CATATAN: Pep Guardiola Ubah Bayern Munich Jadi Barcelona 2012

Pengkritik sekarang bisa berlindung di balik satu prinsip, 'pemain terbaik sepanjang masa selalu ada di sana untuk melindungi Barca'.

CATATAN MARK DOYLE PENYUSUN GUNAWAN WIDYANTARA
Setelah Bayern Munich dibekap Real Madrid 1-0 di Santiago Bernabeu, kepada Goal Stefan Effenberg menilai sistem Pep Guardiola 'sudah menyentuh limit'. Rabu dini hari tadi di Bavaria bukti kembali tersaji, sang raja sepakbola Eropa dicampakkan oleh pasukan Carlo Ancelotti dengan skor 4-0.

Usai memperlihatkan performa brilian saat menghancurkan Manchester City di Etihad di awal kompetisi, Guardiola sepertinya akan menciptakan Bayern (versi) 2.0. Tetapi pada akhirnya, eks pelatih Barcelona malah menjadikan Bayern seperti raksasa Catalan pada 2012.

Setelah kekalahan di leg pertama di ibu kota Spanyol, pelatih Catalan dengan lantang mengatakan bangga terhadap performa pasukannya. Guardiola merasa timnya pantas mendapat pujian setelah mencatatkan possession 78 persen di stadion angker Santiago Bernabeu.

Komentar tersebut justru mengingatkan pada celoteh menyedihkan Xavi yang mengagungkan statistik penguasaan bola usai Barcelona dipermak habis Bayern dengan agregat 7-0 di semi-final Liga Champions musim lalu. Mengendalikan bola harus bertujuan akhir pada gol, tapi rupanya Xavi dan Guardiola punya penilaian lain, possession tujuan akhir.

Sekarang pertanyaan serius pantas dilayangkan pada filosofi Guardiola. 'Tiki-taka' tidak bisa dibantah merupakan revolusi gaya bermain di tengah lapangan. Tiki-taka telah mengantarkan Barcelona menjadi klub dengan performa paling indah nan elegan sepanjang sejarah olahraga ini. Mereka juga begitu sukses hingga pada akhirnya tim-tim rival mengetahui cara meredam strategi tersebut dan cara mengisolasi Lionel Messi.

Apa yang terjadi ketika Guardiola meninggalkan Camp Nou 2012 lalu? Barcelona menjadi sebuah tim dengan visi satu dimensi, terlalu mudah diprediksi, sama persis seperti Bayern dalam beberapa pekan terakhir.

Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi. Setelah mengambil alih tim pemenang tiga gelar hasil kreasi Jupp Heynckes, level yang lebih baik jadi bidikan manajemen Bayern. Sayangnya, sang pelatih yang didatangkan malah menciptakan kemunduran.

CV gemilang Guardiola lalu dipertanyakan. Untuk kali kesekian, peran La Masia naik ke permukaan sebagai salah satu alasan kuat kesuksesan di Camp Nou seperti halnya ketergantungan Barca terhadap Lionel Messi. Pengkritik sekarang bisa berlindung di balik satu prinsip, 'pemain terbaik sepanjang masa selalu ada di sana untuk melindungi Barca'.

Kelemahan Guardiola lainnya saat berada di Barcelona adalah kegagalannya mengidentifikasi kelemahan di lini belakang. (Dmytro Chgrynskiy, masih ada yang ingat?)

Lebih mengkhawatirkan lagi, selama satu tahun 'bertapa', skema Guardiola tidak meningkat, sang pelatih gagal mengembangkan skema, evolusi strategi tidak terjadi. Kegagalan dan kelemahan sama tetap ada. Sepanjang musim begitu nyata terlihat Bayern rapuh di sektor tengah pertahanan, selama itu pula garis pertahanan tim begitu tinggi. Carlo Ancelotti cermat melihat kelemahan ini dan akhirnya Real Madrid dengan brutal mempermalukan fans Bayern di dua leg pertadingan, padahal 12 bulan sebelumnya fans yang sama tahu persis bagaimana cara tim mereka menghancurkan Barcelona.

Setelah mengklaim gelar Bundesliga dengan waktu tercepat sepanjang sejarah kompetisi, tugas Bayern adalah meladeni Borussia Dortmund di final DFB-Pokal. Pertandingan ini bisa dijadikan kesempatan bagi Guardiola untuk mencatat gelar ganda di msuim perdana. Sayangnya, seperti yang dipublikasikan Die Welt, "Hanya Liga Champions masuk hitungan."

Guardiola telah mengambil salah satu skuat paling kuat yang pernah ada di Eropa namun Bayern bukan hanya gagal mempertahankan gelar juara tetapi mereka kehilangan status istimewa tersebut dengan cara spektakuler memalukan.

Sebelum duel melawan Madrid, harian Abendzeitung menuliskan "Kalian Raja!" untuk menyuntikkan moral para penggawa Bayern. Fans berduyun-duyun membanjiri Allianz Arena untuk melihat sang raja memenangkan pertempuran, sayangnya mereka pulang dengan rasa malu dan Guardiola pantas disalahkan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics