Liga Champions. Manajer Rafael Benitez pun hengkang di akhir musim, sembari para fans menaruh amarah pada pemilik klub, Tom Hicks dan George Gillett. Momen-momen negatif ini baik secara langsung maupun tidak juga berdampak pada Torres.

Pulih dari cedera yang ia dapat saat final Piala Dunia, Torres akhirnya mendapat kesempatan bermain pada musim 2010/11. Keseluruhan, ia tampil 23 kali, hanya mencetak 9 gol dan pergerakannya tak seperti dulu, operasi lutut tampak membuatnya berhati-hati saat bermain. Belum lagi, masalah di luar lapangan pada akhirnya membuat Torres meminta untuk hengkang dan Chelsea, sebagai klub tujuannya, membayar tebusan £50 juta di bursa transfer Januari 2011.

Hero to Zero | Kepindahan ke Chelsea membuatnya jadi sosok antagonis di mata The Kop.
Transfer Torres ini tak lepas dari amarah para fans Liverpool, mengingat sang penyerang selalu sesumbar tentang komitmennya pada The Reds. The Kop merasa dikhianati saat Torres pindah dan kemarahan ini secara psikologis memberi beban pada sang penyerang. Padahal di musim-musim sebelumnya, para fans selalu menjadi sumber kepercayaan diri Torres. Apakah ini menjadi salah satu faktor penurunan performa? Bisa jadi, karena seorang pemain harus berada dalam kondisi mental bagus di lapangan, bisa dikatakan, Torres butuh dukungan moral dari para fans.

Awal karirnya di Chelsea tidak berjalan mulus. Ia hanya mencetak satu gol di sisa musim 2010/11. Torres seolah menelan akibat dari kemarahan fans sekaligus beban moral yang timbul dari nilai transfernya. Yang pasti, Torres menutup musim 2010/11 dengan catatan terendah sepanjang karirnya di Liga Primer Inggris saat itu, main 37 kali dan hanya mencetak 10 gol.

Musim selanjutnya, karir Torres masih belum membaik. Ia hanya mampu mencetak 6 gol dalam 32 pertandingan dengan rerata satu gol per 317 menit di Liga Primer. Sekilas tentu semua orang sudah tahu, tidak ada jalan pulang untuk Torres. Hal tersebut semakin nyata terpampang musim lalu, saat ia mencetak 8 gol dari 36 penampilan di Liga Primer. Musim ini? Kiranya tak perlu ditegaskan lagi.

Satu hal yang menarik, Torres jarang mengalami cedera sejak bergabung dengan Chelsea. Kemungkinan besar, ini merupakan dampak positif dari latihan Chelsea yang meningkatkan kerja ototnya. Tapi secara tidak langsung, ini berpengaruh pada pergeseran gaya main, yang tidak sedinamis masa keemasannya. Beberapa pihak juga mengatakan, perubahan gaya main Torres merupakan dampak dari operasi lututnya dan komplikasi lain (amarah fans The Reds, beban nilai transfer, adaptasi) yang sekaligus menumpulkan ancamannya di depan gawang. Segala permasalahan di dalam dan luar lapangan, telah menggumpal menjadi bongkahan es besar yang ikut melindas El Nino.

Senja karir Fernando Torres
Semua cedera yang dialami Torres, terutama yang menyerang hamstring, telah merenggut kecemerlangannya, merampas kemampuan alami, dan kepercayaan dirinya. Namun kalau melihat statistik, ia justru melakoni musim terbaiknya di musim 2009/10 setelah pulih dari jeratan cedera hamstring pada 2008/09. Dengan kata lain, cedera otot tidaklah jadi masalah utamanya.

No More El Nino | Masa keemasan Torres telah berlalu.
Kepercayaan diri? Memang, sejak pindah ke Chelsea, Torres mengalami krisis percaya diri dan performanya terus menurun. Namun kalau sedikit menengok ke belakang, penurunan performa telah terjadi sebelum ia meninggalkan Anfield. Masalah mental hanya menjadi variabel kecil dalam karirnya.
Titik kejatuhan Torres, yang benar-benar menghilangkan ketajamannya, adalah operasi lutut yang ia lakoni dua kali pada 2010. Torres bukan lagi El Nino setelah melakoninya, dimulai dengan performa tumpul di Piala Dunia 2010. Memang, lutut adalah jantung kedua bagi pemain yang mengandalkan kecepatan. Saat mereka “hilang”, sebenarnya hilang pula masa emas mereka. Torres mencetak 50 gol dalam 72 laga di Liga Primer sebelum melakoni operasi lutut pertama. Setelahnya, ia hanya mampu mencetak 34 gol dalam 135 pertandingan.
Melihat usianya yang tidak lagi muda – hampir menginjak kepala tiga – Torres dan semua orang yang mengidolakan masa emasnya harus menghadapi kenyataan yang pahit. Kemampuan mencetak gol yang luar biasa, pergerakan cepat dan kuat, penyelesaian brilian, dan statistik nan cantik sepertinya tinggal kenangan. Pahit memang, tapi seiring ia mendekati usia 30, tidak ada waktu bagi Torres untuk kembali ke masa keemasannya sebagai El Nino. Senja sudah tiba bagi karir Fernando Torres.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.