CATATAN Piala Dunia 2014: Kejutan Belanda, Kejutan Taktik Louis Van Gaal

Penampilan apik Belanda kala menghancurkan Spanyol merupakan buah manis perubahan taktik sang pelatih.

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter
Jika Anda pendukung fans Belanda, Anda terbiasa dengan kegagalan. Pertama-tama, Anda diberikan harapan besar jika tim yang Anda dukung akan tampil hebat dan salah satu kandidat unggulan juara sebuah turnamen besar. Seiring waktu berjalan, harapan itu kandas dan berbalik menjadi kekecewaan mendalam. Acap kali Belanda tersingkir akibat adu penalti misalnya, atau performa yang menukik.

Legenda Belanda yang pernah bermain untuk AC Milan, Ruud Gullit, memperingatkannya setelah Oranje sukses mempermalukan Spanyol 5-1 di Estadio Arena Fonte Nova, Salvador, Jumat (13/6) malam waktu Brasil. Tidak pernah ada juara bertahan Piala Dunia yang dipermalukan sedemikian hebat pada laga pertama mereka untuk mempertahankan gelar. Kemenangan sekaligus membalaskan rasa dendam kekalahan 1-0 melalui perpanjangan waktu yang diderita di stadion Soccer City, Johannesburg, empat tahun silam.

Di Salvador, kota yang secara harfiah berarti "juru selamat", Belanda menebus dosa. Satu gol penalti Xabi Alonso dibalas dengan sundulan akurat nan mematikan dari kapten Robin van Persie. Babak kedua sepenuhnya menjadi milik Belanda. Empat gol tambahan disarangkan dan dua di antaranya memanfaatkan kelalaian kiper sekaligus kapten Spanyol, Iker Casillas.

Tak sedikit yang awalnya meragukan perubahan formasi dan kapasitas skuat Louis van Gaal berbalik melontarkan pujian. Belanda yang awalnya diragukan justru memberi penampilan yang pantas dikenang sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Van Gaal harus berterima kasih kepada Van Persie yang menyarangkan gol balasan ke gawang Spanyol karena kalau tidak, jalan cerita bisa sangat berbeda.

"Kalau saja kami masih tertinggal 1-0 hingga babak pertama selesai, bisa saja saya berganti formasi 4-3-3 di babak kedua," ujar sang pelatih usai pertandingan.

Formasi 5-3-2 yang dimainkan Van Gaal untuk menghadapi Piala Dunia disambut keheranan. Van Gaal dianggap menyiapkan taktik anti-football atau sepakbola defensif yang dipasang untuk meredam permainan Spanyol. Belanda akan bermain negatif di Brasil.

Pada kenyataannya, formasi Van Gaal sangat cair. Inti perubahan yang diterapkan Van Gaal adalah memasang satu bek tengah ekstra serta membantu peran gelandang pengontrol sepeninggal Kevin Strootman yang absen di Brasil akibat cedera. Formasi itu bekerja dengan baik menghadapi Spanyol.

Van Gaal rupanya menjadikan uji coba melawan Ekuador dan Ghana sebagai sarana melatih taktik barunya. Para pemain "berlatih" umpan-umpan panjang dan diagonal yang akan mereka terapkan di laga pembuka turnamen. Sang pelatih bersedia pasang badan karena Belanda dianggap tidak bermain meyakinkan dalam laga uji coba tersebut dan jerih payah itu terjawab dengan indah di Salvador.

"Mustahil kami menghadapi Spanyol dengan formasi 4-3-3, formasi tradisional kami," ungkap Van Gaal.

"Itu menyebabkan dua penyerang sayap kami harus sering menutup ruang ketika full-back Spanyol membantu serangan. Mubazir."

"Saya memainkan sistem ini karena saya yakin kami tak cukup baik mengalahkan Spanyol dengan formasi 4-3-3."

Pola umpan jauh diagonal dan operan-operan mendadak yang dimainkan Belanda terbukti efektif. Dua kali Daley Blind membelah pertahanan Spanyol melalui umpan silang yang dimanfaatkan Robin van Persie dan Arjen Robben. Gol kedua Robben merupakan bukti sahih serangan mendadak yang diawali Belanda dari lini pertahanan sendiri.

Namun, itu baru pertandingan pertama dari jalan panjang mencapai Estadio do Maracana, tempat final Piala Dunia berlangsung. Mempermalukan juara bertahan tidak berarti memberikan trofi Piala Dunia ke tangan Anda. Dan, seperti yang disebutkan di awal, Belanda kerap lengah di laga menentukan.

"Saya khawatir, apakah Belanda terlalu dini berada di puncak penampilan?" risau Gullit, sambil menyembunyikan perasaan euforia berlebihan.

Dilihat sepuluh menit terakhir pertandingan melawan Spanyol, Belanda masih perlu berbenah. Sikap terlalu santai nyaris memberikan peluang bagi Spanyol untuk mencetak gol balasan. Sikap yang sama juga menyebabkan Belanda kehilangan efektivitas di lini depan.

Tapi, Gullit, untuk saat ini biarkanlah fans Belanda menenggelamkan diri dulu di Salvador dan melupakan Piala Dunia barang sejenak.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics